Categories: Bali

Usai PBB, Giliran Tarif PDAM di Buleleng Akan Naik Per 1 Juni 2019

SINGARAJA – Satu persatu tarif layanan di Kabupaten Buleleng naik.

 

Setelah sebelumnya tarif parkir khusus serta pajak bumi dan bangunan yang mengalami kenaikan, kini giliran tarif air minum di PDAM Buleleng yang merangkak naik.

 

Kepastian kenaikan tarif air minum itu disampaikan Dirut PDAM Buleleng I Made Lestariana.

 

Tarif air minum yang tadinya Rp 2.130 per kubik, kini akan naik menjadi Rp 2.340 per kubik.

 

“Efektif berlaku mulai 1 Juni 2019,” kata Lestariana kemarin (23/5).

 

Menurutnya kenaikan tarif air minum itu merupakan dampak dari peningkatan biaya operasional serta pemeliharaan.

 

Selain itu perusahaan juga harus menjaga eksistensi, agar tak sampai merugi.

 

Lestariana menyebut selama ini perusahaan mengandalkan sistem perpompaan dengan biaya listrik yang cukup tinggi.

 

Dengan kapasitas produksi 746 liter/per detik, PDAM Buleleng harus membayar listrik sebesar Rp 957,9 per bulan. Pada 2017 lalu, beban listrik hanya sebesar Rp 906,5 juta per bulan.

 

Sebagai kompensasi atas kenaikan itu, Lestariana menyatakan PDAM Buleleng telah mengeluarkan maklumat pelayanan.

 

Dalam artian PDAM Buleleng harus meningkatkan kualitas layanan. Terutama saat melakukan pemeliharaan dan perbaikan jaringan.

 

Meski mengalami kenaikan tarif, Lestariana mengklaim kenaikan tarif itu masih dalam batas normal.

 

Dengan asumsi konsumsi air rumah tangga sebanyak 18 kubik per bulan, maka biaya yang dikeluarkan mencapai Rp 72.920.

 

 Sementara standar asas keterjangkauan, jika mengacu pada UMK Buleleng, mencapai Rp 93.554 per bulan.

Pada tahun-tahun mendatang, PDAM Buleleng pun tak menutup kemungkinan akan melakukan penyesuaian tarif kembali.

 

Menurut Lestariana penyesuaian tarif sudah diatur secara tegas dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) 71 Tahun 2016 tentang Perhitungan dan Penetapan Tarif Air Minum.

 

Dalam aturan itu, PDAM harus mengelola tarif dengan prinsip full cost recovery. Artinya tarif yang dikelola harus sesuai dengan break event point (BEP) perusahaan, ditambah maksimal 10 persen margin keuntungan.

 

“Tapi selama ini kami sudah mengelola sesuai prinsip full cost recovery,” tegasnya.

 

Seperti diketahui, saat ini jumlah pelanggan di PDAM Buleleng mencapai 52.380 sambungan.

 

Sebanyak 46.230 sambungan diantaranya adalah pelanggan rumah tangga.

 

Pada 2018 lalu, PDAM Buleleng mengklaim mengantongi laba bersih sebesar Rp 9,4 miliar.

 

Sebanyak Rp 5 miliar diantaranya disetorkan pada pemerintah daerah sebagai pendapatan asli daerah.

Donny Tabelak

Share
Published by
Donny Tabelak

Recent Posts

Artis dan Pejabat yang Bercerai di Tahun 2025, Dari Raisa hingga Ridwan Kamil

Tahun 2025 merupakan tahun yang malang atau kelabu bagi sejumlah pasangan selebriti.

4 hari ago

Rapor Merah Mees Hilgers Bersama Timnas Indonesia, Rizky Ridho dan Justin Hubner Siap Mengkudeta

Timnas Indonesia harus menerima kekalahan telak 1-5 dari Australia dalam laga lanjutan Grup C Kualifikasi…

10 bulan ago

Menolak Menyerah, PSSI: Kesempatan Timnas Indonesia Kejar 15 Poin Masih Ada

Target 15 poin masih dibebankan oleh PSSI kepada Timnas Indonesia untuk lolos dari putaran ketiga…

1 tahun ago

SW House, Rumah Berkonsep Tropis Match dengan Warna Earthy yang Klasik

kawasan Menteng, Jakarta Pusat, SW House berdiri kokoh dengan segala keanggunannya.

2 tahun ago

Hasil Quick Count Pemilu 2024 Bisa Segera Dilihat, Ini Lembaga Survei Resmi yang Menyiarkan

Sejumlah lembaga survei bakal menggelar penghitungan cepat atau quick count Pemilu 2024

2 tahun ago

5 Cara Membersihkan Meja Granit Agar Permukaannya Tetap Mengkilap Sepanjang Hari

Granit merupakan bahan bangunan dari campuran white clay, kaolin, silika, dolomite, talc, dan feldspar yang…

2 tahun ago