Categories: Bali

Sejumlah Sekolah Lakukan MPLS “Offline”, Disdik Berdalih Sulit Sinyal

SINGARAJA – Proses Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Kabupaten Buleleng, tak seluruhnya dilakukan secara online.

Beberapa sekolah pilih melakukan MPLS dengan proses offline. Materi-materi yang diberikan saat MPLS, dikirimkan dalam bentuk tertulis dan wajib dipelajari.

Saat ini sejumlah sekolah di Buleleng memang belum bisa mengakses jaringan internet secara memadai. Warga yang tinggal di kawasan pedesaan, juga kerap kesulitan mendapat sinyal internet.

Di Desa Pedawa misalnya, sinyal internet sulit dijumpai. Hanya di lokasi-lokasi tertentu saja terdapat sinyal internet.

Pun demikian di Desa Sepang Kelod, Kecamatan Busungbiu. Jaringan internet cukup sulit diakses di lokasi ini. Internet hanya tersedia di beberapa lokasi.

Plt. Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Buleleng Made Astika mengatakan, MPLS offline bukan berarti MPLS dilakukan secara tatap muka.

MPLS tetap dilakukan offline dengan tetap memperhatikan prinsip social distancing. “Siswa yang tidak punya ponsel atau yang susah sinyal. Mereka dikumpulkan di sekolah.

Bukan berarti tatap muka. Jumlahnya sedikit. Dikelompokkan beberapa orang, tetap social distancing, diberikan materi untuk MPLS,” kata Astika.

Di SMPN 3 Busungbiu misalnya. Sekolah yang terletak di Desa Sepang ini, dikenal sebagai kawasan yang sulit sinyal. Satu-satunya sinyal internet yang mumpuni, berada di areal sekolah. Itu pun masih sangat terbatas.

“Akhirnya dikelompokkan. Ada 20 orang yang harus datang ke sekolah. Mereka memanfaatkan fasilitas yang ada di sekolah.

Di sana kan sinyal susah sekali, makanya dilakukan MPLS di luar jaringan. Di daerah sana kan hanya di sekolah saja sinyal internetnya bagus,” jelasnya lagi.

Permasalahan itu tak hanya terjadi di wilayah pedesaan. Namun juga di wilayah perkotaan. Di SMPN 6 Singaraja misalnya.

Ada 15 orang siswa yang tak bisa mengikuti MPLS online. Penyebabnya siswa-siswa itu orang tuanya tak memiliki fasilitas berupa android.

Solusinya sekolah membentuk kelompok. Setiap kelompok beranggotakan 5 orang siswa. Mereka kemudian didampingi guru untuk mengikuti MPLS online.

“Kita harus fleksibel. Karena kondisi wilayah dan kemampuan orang tua kan berbeda-beda. Kalau daerah gampang sinyal, orang tua ada fasilitas kan nggak masalah.

Nah yang tidak punya fasilitas dan di daerah susah sinyal, itu harus dicarikan jalan keluar. Makanya kami lakukan penyesuaian. Bagaimana caranya MPLS tetap jalan, protokol kesehatan juga terpenuhi,” demikian Astika. 

Donny Tabelak

Share
Published by
Donny Tabelak

Recent Posts

Artis dan Pejabat yang Bercerai di Tahun 2025, Dari Raisa hingga Ridwan Kamil

Tahun 2025 merupakan tahun yang malang atau kelabu bagi sejumlah pasangan selebriti.

3 hari ago

Rapor Merah Mees Hilgers Bersama Timnas Indonesia, Rizky Ridho dan Justin Hubner Siap Mengkudeta

Timnas Indonesia harus menerima kekalahan telak 1-5 dari Australia dalam laga lanjutan Grup C Kualifikasi…

10 bulan ago

Menolak Menyerah, PSSI: Kesempatan Timnas Indonesia Kejar 15 Poin Masih Ada

Target 15 poin masih dibebankan oleh PSSI kepada Timnas Indonesia untuk lolos dari putaran ketiga…

1 tahun ago

SW House, Rumah Berkonsep Tropis Match dengan Warna Earthy yang Klasik

kawasan Menteng, Jakarta Pusat, SW House berdiri kokoh dengan segala keanggunannya.

2 tahun ago

Hasil Quick Count Pemilu 2024 Bisa Segera Dilihat, Ini Lembaga Survei Resmi yang Menyiarkan

Sejumlah lembaga survei bakal menggelar penghitungan cepat atau quick count Pemilu 2024

2 tahun ago

5 Cara Membersihkan Meja Granit Agar Permukaannya Tetap Mengkilap Sepanjang Hari

Granit merupakan bahan bangunan dari campuran white clay, kaolin, silika, dolomite, talc, dan feldspar yang…

2 tahun ago