Categories: Bali

Kulkul Dibunyikan, Warga Desa Suwat Perang Air

 

GIANYAR- Mengawali tahun 2022, masyarakat Desa Suwat, Kecamatan Gianyar menggelar festival Siat Yeh atau perang air pada Sabtu (1/1). Festival berlangsung di perempatan desa. Warga tampak semangat dan antusias.

 

Festival kali ini terasa spesial. Sebab bertepatan dengan hari Siwaratri. Hari saat umat Hindu memuja Dewa Siwa. Hari merenungi laku diri untuk menapak langkah menjadi lebih baik dari sebelumnya.

 

Festival dimulai dengan dibunyikannya kulkul desa. Kemudian warga desa berdatangan. Mereka berkumpul di perempatan desa. Kemudian dilakukan persembahyangan yang dipimpin sejumlah Pemangku di catus pata atau perempatan desa adat. Sedangkan krama duduk tersebar di empat penjuru arah.

 

Usai sembahyang, Siat Yeh dimulai. Satu sama lain saling menyiram menggunakan gayung warna warni. Tawa terdengar di antara hiruk gamelan dan lemparan cipratan guyuran air.

 

Bendesa Adat Suwat, Ngakan Putu Sudibya mengatakan, festival tahun ini dimaknai sebagai momentum bangkitnya Bali setelah nyaris dua tahun dilanda pandemi Covid-19. “Kami berharap, pariwisata segera pulih dan aktivitas kembali seperti sediakala. Sudah saatnya kita keluar dari kungkungan dan ketakutan berlebihan, namun tanpa mengabaikan kewaspadaan (protokol kesehatan, Red),” ujar Ngakan Sudibya.

 

Festival Siat Yeh ke-7 ini dimaknainya sebagai momentum membangun visi desa adat 2024 menuju destinasi wisata air. “Beberapa tahapan sudah dilalui, baik dari perencanaan, penataan, hingga terwujudnya desa yang memiliki objek wisata,” ungkapnya.

 

Selama ini, untuk menyokong pariwisata, desa Suwat sudah memiliki objek wisata Suwat Waterfall atau air terjun. Kemudian wisata spiritual berupa pemandian suci pangelukatan Siwa Melahangge. Tak sampai di sana, akan ada rencana selanjutnya yang perlu direalisasikan untuk membangun kemandirian ekonomi desa. 

 

“Desa Adat Suwat berusaha membangun kekuatan ekonomi berbasis desa adat. Kami telah membuat usaha yang berkaitan dengan air,” ungkapnya. Ke depan, pihaknya berusaha mengarah ke usaha kuliner. “Kami berharap bisa kami wujudkan dan tentu atas dukungan semua,” jelasnya.

 

Sudibya menambahkan, setiap desa adat pasti memiliki potensi yang bisa digali. Jika masing-masing desa mampu menggarap sektor tersebut, maka akan ada pemerataan pariwisata untuk kesejahteraan bersama. “Sejatinya desa adat saling punya potensi. Ini peluang besar namun belum tergarap. Kalau mampu digarap maka, saya yakin kita bisa mandiri secara ekonomi,” pungkasnya. 

Donny Tabelak

Share
Published by
Donny Tabelak

Recent Posts

Artis dan Pejabat yang Bercerai di Tahun 2025, Dari Raisa hingga Ridwan Kamil

Tahun 2025 merupakan tahun yang malang atau kelabu bagi sejumlah pasangan selebriti.

4 bulan ago

Rapor Merah Mees Hilgers Bersama Timnas Indonesia, Rizky Ridho dan Justin Hubner Siap Mengkudeta

Timnas Indonesia harus menerima kekalahan telak 1-5 dari Australia dalam laga lanjutan Grup C Kualifikasi…

1 tahun ago

Menolak Menyerah, PSSI: Kesempatan Timnas Indonesia Kejar 15 Poin Masih Ada

Target 15 poin masih dibebankan oleh PSSI kepada Timnas Indonesia untuk lolos dari putaran ketiga…

2 tahun ago

SW House, Rumah Berkonsep Tropis Match dengan Warna Earthy yang Klasik

kawasan Menteng, Jakarta Pusat, SW House berdiri kokoh dengan segala keanggunannya.

2 tahun ago

Hasil Quick Count Pemilu 2024 Bisa Segera Dilihat, Ini Lembaga Survei Resmi yang Menyiarkan

Sejumlah lembaga survei bakal menggelar penghitungan cepat atau quick count Pemilu 2024

2 tahun ago

5 Cara Membersihkan Meja Granit Agar Permukaannya Tetap Mengkilap Sepanjang Hari

Granit merupakan bahan bangunan dari campuran white clay, kaolin, silika, dolomite, talc, dan feldspar yang…

2 tahun ago