Categories: Bali

Aktivitas Menurun, PVMBG: Tak Ada yang Bisa Prediksi Kapan Meletus

RadarBali.com – Gunung Agung dua hari terakhir menampakkan gejala penurunan aktivitas. Terutama dari kegempaan.

Namun indikasi lain masih menandakan potensi besar untuk erupsi. Karena itu pihak vulkanologi pun mengambil kesimpulan bahwa status Gunung Agung masih awas atau level IV.

Menurut Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi  (PVMPG) Kasbani, sejak  berstatus awas, pertanyaan yang paling sering dilontarkan kepada dirinya adalah kapan gunung meletus.

Menurut Kasbani, ahli di seluruh dunia tidak ada yang tahu kapan pastinya meletus. Yang tahu hanya Tuhan Yang Maha Esa.

Namun, demikian, kata dia, para ahli bisa memprediksi berdasar parameter yang ada di puncak gunung. Semisal, berdasar rekahan dan lubang di kawah gunung.

Menurutnya, status awas karena parameter lain tidak menurun. Gempa menurun sejak 20 Oktober bukan parameter. Gempa relatif masih tinggi.  

“Bukan kami yang menentukan, tetapi Gunung Agung sendiri yang menunjukkan tanda- tanda yang kami tangkap,” ujarnya.

Kasbani menegaskan desakan magma dari bawah gunung masih yang cukup aktif. Posisi magma sementara terpantau berada di atas yakni sekitar 4 km.

Dengan kondisi ini masih relatif tinggi,  sehingga saat ini belum saatnya menurunkan status menjadi siaga.

Perlu diketahui, bahwa indikasi peningkatan aktivitas Gunung Agung sebetulnya sudah teramati sejak lama. Bukan proses singkat. 

Dalam sejarahnya, gunung pernah mengalami letusan setidaknya 5 kali (3 kali letusan dengan VEI 5, 2 kali letusan dengan VEI 2).

Berdasar pengalaman letusan 1963, jarak antara letusan pembuka ke landasan awan  panas adalah dua hari. Saat itu awan panas melanda hingga jarak 8 km dari puncak.

Ini mengindikasikan bahwa setelah letusan pembuka, letusan lebih besar dapat terjadi dengan singkat. Secara visual, kondisi kawah telah berubah signifikan pada periode krisis ini.

Dalam kondisi normal, kawah Gunung Agung tidak mengeluarkan asap. Pada periode krisis ini asap telah teramati. Intensitas asap terpantau meningkat pada periode level IV (awas).

Ketinggian embusan asap maksimum teramati pada tanggal 7 Oktober 2017 pada pukul 20:30 . Yaitu setinggi 1.500 meter di atas puncak gunung. 

Ini adalah asap tertinggi yang pernah teramati dalam periode krisis ini. Saat ini asap terpantau dengan ketinggian berkisar 100-500 meter di atas puncak.

Donny Tabelak

Share
Published by
Donny Tabelak
Tags: gunung agung

Recent Posts

Artis dan Pejabat yang Bercerai di Tahun 2025, Dari Raisa hingga Ridwan Kamil

Tahun 2025 merupakan tahun yang malang atau kelabu bagi sejumlah pasangan selebriti.

3 hari ago

Rapor Merah Mees Hilgers Bersama Timnas Indonesia, Rizky Ridho dan Justin Hubner Siap Mengkudeta

Timnas Indonesia harus menerima kekalahan telak 1-5 dari Australia dalam laga lanjutan Grup C Kualifikasi…

10 bulan ago

Menolak Menyerah, PSSI: Kesempatan Timnas Indonesia Kejar 15 Poin Masih Ada

Target 15 poin masih dibebankan oleh PSSI kepada Timnas Indonesia untuk lolos dari putaran ketiga…

1 tahun ago

SW House, Rumah Berkonsep Tropis Match dengan Warna Earthy yang Klasik

kawasan Menteng, Jakarta Pusat, SW House berdiri kokoh dengan segala keanggunannya.

2 tahun ago

Hasil Quick Count Pemilu 2024 Bisa Segera Dilihat, Ini Lembaga Survei Resmi yang Menyiarkan

Sejumlah lembaga survei bakal menggelar penghitungan cepat atau quick count Pemilu 2024

2 tahun ago

5 Cara Membersihkan Meja Granit Agar Permukaannya Tetap Mengkilap Sepanjang Hari

Granit merupakan bahan bangunan dari campuran white clay, kaolin, silika, dolomite, talc, dan feldspar yang…

2 tahun ago