Categories: Bali

Ucapan Hari Raya Nyepi di Jembrana Dipermasalahkan, Ini Pemicunya…

NEGARA – Jelang hari raya Nyepi, banyak bermunculan ucapan selamat hari raya Nyepi dalam bentuk baliho maupun spanduk.

Namun, ada salah satu ucapan yang menjadi sorotan karena menggunakan bahasa asing, yakni menggunakan bahasa Inggris Happy Silent Day Caka 1941. 

Penggunaan bahasa asing tersebut dinilai tidak pantas karena yang mengucapkan atas nama Sekaha Teruna – Teruni (STT).

Semestinya, ucapan disampaikan dengan bahasa Bali sebagai bentuk pelestarian budaya. Sorotan penggunaan bahasa asing

tersebut disampaikan Ketua PHDI Jembrana Komang Arsana yang mengatakan penggunaan bahasa asing untuk hari Raya Nyepi dari segi konteks tidak benar.

Jadi, semestinya menggunakan bahasa ibu atau bahasa Bali sebagai salah satu bentuk menghargai dan melestarikan bahasa Bali.

“Tidak pada tempatnya ucapan itu. Kalau tidak pakai bahasa Bali pakai bahasa Indonesia,” ujar Komang Arsana.

Arsana mengaku tidak alergi dengan penggunaan bahasa asing. Penguasaan bahasa asing oleh generasi muda justru harus didukung, akan tetapi harus mengetahui konteks penggunaannya.

Disamping itu, ada beberapa kata dalam bahasa Bali yang memang tidak boleh diganti atau dialihkan. Karena dikhawatirkan nantinya generasi muda sudah tidak mau menggunakan bahasa Bali.

“Penggunaan bahasa asing itu, harus sesuai konteks. Karena ucapan hari raya Nyepi, yang mengucapkan juga krama sendiri, lebih baik pakai bahasa Bali,” ungkapnya.

Ketua Karang Taruna Jembrana I Ketut Arya Tangkas dalam kesempatan itu menambahkan, mengenai penggunaan bahasa asing dalam baliho ucapan Nyepi akan dikoordinasikan dengan STT Eka Cita yang membuat baliho.

Menurutnya, penggunaan bahasa asing untuk ucapan Nyepi oleh STT memang tidak pada konteksnya. “Nanti akan kami koordinasikan dengan STT yang memasang,” ujarnya.

Terpisah Ketua STT Eka Cita Banjar Menega I Gede Nuharta Negara mengatakan, mengenai baliho dengan bahasa Inggris untuk

ucapan selamat Nyepi merupakan kreativitas dari anggota STT dengan tujuan baliho lebih menarik dan unik, tidak berpatokan pada satu desain.

“Kalau dinilai kurang tepat, nanti akan kami koordinasikan lagi dengan teman-teman,” ujarnya.

Menurutnya, kalau sorotan dari PHDI sebagai bentuk pelestarian bahasa Bali akan menerima kritiknya dan sarannya.

“Kami akan berkoordinasi dulu dengan PHDI untuk mencari solusi bagaimana sebaiknya,” tandasnya. 

Donny Tabelak

Share
Published by
Donny Tabelak

Recent Posts

Artis dan Pejabat yang Bercerai di Tahun 2025, Dari Raisa hingga Ridwan Kamil

Tahun 2025 merupakan tahun yang malang atau kelabu bagi sejumlah pasangan selebriti.

3 hari ago

Rapor Merah Mees Hilgers Bersama Timnas Indonesia, Rizky Ridho dan Justin Hubner Siap Mengkudeta

Timnas Indonesia harus menerima kekalahan telak 1-5 dari Australia dalam laga lanjutan Grup C Kualifikasi…

10 bulan ago

Menolak Menyerah, PSSI: Kesempatan Timnas Indonesia Kejar 15 Poin Masih Ada

Target 15 poin masih dibebankan oleh PSSI kepada Timnas Indonesia untuk lolos dari putaran ketiga…

1 tahun ago

SW House, Rumah Berkonsep Tropis Match dengan Warna Earthy yang Klasik

kawasan Menteng, Jakarta Pusat, SW House berdiri kokoh dengan segala keanggunannya.

2 tahun ago

Hasil Quick Count Pemilu 2024 Bisa Segera Dilihat, Ini Lembaga Survei Resmi yang Menyiarkan

Sejumlah lembaga survei bakal menggelar penghitungan cepat atau quick count Pemilu 2024

2 tahun ago

5 Cara Membersihkan Meja Granit Agar Permukaannya Tetap Mengkilap Sepanjang Hari

Granit merupakan bahan bangunan dari campuran white clay, kaolin, silika, dolomite, talc, dan feldspar yang…

2 tahun ago