Categories: Ekonomi

Pengusaha dan Petani Beras Hitam Tabanan Masih Terkendala Pemasaran

TABANAN – Produksi beras hitam Tabanan terus mengalami peningkatan.

Sayang, meski produksi terus meningkat, para petani di kabupaten “Lumbung Padi” ini masih terkendala pemasaran.

Seperti dibenarkan petani sekaligus pengusaha beras hitam asal Desa Bengkel, Kediri, Tabanan I Made Merta Suteja. Ditemui, Jumat (29/3), ia mengakui dari tahun ke tahun, produksi padi hitam di desanya terus meningkat.

 

Peningkatan produksi beras hitam itu terlihat dari hasil panen padi yang semula rata-rata mencapai 1 ton per hektar per masa kali panen (6  bulan) atau 5 ton/ 5 hektar lahan, kini meningkat menjadi 6,5 ton/5 hektar per satu kali masa panen.

“Itu masih berupa padi setelah dijemur dan giling kemudian dilakukan pemilihan susut menjadi 3 ton,” ungkapnya.   

Adanya peningkatan produksi beras hitam itu karena faktor pemilihan dan pembenihan bibit dengan varietas unggul.

Lebih lanjut, kata Suteja, meningkatnya beras hitam mulai berkembang sejak empat tahun yang lalu di Desa Bengkel, Kediri. Bibit berasnya dibawa dari daerah Bogor, Jawa Barat. Saat itu hanya sebagai proses uji coba apakah bisa tidak di tanam di lahan pertanian.

“Kebetulan pas di kecamatan ada rapat tentang pertanian diminta untuk mengembangkan produksi beras hitam tersebut. Saya sendiri yang mulai menanam. Setelah itu barulah diikuti oleh petani lainnya. Sehingga jumlah petani yang menanam beras hitam menjadi 20 orang di desa bengkel saat ini,” terangnya.

Dia menyebutkan meski produksi beras hitam meningkat, namun tak sebanding dengan permintaan yang ada. Minat warga lokal Tabanan membeli beras hitam masih kecil. Beras hitam juga belum terlalu dikenal namanya secara umum. Apalagi akan menembus pasar pariwisata.

“Pemasaran beras hitam hanya mengadalkan pembeli dari luar Tabanan. Banyak pembeli datang dari Denpasar. Itu masih kecil permintaannya sebulan hanya 75 kilogram dengan pelanggan sudah ada sekitar 5 orang,” bebernya

Dari sisi harga memang beras hitam memang agak lebih mahal. Untuk yang sudah dikemas Rp 30 ribu per kilo, sedangkan untuk yang curah (eceran) seharga Rp 25 ribu per kilonya.

     

Merta mengakui saat ini BUMD Dharma Santika (PDDS) perusahaan daerah milik Pemkab Tabanan juga sudah mulai melirik beras hitam dan akan segera melakukan kerjasama untuk pemasarannya.

“Kami berharap, agar pemerintah Tabanan juga turut terlibat dalam pemasaran. Salah satu beras andalan yang dimiliki petani Tabanan. Sehingga, pengembangan beras hitam akan semakin meningkat dan bisa mensejahterakan petani,” pungkasnya. 

Donny Tabelak

Share
Published by
Donny Tabelak

Recent Posts

Artis dan Pejabat yang Bercerai di Tahun 2025, Dari Raisa hingga Ridwan Kamil

Tahun 2025 merupakan tahun yang malang atau kelabu bagi sejumlah pasangan selebriti.

3 hari ago

Rapor Merah Mees Hilgers Bersama Timnas Indonesia, Rizky Ridho dan Justin Hubner Siap Mengkudeta

Timnas Indonesia harus menerima kekalahan telak 1-5 dari Australia dalam laga lanjutan Grup C Kualifikasi…

10 bulan ago

Menolak Menyerah, PSSI: Kesempatan Timnas Indonesia Kejar 15 Poin Masih Ada

Target 15 poin masih dibebankan oleh PSSI kepada Timnas Indonesia untuk lolos dari putaran ketiga…

1 tahun ago

SW House, Rumah Berkonsep Tropis Match dengan Warna Earthy yang Klasik

kawasan Menteng, Jakarta Pusat, SW House berdiri kokoh dengan segala keanggunannya.

2 tahun ago

Hasil Quick Count Pemilu 2024 Bisa Segera Dilihat, Ini Lembaga Survei Resmi yang Menyiarkan

Sejumlah lembaga survei bakal menggelar penghitungan cepat atau quick count Pemilu 2024

2 tahun ago

5 Cara Membersihkan Meja Granit Agar Permukaannya Tetap Mengkilap Sepanjang Hari

Granit merupakan bahan bangunan dari campuran white clay, kaolin, silika, dolomite, talc, dan feldspar yang…

2 tahun ago