Categories: Hukum & kriminal

Citra Sasmita: Kasus Potong Kaki Tragedi Besar Umat Manusia

RadarBali.com – Prahara rumah tangga berujung pemotongan kaki kiri Ni Putu Kariani, 33, oleh suaminya sendiri Kadek Adi Waisaka Putra, 36, tak hanya menjadi perhatian serius bagi P2TP2A Provinsi Bali, Badung, dan Buleleng.

Citra Sasmita, perupa perempuan kelahiran Tabanan merespons tragedi di Banjar Uma Buluh, Canggu, Kuta Utara, Rabu (5/9) itu lewat sebuah karya seni.

Sketsa yang diunggah lewat facebook dan instagram, Sabtu (9/9) pukul 12.32 tersebut menggambarkan sosok seorang wanita yang memegang potongan kakinya sendiri.

Alumnus Jurusan Fisika, Universitas Pendidikan Ganesha yang aktif berpameran sejak 2012 itu menyebut kasus pemotongan kaki tersebut sebagai tragedi besar umat manusia.

Di laman akun media sosialnya Citra menulis feminisme tidak bisa lagi hanya berbicara tentang shell luar dari status sosial dan posisi wanita karena sistem telah meracuni pikiran manusia untuk membangkitkan keinginan gelap mereka seolah-olah itu adalah naluri alami; itu adalah untuk brutal dalam masalah diri.

Kebrutalan tersebut, tulisnya, menjadi masif dan diperkuat dalam beberapa aspek, orientasi seksual, religius, dan idealisme palsu.

“Karena konsentrasi saya di seni rupa memang mengangkat permasalahan perempuan. Dalam bahasa simbolis,” ucapnya kepada Jawa Pos Radar Bali.

Terkait status yang diunggahnya, Citra mengaku mengkritik sistem patriarki yangg ekses atau dampaknya selama ini mensubordinasi kaum perempuan.

“Lebih parah lagi ketika sudah masuk relasi kuasa menyangkut seksualitas, konservatisme agama, dan identitas semu yang menjadi motif aktualisasi seseorang. Dalam kasus ini relasi seksualitas antara suami-istri, suami menunjukkan maskulinitasnya justru dengan tindakan kekerasan,” ucapnya.

Sembari menyebut sketsa tersebut ditulis di kertas ukuran A3 carcoal, Citra menyatakan praktik seni rupa yang mengangkat permasalahan sosial sesungguhnya cukup banyak menuai kritik.

“Tapi bagi saya seniman mestinya mempunyai sensitivitas dalam membawa sebuah permasalahan sosial menjadi sebuah diskursus. Bukan hanya terjebak soal estetika. Karena karya mempuyai fungsi untuk membaca kondisi zaman, sosio dan kultural,” tegas istri penyair sekaligus penulis asal Banyumas, Jawa Tengah, Dwi S. Wibowo. 

Donny Tabelak

Share
Published by
Donny Tabelak

Recent Posts

Artis dan Pejabat yang Bercerai di Tahun 2025, Dari Raisa hingga Ridwan Kamil

Tahun 2025 merupakan tahun yang malang atau kelabu bagi sejumlah pasangan selebriti.

3 hari ago

Rapor Merah Mees Hilgers Bersama Timnas Indonesia, Rizky Ridho dan Justin Hubner Siap Mengkudeta

Timnas Indonesia harus menerima kekalahan telak 1-5 dari Australia dalam laga lanjutan Grup C Kualifikasi…

10 bulan ago

Menolak Menyerah, PSSI: Kesempatan Timnas Indonesia Kejar 15 Poin Masih Ada

Target 15 poin masih dibebankan oleh PSSI kepada Timnas Indonesia untuk lolos dari putaran ketiga…

1 tahun ago

SW House, Rumah Berkonsep Tropis Match dengan Warna Earthy yang Klasik

kawasan Menteng, Jakarta Pusat, SW House berdiri kokoh dengan segala keanggunannya.

2 tahun ago

Hasil Quick Count Pemilu 2024 Bisa Segera Dilihat, Ini Lembaga Survei Resmi yang Menyiarkan

Sejumlah lembaga survei bakal menggelar penghitungan cepat atau quick count Pemilu 2024

2 tahun ago

5 Cara Membersihkan Meja Granit Agar Permukaannya Tetap Mengkilap Sepanjang Hari

Granit merupakan bahan bangunan dari campuran white clay, kaolin, silika, dolomite, talc, dan feldspar yang…

2 tahun ago