Categories: Ekonomi

Kemiskinan di Bali Meroket, Prof Windia Kritik Proyek Fisik dan Elitis

DENPASAR – Badan Pusat Statistik (BPS) merilis jumlah orang miskin di Bali mengalami peningkatan signifikan sebagai dampak dari pandemic Covid-19. Pada September 2020, terjadi peningkatan sebesar 31,73 ribu, dibandingkan Maret 2020 yang tercatat sekitar 165,19 ribu orang.

 

Dengan demikian, jumlah penduduk miskin di Bali pada bulan September 2020 tercatat sekitar 196,92 ribu orang. Persentase penduduk miskin di Bali pada September 2020 itu adalah 4,45 persen, naik 0,67 persen poin dibandingkan dengan posisi Maret 2020 yang tercatat sebesar 3,78 persen.

Akademisi Bidang Pertanian, Prof Dr Ir I Wayan Windia menyatakan, kemiskinan pasti meningkat akibat pandemi, maka pembangunan sekarang harusnya fokus mengurangi kemiskinan. Dosen yang juga  sebagai Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISPOL) Wira Bhakti itu menyatakan penyumbang kemiskinan ada di komunitas petani dan nelayan. “Di sana sudah merupakan komunitas kemiskinan struktural,” ujarnya.

Dijelaskan, untuk mengentaskan kemiskinan struktural tidak bisa dengan konsep pembangunan konvensional. Yang harus langsung menyentuh mereka. Sebaiknya jangan dulu melakukan pembangunan yang bersifat fisik yang tidak langsung menyentuh komunitas miskin.

 

“Program pemerintah harus menyentuh masyarakat miskin tersebut,” jelasnya. 

 

Ia juga meminta pemerintah untuk menggencarkan bantuan sosial dan mengesampingkan dulu program elitis. Meski demikian, Prof Windia tak menyebut secara rinci program elitis yang dimaksud. 

Prof Windia meminta pemerintah mengungkap data penduduk miskin tersebut sebaiknya ada data nama dan alamat penduduk miskin tersebut.  Perbekel dan kelian banjar yang paling tahu.

  

Wakil Ketua DPRD Bali, I Nyoman Sugawa Korry menyatakan hal sama. Menurutnya, yang harus dilakukan pemerintah  digencarkan bantuan usaha seperti bantuan bibit babi, bantuan bibit, pupuk dan lain-lain. Politikus Golkar ini meminta untuk menunda program-program besar berjangka panjang.

 

“Di samping melanjutkan program bantuan langsung kepada masyarakat program prioritas adalah memberikan kesempatan berusaha seperti  bantuan bibit babi,  bantuan bibit, pupuk dan lain-lain. Tunda dulu program-program besar berjangka panjang. Bersamaan dengan hal tersebut upaya vaksinasi secara menyeluruh,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan bahwa kemiskinan ini disebabkan meningkatnya kemiskinan di Bali karena dampak covid 19, dimana sebagai daerah yang Produk Domestik Regional Bruto (Lapangan Usaha) didominasi sektor tersier (perdagangan, hotel dan restoran). Pengaruhnya terhadap kontraksi pertumbuhan ekonomi Bali terbesar di secara nasional (sekitar minus 12 persen). “Pengaruhnya adalah menurunnya daya beli, pengangguran dan kemiskinan,” pungkasnya.

Donny Tabelak

Share
Published by
Donny Tabelak

Recent Posts

Artis dan Pejabat yang Bercerai di Tahun 2025, Dari Raisa hingga Ridwan Kamil

Tahun 2025 merupakan tahun yang malang atau kelabu bagi sejumlah pasangan selebriti.

2 bulan ago

Rapor Merah Mees Hilgers Bersama Timnas Indonesia, Rizky Ridho dan Justin Hubner Siap Mengkudeta

Timnas Indonesia harus menerima kekalahan telak 1-5 dari Australia dalam laga lanjutan Grup C Kualifikasi…

11 bulan ago

Menolak Menyerah, PSSI: Kesempatan Timnas Indonesia Kejar 15 Poin Masih Ada

Target 15 poin masih dibebankan oleh PSSI kepada Timnas Indonesia untuk lolos dari putaran ketiga…

1 tahun ago

SW House, Rumah Berkonsep Tropis Match dengan Warna Earthy yang Klasik

kawasan Menteng, Jakarta Pusat, SW House berdiri kokoh dengan segala keanggunannya.

2 tahun ago

Hasil Quick Count Pemilu 2024 Bisa Segera Dilihat, Ini Lembaga Survei Resmi yang Menyiarkan

Sejumlah lembaga survei bakal menggelar penghitungan cepat atau quick count Pemilu 2024

2 tahun ago

5 Cara Membersihkan Meja Granit Agar Permukaannya Tetap Mengkilap Sepanjang Hari

Granit merupakan bahan bangunan dari campuran white clay, kaolin, silika, dolomite, talc, dan feldspar yang…

2 tahun ago