Categories: Bali

Tiga Tradisi asal Buleleng Diusulkan Jadi Warisan Budaya

SINGARAJA – Sebanyak tiga jenis tradisi di Kabupaten Buleleng, diusulkan menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) nasional. Pengajuan usulan itu disampaikan pada forum Sidang Penetapan WBTB yang dilangsungkan secara daring. Untuk usulan dari Provinsi Bali, disampaikan dalam sidang penetapan yang berlangsung pada Rabu (7/10) siang.

Sebenarnya pada tahun ini Dinas Kebudayaan Buleleng mengusulkan lima jenis tradisi maupun kebudayaan tak benda, agar dapat diajukan sebagai WBTB nasional. Tradisi maupun kebudayaan itu yakni tradisi lukis wayang kaca di Desa Nagasepaha, ngusaba bukakak di Desa Adat Sangsih Dangin Yeh, tradisi megoak-goakan di Desa Panji, kesenian gambuh di Desa Bungkulan, dan permainan tradisional megangsing di Desa Gobleg.

Namun dari kelima jenis tradisi dan kebudayaan  itu, hanya tiga saja yang dinyatakan memenuhi syarat. Yakni ngusaba bukakak Desa Adat Sangsit Dangin Yeh, teknik lukis wayang kaca Desa Nagasepaha, dan tradisi megoak-goakan Desa Panji.

“Sisa yang lagi dua masih ada beberapa catatan yang harus dipenuhi. Ini akan kami lengkapi lagi kajiannya. Supaya tahun depan bisa diajukan sebagai WBTB nasional,” kata Kepala Dinas Kebudayaan Buleleng, Gede Dody Sukma Oktiva Askara, saat ditemui sore kemarin.

Lebih lanjut Dody mengungkapkan, dari tiga usulan yang disampaikan oleh Disbud Buleleng, ada beberapa catatan yang disampaikan oleh Tim Ahli WBTB Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Diantaranya adalah soal penamaan.

Menurut Dody, lukis wayang kaca Nagasepaha tadinya diajukan dengan nama Lukisan Wayang Kaca Desa Nagasepaha. “Masukan tim ahli, agar penamaan lebih mengarah pada ide dan teknik melukis. Kalau lukisan itu mengarah benda. Sedangkan kalau lukis, itu mengarah pada teknik. Memang yang nantinya akan dilindungi adalah teknik melukisnya,” imbuh Dody.

Sementara itu Perbekel Panji Made Mangku Ariawan mengatakan, usulan megoak-goakan sebagai WBTB nasional sejalan dengan harapan masyarakat setempat. Tradisi megoak-goakan, kata Ariawan, sudah berlangsung setidaknya selama 4 abad terakhir. Tradisi itu merupakan budaya yang diwariskan oleh Raja Buleleng pertama, Ki Barak Panji Sakti.

“Memang ini yang jadi harapan kami. Warisan pendiri Buleleng, ditetapkan sebagai budaya nasional. Sehingga upaya pelestarian bisa dilakukan dengan lebih masif lagi. Karena dengan adanya penetapan ini, konsekuensi kedepan ialah dukungan terhadap proses pelestarian dan program pengembangan,” tegasnya.

Kini Disbud Buleleng masih menanti kepastian penetapan tersebut. Rencananya penetapan akan dilakukan melalui sidang pleno Tim Ahli WBTB Kemendikbud, yang akan dilaksanakan pada Jumat (9/10) esok.

Donny Tabelak

Share
Published by
Donny Tabelak

Recent Posts

Artis dan Pejabat yang Bercerai di Tahun 2025, Dari Raisa hingga Ridwan Kamil

Tahun 2025 merupakan tahun yang malang atau kelabu bagi sejumlah pasangan selebriti.

3 hari ago

Rapor Merah Mees Hilgers Bersama Timnas Indonesia, Rizky Ridho dan Justin Hubner Siap Mengkudeta

Timnas Indonesia harus menerima kekalahan telak 1-5 dari Australia dalam laga lanjutan Grup C Kualifikasi…

10 bulan ago

Menolak Menyerah, PSSI: Kesempatan Timnas Indonesia Kejar 15 Poin Masih Ada

Target 15 poin masih dibebankan oleh PSSI kepada Timnas Indonesia untuk lolos dari putaran ketiga…

1 tahun ago

SW House, Rumah Berkonsep Tropis Match dengan Warna Earthy yang Klasik

kawasan Menteng, Jakarta Pusat, SW House berdiri kokoh dengan segala keanggunannya.

2 tahun ago

Hasil Quick Count Pemilu 2024 Bisa Segera Dilihat, Ini Lembaga Survei Resmi yang Menyiarkan

Sejumlah lembaga survei bakal menggelar penghitungan cepat atau quick count Pemilu 2024

2 tahun ago

5 Cara Membersihkan Meja Granit Agar Permukaannya Tetap Mengkilap Sepanjang Hari

Granit merupakan bahan bangunan dari campuran white clay, kaolin, silika, dolomite, talc, dan feldspar yang…

2 tahun ago