Categories: Denpasar & Badung

Penilaian Ogoh-Ogoh Dikebut, Yayasan Gases Kirim Hingga Luar Bali

DENPASAR – Penilaian ogoh-ogoh di Kota Denpasar oleh Dinas Kebudayaan terus dikebut. Dalam kurun waktu dua hari Disbud sudah menilai ogoh-ogoh di Kecamatan Denpasar Utara sebanyak 48 seka teruna-teruni (STT) dan Denpasar Selatan 38 STT.

Kamis hari ini tim Disbud melakukan penilaian di Denpasar Selatan 38 STT serta terakhir di Denpasar Timur 58 STT. 

“Penilaian sampai 9 Maret. Setelah itu kami rekap dan segera umumkan,” jelas Kepala Disbud Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Mataram.

Menurutnya, Disbud akan mencari delapan ogoh-ogoh terbaik di masing-masing kecamatan. Delapan ogoh-ogoh itu selanjutnya diserahkan desa pekraman setempat untuk mengatur prosesi saat parade.

Disbud juga memberikan bantuan pembinaan masing-masing Rp 10 juta.  Di lain sisi, salah satu tempat yang konsisten membuat Ogoh-ogoh adalah Yayasan Gases Bali di Sesetan, Denpasar Selatan, masih tetap aktif membuat ogoh-ogoh meski tidak dinilai. 

Kadek Adi Indrayana, Ketua Yayasan Gases Bali, menjelaskan, ogoh-ogoh sudah ada sejak 1990-an. Tapi, mulai booming dan dikomersialkan pada 1995 hingga 2000.

Waktu itu belum banyak bisa menjual ogoh-ogoh. “Harga Ogoh-ogoh yang termurah dari Rp 1 juta, termahal hingga Rp 30 juta.

Order masuk mulai Januari. Permintaan dari dalam Bali, Lombok, Jakarta hingga Ujung Pandang,” jelas Indrayana.

Terkait makna ogoh-ogoh, Indrayana menjelaskan definisi Ogoh-ogoh berarti ogah-ogah atau sesuatu yang dapat digoyang-goyangkan.

Karena berkaitan dengan Nyepi, Ogoh-ogoh dibuat berwujud bhuta kala, atau hal-hal yang menyeramkan seperti raksasa atau roh jahat. Karena diperuntukkan bhuta kala, maka bentuknya dibuat seram.

Kaitannya diperuntukkan roh-roh jahat yang nantinya di-somya menjadi baik, menjadi suci, menjadi sinar.

Saat mengusir raksasa maka yang dipakai harus berbentuk raksasa. “Kalau pakai wanita cantik mengusir kan raksasanya tidak mau pergi,” seloroh putra mendiang Jero Mangku Wayan Candra, salah satu tokoh seniman kondang pembuat ogoh-ogoh di Bali.

Namun, belakangan bentuk Ogoh-ogoh mengalami evolusi. Banyak yang membuat Ogoh-ogoh mengambil tokoh pewayangan.

Ditambahkan, tinggi Ogoh-ogoh normal 2 – 3 meter, kalau terlalu tinggi terbentur pohon dan kabel listrik.

Donny Tabelak

Share
Published by
Donny Tabelak

Recent Posts

Artis dan Pejabat yang Bercerai di Tahun 2025, Dari Raisa hingga Ridwan Kamil

Tahun 2025 merupakan tahun yang malang atau kelabu bagi sejumlah pasangan selebriti.

1 minggu ago

Rapor Merah Mees Hilgers Bersama Timnas Indonesia, Rizky Ridho dan Justin Hubner Siap Mengkudeta

Timnas Indonesia harus menerima kekalahan telak 1-5 dari Australia dalam laga lanjutan Grup C Kualifikasi…

10 bulan ago

Menolak Menyerah, PSSI: Kesempatan Timnas Indonesia Kejar 15 Poin Masih Ada

Target 15 poin masih dibebankan oleh PSSI kepada Timnas Indonesia untuk lolos dari putaran ketiga…

1 tahun ago

SW House, Rumah Berkonsep Tropis Match dengan Warna Earthy yang Klasik

kawasan Menteng, Jakarta Pusat, SW House berdiri kokoh dengan segala keanggunannya.

2 tahun ago

Hasil Quick Count Pemilu 2024 Bisa Segera Dilihat, Ini Lembaga Survei Resmi yang Menyiarkan

Sejumlah lembaga survei bakal menggelar penghitungan cepat atau quick count Pemilu 2024

2 tahun ago

5 Cara Membersihkan Meja Granit Agar Permukaannya Tetap Mengkilap Sepanjang Hari

Granit merupakan bahan bangunan dari campuran white clay, kaolin, silika, dolomite, talc, dan feldspar yang…

2 tahun ago