Categories: Ekonomi

Pariwisata “Tidur” Karena Covid-19, Industri Kerajinan Mulai Bangkit

DENPASAR – Industri pariwisata Bali benar-benar dibuat “tidur” oleh pandemi Coronavirus Disease alias Covid-19. 

Seandainya pun kran pariwisata dibuka mulai Kamis (9/7) mendatang, banyak pihak menyangsikan situasi akan segera pulih. Bahkan industri pariwisata disebut akan pulih paling buncit alias terakhir.

“Pada musim pandemi ini semestinya pemerintah mencarikan alternatif industri lain yang bisa menggerakkan ekonomi Bali. 

Ketergantungan perekonomian Bali terhadap pariwisata sangat tinggi, yakni 78 %. Oleh karena itu, kita terpukul begitu telak oleh pandemi Covid-19. 

Banyak prediksi recovery pariwisata yang paling lambat. Bali yang paling terpukul dan selama ini belum ada alternatif 

untuk itu,” ucap Ketut Dharma Siadja, Ketua Umum Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (ASEPHI) Provinsi Bali, Kamis (2/7) siang.

Karena recovery sektor pariwisata lambat, pengusaha asal Ubud, Gianyar itu menyarankan pemerintah untuk segera move on. 

Produk ekspor kerajinan dan handicraft, khususnya asal Bali jelasnya bisa dijadikan alternatif penyeimbang kondisi terpuruk saat ini. 

“Bali banyak menghasilkan barang kerajinan. Saat pariwisata “tidur” industri kerajinan ini masih bergerak dan menggeliat karena mendapatkan limpahan dari Tiongkok. 

Di masa pandemi ini Bali bisa mengekspor barang kerajinan dengan tujuan Amerika Serikat dan Eropa. Ini pasar tradisional kita,” ucap Ketut Dharma Siadja.

Kerajinan kayu, perak, garmen, dan sejenisnya mulai “bergerak” sejak Mei 2020. Sempat terseok-seok hanya dua bulan, yakni Maret dan April saat AS dan Eropa memberlakukan lock down. 

Sentra kerajinan kayu, perak, garmen ini tersebar di sejumlah titik. Antara lain Tegalalang, Pujung, Tampaksiring, dan Kerobokan. 

“Kerajinan, peternakan, perikanan, dan pertanian ini yang perlu dipikirkan pemerintah untuk menyeimbangkan Bali ke depan. 

Khusus kerajinan, Bali adalah pasar kerajinan nusantara. Masalah di Bali saya pikir adalah bagaimana kehadiran pemerintah mampu memberikan efek domino bagi masyarakat Bali,” ungkapnya.

Ke depan, Ketut Dharma Siadja berharap industri kerajinan, khususnya untuk kebutuhan ekspor semakin digalakkan. 

Pelaku usaha idealnya intens menjalin komunikasi dengan Dewan Kerajinan Nasional Provinsi Bali (Dekranasda) untuk meningkatkan strata atau kelas produknya sehingga memenuhi syarat ekspor. 

“Ke depan para pelaku UMKM atau UMK ini harus memiliki target produknya bisa diekspor ke luar negeri. 

Yang belum bisa ekspor agar menjalin komunikasi dan minta dibina oleh Dekranasda Provinsi Bali,” ungkapnya optimis.

Donny Tabelak

Share
Published by
Donny Tabelak

Recent Posts

Artis dan Pejabat yang Bercerai di Tahun 2025, Dari Raisa hingga Ridwan Kamil

Tahun 2025 merupakan tahun yang malang atau kelabu bagi sejumlah pasangan selebriti.

3 bulan ago

Rapor Merah Mees Hilgers Bersama Timnas Indonesia, Rizky Ridho dan Justin Hubner Siap Mengkudeta

Timnas Indonesia harus menerima kekalahan telak 1-5 dari Australia dalam laga lanjutan Grup C Kualifikasi…

12 bulan ago

Menolak Menyerah, PSSI: Kesempatan Timnas Indonesia Kejar 15 Poin Masih Ada

Target 15 poin masih dibebankan oleh PSSI kepada Timnas Indonesia untuk lolos dari putaran ketiga…

1 tahun ago

SW House, Rumah Berkonsep Tropis Match dengan Warna Earthy yang Klasik

kawasan Menteng, Jakarta Pusat, SW House berdiri kokoh dengan segala keanggunannya.

2 tahun ago

Hasil Quick Count Pemilu 2024 Bisa Segera Dilihat, Ini Lembaga Survei Resmi yang Menyiarkan

Sejumlah lembaga survei bakal menggelar penghitungan cepat atau quick count Pemilu 2024

2 tahun ago

5 Cara Membersihkan Meja Granit Agar Permukaannya Tetap Mengkilap Sepanjang Hari

Granit merupakan bahan bangunan dari campuran white clay, kaolin, silika, dolomite, talc, dan feldspar yang…

2 tahun ago