Categories: Denpasar & Badung

Mahasiswa Dipukul Secara Brutal, LBH: Pelakunya Aparat, Bukan Pecalang

DENPASAR – Tindakan aparat yang melakukan pemukulan secara brutal terhadap massa aksi demontrasi damai memperingati

“22 Tahun Tragedi Biak Berdarah, 6 Juli 1998″ yang digelar Aliansi Mahasiswa Papua Bali (AMP-KKB) Senin kemarin di bundaran Renon berujung tuntutan serius.

Pihak AMP-KKB melalui Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bali menuntut agar aparat yang melakukan pemukulan terhadap sejumlah massa aksi tersebut diberi sanksi disiplin.

“Mereka menuntut supaya polisi dan pemerintah memberi tindakan disiplin dan tegas kepada aparatnya,” ujar Ni Kadek Vany Primaliraning, Ketua LBH Bali pada Selasa (7/6).

Kondisi korban massa aksi kini dikatakan Vany sedang syok akibat pemukulan yang dilakukan secara berutakn oleh aparat.

“Mereka bukan pecalang dan juga ormas. Tetapi aparat berpakaian seragam,” sebutnya. Apakah akan melakukan pelaporan?

“Tanpa laporan pun bisa mereka melakukan tindakan disiplin kepada aparatnya. Tapi, kalau nggak bisa, saya akan koordinasi lagi dengan kawan-kawan,” jawabnya. 

Setidaknya ada enam orang mahasiswa Papua yang mengalami luka robek Hingg memar akibat insiden itu. Hal itu diungkap Jeeno selaku Ketua AMP Komite Bali saat ditemui di LBH Bali. “Ada sekitar enam orang kawan kami yang mengalami luka. Ada yang dahinya luka, ada juga yang bibirnya pecah. Ada juga yang bajunya sobek akibat ditarik dan seret secara kasar, hingga ada yang kakinya diinjak” terangnya.
Saat itu bermula saat aksi massa baru berlangsung sekitar 5 menit. Saat itu polisi sudah menyuruh aksi damai itu bubar. Saat itu juga ada tiga orang yang langsung diseret menuju mobil Dalmas. Namun pihak aksi mencoba bernegosiasi dengan polisi agar tiga kawan mereka dilepas. Namun saat akan melakukan proses negosiasi, dari arah belakang, mobil water Canon langsung menyemprotkan air dengan tekanan tinggi ke arah massa. 
“Jaraknya tidak terlalu jauh, dengan kecepatan air yang kencang. Itu mengarah langsung ke kami. Bahkan kami susah bernapas. Ada yang terjatuh dan terbanting ke parit dan mengenai motor di parkiran. Itu berlangsung sekitar dua menit. Peralatan aksi kami diambil semua. Selebaran, spanduk hingga toa kami juga dirusak. Sehingga setelah itu kami sepakat untuk membacakan sikap kami dan akhirnya kami membubarkan diri,” terang Jeeno. 
Terkait kedatangan pihak AMP, Ni Putu Candra Dewi, Kabid Internal LBH bali mengatakan bahwa pihak LBH Bali belum bisa menentukan langkah. Pihaknya masih perlu melakukan perundingan terlebih dahulu. “Kami perlu berunding lebih lanjut dengan kawan-kawan Aliansi Mahasiswa Papua untuk bisa sama-sama menentukan langkah apa yang diambil,” tandasnya.

Donny Tabelak

Share
Published by
Donny Tabelak

Recent Posts

Artis dan Pejabat yang Bercerai di Tahun 2025, Dari Raisa hingga Ridwan Kamil

Tahun 2025 merupakan tahun yang malang atau kelabu bagi sejumlah pasangan selebriti.

4 bulan ago

Rapor Merah Mees Hilgers Bersama Timnas Indonesia, Rizky Ridho dan Justin Hubner Siap Mengkudeta

Timnas Indonesia harus menerima kekalahan telak 1-5 dari Australia dalam laga lanjutan Grup C Kualifikasi…

1 tahun ago

Menolak Menyerah, PSSI: Kesempatan Timnas Indonesia Kejar 15 Poin Masih Ada

Target 15 poin masih dibebankan oleh PSSI kepada Timnas Indonesia untuk lolos dari putaran ketiga…

2 tahun ago

SW House, Rumah Berkonsep Tropis Match dengan Warna Earthy yang Klasik

kawasan Menteng, Jakarta Pusat, SW House berdiri kokoh dengan segala keanggunannya.

2 tahun ago

Hasil Quick Count Pemilu 2024 Bisa Segera Dilihat, Ini Lembaga Survei Resmi yang Menyiarkan

Sejumlah lembaga survei bakal menggelar penghitungan cepat atau quick count Pemilu 2024

2 tahun ago

5 Cara Membersihkan Meja Granit Agar Permukaannya Tetap Mengkilap Sepanjang Hari

Granit merupakan bahan bangunan dari campuran white clay, kaolin, silika, dolomite, talc, dan feldspar yang…

2 tahun ago