Categories: Bali

Siapkan Tim Laba-Laba Pasang Ekor GKW, Ini Tantangan Paling Berat…

MANGUPURA – Terpaan angin kencang dan udara dingin menjadi tantangan yang harus ditaklukkan 200 pekerja proyek Garuda Wisnu Kencana (GWK) di Ungasan, Kuta Selatan, Badung.

Sebab, kondisi angin kencang dan suhu udara dingin yang melanda belakangan ini sangat berpengaruh pada kondisi kesehatan para pekerja.

Yup, bekerja di atas ketinggian 271 mdpl, para pekerja merasakan langsung dampak angin kencang. Para pekerja kesulitan memasang modul atau bidang yang luas karena angin terlalu kencang.

Untuk menyiasati itu, pemasangan modul harus dilakukan subuh ketika angin belum terlalu kencang. Arsitek GWK Nyoman Nuarta menyebut hal itu sebagai hambatan alam.

Diakui Nuarta, beberapa bekerja sakit karena tidak kuat menahan suhu dingin dan angin kencang.

“Anak-anak (pekerja) ada saja yang sakit. Entah itu flu, masuk angin, dan lainnya karena cuaca seperti sekarang. Tapi, semoga semua selamat sampai selesai,” ujarnya.  

Nah, di tengah cuaca yang tidak bersahabat itu para pekerja harus menyelesaikan pengerjaan bagian ekor burung garuda.

Bagian ekor burung ini menurut Nuarta merupakan bagian terberat. Bagian ekor adalah bagian tertinggi patung dengan lebar 40 meter. Posisi ekor juga menjuntai sepanjang 30 meter.

Pekerja harus menyambung bidang atau modul tembaga secara hati-hati. Hari Senin besok sudah mulai pemasangan ekor bagian depan atas.

Yang menarik, untuk penyambungan modul itu Nuarta memiliki tim khusus yang disebut tim laba-laba atau spiderman. Tim ini bergerak menyelesaikan bidang luar.

“Tim laba-laba ini harus punya nyali dan posisinya harus prima,” ungkapnya. Para pekerja juga harus memasang pipa khusus untuk memperkuat bagian sayap burung supaya tahan terhadap embusan angin kencang.

Ditanya progress pemasangan saat ini, Nuarta memperkirakan sekitar 91 persen. Hal itu sesuai dengan pemasangan kulit patung.

Dari luas total kulit patung 2,5 hektare 25.000 meter persegi, masih kurang 1.500 meter yang belum terpasang.

Tantangan lain yaitu kecepatan angin rata-rata 12 km/jam. Sementara crane atau alat yang digunakan memasang modul tidak bisa beroperasi lebih dari 10 km/jam.

Ketika melebihi 10 km/jam, maka crane otomatis berhenti. “Makanya menaikkan modul harus subuh-subuh. Kalau tidak angin sudah kencang,” beber pria 66 tahun itu.

Saat ditanya Oktober nanti hajatan pertemuan negara-negara anggota IMF dan World Bank di Nusa Dua akan menggunakan GWK, Nuarta menjawanya dengan nada datar.

“GWK sudah tidak milik saya lagi. Mungkin, Oktober mau buat acara IMF saya tidak diperlukan lagi,” pungkasnya.

Donny Tabelak

Share
Published by
Donny Tabelak

Recent Posts

Artis dan Pejabat yang Bercerai di Tahun 2025, Dari Raisa hingga Ridwan Kamil

Tahun 2025 merupakan tahun yang malang atau kelabu bagi sejumlah pasangan selebriti.

3 hari ago

Rapor Merah Mees Hilgers Bersama Timnas Indonesia, Rizky Ridho dan Justin Hubner Siap Mengkudeta

Timnas Indonesia harus menerima kekalahan telak 1-5 dari Australia dalam laga lanjutan Grup C Kualifikasi…

10 bulan ago

Menolak Menyerah, PSSI: Kesempatan Timnas Indonesia Kejar 15 Poin Masih Ada

Target 15 poin masih dibebankan oleh PSSI kepada Timnas Indonesia untuk lolos dari putaran ketiga…

1 tahun ago

SW House, Rumah Berkonsep Tropis Match dengan Warna Earthy yang Klasik

kawasan Menteng, Jakarta Pusat, SW House berdiri kokoh dengan segala keanggunannya.

2 tahun ago

Hasil Quick Count Pemilu 2024 Bisa Segera Dilihat, Ini Lembaga Survei Resmi yang Menyiarkan

Sejumlah lembaga survei bakal menggelar penghitungan cepat atau quick count Pemilu 2024

2 tahun ago

5 Cara Membersihkan Meja Granit Agar Permukaannya Tetap Mengkilap Sepanjang Hari

Granit merupakan bahan bangunan dari campuran white clay, kaolin, silika, dolomite, talc, dan feldspar yang…

2 tahun ago