Categories: Ekonomi

Tekan Inflasi, Petani Buleleng Didorong Tanam Bawang Putih

SINGARAJA – Petani di daerah dataran tinggi, kini didorong menanam bawang putih. Komoditas ini sengaja dikenalkan pada petani, untuk mengurangi potensi inflasi yang terjadi di Buleleng.

Terlebih bawang putih cukup mempengaruhi inflasi bulanan. Saat ini luas lahan pertanian bawang putih di Buleleng sangat terbatas.

Luas lahan pertanian bawang hanya delapan hektare. Tersebar di Desa Wanagiri seluas empat hektare dan Desa Pakisan seluas empat hektare.

“Rencananya kami akan kembangkan 50 hektare lagi. Semuanya di lahan pertanian dataran tinggi,” kata Kabid Hortikultura Dinas Pertanian Buleleng I Gede Subudi.

Menurut Subudi, secara historis lahan pertanian bawang putih di Buleleng memang berada di dataran tinggi.

Desa-desa yang dulunya menanam bawang putih yakni Bontihing, Pakisan, Gobleg, Munduk, Gesing, Umajero, Wanagiri, dan Bengkel.

Melihat pilot project lahan pertanian bawang putih yang telah berhasil di Wanagiri, Subudi pun optimistis petani akan melirik komoditas ini.

Terlebih bibit bawang putih sudah siap diberikan pada petani. “Kemarin kan yang di Wanagiri sudah panen. Nah hasil panen itu dijadikan bibit, tidak dijual.

Rencananya bibit ini kami akan sebar ke petani. Terutama di desa-desa yang secara historis pernah ada komoditas bawang putih di sana,” jelasnya.

Selain menyiapkan lahan pertanian bawang, pemerintah juga tengah melakukan kajian tanaman sela yang cocok bagi lahan pertanian bawang putih.

Idealnya, lahan pertanian bawang putih harus ditanami komoditas lain setelah dua kali panen. Apabila ditanami bawang putih terus menerus, maka hasil panen akan menurun.

“Anjuran kami sih maksimal dua kali masa tanam. Karena apapun kalau kontinu terus menerus ditanami komoditas yang itu-itu saja, ya jelek. Serangan penyakitnya jadi masif.

Kami sedang pertimbangkan kubis atau wortel sebagai tanaman sela, mengingat usianya juga pendek,” imbuhnya.

Asal tahu saja, tanaman bawang putih sempat “punah” di Kabupaten Buleleng. Komoditas ini terakhir kali ditanam petani pada tahun 1998 silam.

Saat krisis terjadi dan keran impor bawang putih dibuka, harga bawang putih lokal anjlok. Bahkan harganya lebih murah dari harga jual gabah.

Akhirnya petani memilih tak lagi menanam bawang putih dan sepenuhnya bergantung pada impor. 

Donny Tabelak

Share
Published by
Donny Tabelak

Recent Posts

Artis dan Pejabat yang Bercerai di Tahun 2025, Dari Raisa hingga Ridwan Kamil

Tahun 2025 merupakan tahun yang malang atau kelabu bagi sejumlah pasangan selebriti.

3 hari ago

Rapor Merah Mees Hilgers Bersama Timnas Indonesia, Rizky Ridho dan Justin Hubner Siap Mengkudeta

Timnas Indonesia harus menerima kekalahan telak 1-5 dari Australia dalam laga lanjutan Grup C Kualifikasi…

10 bulan ago

Menolak Menyerah, PSSI: Kesempatan Timnas Indonesia Kejar 15 Poin Masih Ada

Target 15 poin masih dibebankan oleh PSSI kepada Timnas Indonesia untuk lolos dari putaran ketiga…

1 tahun ago

SW House, Rumah Berkonsep Tropis Match dengan Warna Earthy yang Klasik

kawasan Menteng, Jakarta Pusat, SW House berdiri kokoh dengan segala keanggunannya.

2 tahun ago

Hasil Quick Count Pemilu 2024 Bisa Segera Dilihat, Ini Lembaga Survei Resmi yang Menyiarkan

Sejumlah lembaga survei bakal menggelar penghitungan cepat atau quick count Pemilu 2024

2 tahun ago

5 Cara Membersihkan Meja Granit Agar Permukaannya Tetap Mengkilap Sepanjang Hari

Granit merupakan bahan bangunan dari campuran white clay, kaolin, silika, dolomite, talc, dan feldspar yang…

2 tahun ago