Categories: Ekonomi

Musim Panen, Kesulitan Cari Buruh Petik Cengkih, Petani Merugi

SINGARAJA – Musim panen cengkih tahun ini rupanya berlangsung cukup panjang. Tahun ini diprediksi menjadi tahun panen raya cengkih di Kabupaten Buleleng.

Saking lebatnya bunga cengkih yang tumbuh, tahun ini petani cengkih kesulitan mencari buruh petik cengkih di lokal Bali.

Sejak sebulan terakhir banyak petani yang mencari buruh petik dari luar Bali. Baik itu dari Lombok maupun dari Jawa Timur.

Penyebabnya, musim cengkih akan berakhir dalam hitungan hari. Diprediksi dalam tiga pekan mendatang, musim panen cengkih sudah berakhir karena musim penghujan sudah akan datang.

Sejumlah petani mengaku kesulitan mencari buruh petik bunga cengkih. Saking sulitnya mencari buruh, bunga cengkih pun tumbuh menjadi tunas.

Jika sudah begitu, petani pun tak bisa memetik bunga tersebut. Bunga itu harus dibiarkan menjadi tunas dan dijual sebagai bibit cengkih, sehingga memiliki nilai jual.

“Banyak bunga cengkih saya yang akhirnya tidak bisa dipetik. Karena tidak dapat buruh petik. Akhirnya cari buruh dari luar Bali,” ujar Putra Ariana, petani cengkih asal Desa Bengkel, Busungbiu.

Menurutnya, petani kini berani membayar dengan upah yang relatif mahal. Buruh kini tak lagi dibayar dengan upah harian.

Melainkan dibayar sesuai dengan jumlah bunga yang dipetik. Setiap kilogram bunga yang dipetik, buruh akan mendapat upah Rp 5.000 hingga Rp 6.000.

“Sistem itu lebih berkeadilan, baik bagi petani maupun buruh. Kalau dibayar per kilogram, rata-rata buruh petik itu bisa dapat 40 kilogram malah 50 kilogram per hari.

Tapi kalau dibayar harian Rp 150 ribu, dapatnya cuma 25 kilogram. Paling banyak 30 kilogram,” imbuh Putra.

Sementara itu Kepala Dinas Pertanian Buleleng Nyoman Genep mengatakan, tahun ini memang jadi masa panen raya bagi petani cengkih di Buleleng.

Ia berharap tahun ini petani merengkuh laba yang cukup banyak. Mengingat tahun lalu mereka gagal panen. Sama sekali tak mendapatkan hasil.

Menurut Genep, tahun lalu panen cengkih di Buleleng hanya mencapai 250 ton per tahun. Beda dengan tahun 2016 lalu yang mencapai 6 ribu ton per tahun.

“Tahun ini mudah-mudahan bisa lebih tinggi dari produksi tahun 2016. Karena kalau dilihat dari bunganya, lebih lebat dari tahun lalu,” kata Genep. 

Donny Tabelak

Share
Published by
Donny Tabelak

Recent Posts

Artis dan Pejabat yang Bercerai di Tahun 2025, Dari Raisa hingga Ridwan Kamil

Tahun 2025 merupakan tahun yang malang atau kelabu bagi sejumlah pasangan selebriti.

4 hari ago

Rapor Merah Mees Hilgers Bersama Timnas Indonesia, Rizky Ridho dan Justin Hubner Siap Mengkudeta

Timnas Indonesia harus menerima kekalahan telak 1-5 dari Australia dalam laga lanjutan Grup C Kualifikasi…

10 bulan ago

Menolak Menyerah, PSSI: Kesempatan Timnas Indonesia Kejar 15 Poin Masih Ada

Target 15 poin masih dibebankan oleh PSSI kepada Timnas Indonesia untuk lolos dari putaran ketiga…

1 tahun ago

SW House, Rumah Berkonsep Tropis Match dengan Warna Earthy yang Klasik

kawasan Menteng, Jakarta Pusat, SW House berdiri kokoh dengan segala keanggunannya.

2 tahun ago

Hasil Quick Count Pemilu 2024 Bisa Segera Dilihat, Ini Lembaga Survei Resmi yang Menyiarkan

Sejumlah lembaga survei bakal menggelar penghitungan cepat atau quick count Pemilu 2024

2 tahun ago

5 Cara Membersihkan Meja Granit Agar Permukaannya Tetap Mengkilap Sepanjang Hari

Granit merupakan bahan bangunan dari campuran white clay, kaolin, silika, dolomite, talc, dan feldspar yang…

2 tahun ago