Categories: Nasional

60 Persen Dokter Hidup di Pelosok, Pilih Jalani Hidup Sebelum Pandemi

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Bali, I Gede Putra Suteja, 61, bicara blak-blakan saat ditemui Jawa Pos Radar Bali, Kamis (16/10) lalu.

Dokter Suteja menegaskan, pihaknya melaporkan akun Instagram (IG) milik I Gede Aryastina, 43, alias JRX karena membela marwah organisasi.

Berikut petikan wawancara eksklusif wartawan Jawa Pos Radar Bali, Maulana Sandijaya dengan dr. I Gede Putra Suteja.

 

 

 

Bagaimana posisi IDI dalam menangani Covid-19?

IDI itu juga OTG, artinya orang tetap di garda depan. IDI adalah organisasi kemasyarakatan. IDI itu bukan regulator atau pembuat kebijakan dan aturan.

IDI sama dengan masyarakat. Tetapi, pada saat regulator (pemerintah atau lembaga) mengambil keputusan, maka IDI harus tunduk.

IDI juga ODP atau orang disiplin dan patuh terhadap protokol yang ada. Disiplin mengatur waktu praktik, istirahat. Karena itu, masyarakat harus jadi PDP atau penduduk disiplin dan patuh

terhadap protokol yang ada. Kalau semua menyadari tugas masing-masing, maka pandemi ini bisa dihadapi bersama dengan ringan.

 

Soal IDI sebagai agen of change, yang semestinya membawa pembaharuan?

Dulu awal pandemi IDI pusat sudah menyarankan pemerintah agar lock down, tapi tidak disetujui. Begitu juga dengan rapid test (tidak tepat), tapi saran itu tidak diterima.

Sekali lagi, IDI ini bukan regulator. Karena itu, dalam era digitalisasi masyarakat dan anggota IDI harus mengecek mana postingan yang benar dan sumbernya jelas.

 

Banyak yang menyebut dokter diuntungkan dengan adanya wabah ini. Pendapat Anda?

Selama ini, banyak yang berpandangan dokter itu orang yang banyak uang jika dilihat dari segi materi. Padahal, empat ribu dokter di Bali, 60 persennya ada di pelosok.

Mereka adik-adik saya itu gajinya di bawah Rp 5 juta. Kalau kami disuruh memilih, maka kami memilih menjalani hidup dan profesi sebelum pandemi.

 

Bagaimana dengan adanya informasi vaksinasi Covid-19?

Walaupun ada informasi vaksin Covid-19, vaksin tidak akan menyelesaikan masalah. Tetap kita harus 3M (memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangand engan sabun).

Obat yang paling bagus Covid-19 itu masker. Kembali kepada teori dan sejarah, flu Spanyol sudah ada 100 tahun lalu. Sampai sekarang masih ada flu.

Bedanya, kalau ada vaksin angka kematian berkurang dan angka kesembuhan tinggi. Berubah dari pandemi menjadi endemi. Kasus akan tetap ada, tapi tidak menjadi wabah, seperti demam berdarah dengue. (*)

Donny Tabelak

Share
Published by
Donny Tabelak

Recent Posts

Artis dan Pejabat yang Bercerai di Tahun 2025, Dari Raisa hingga Ridwan Kamil

Tahun 2025 merupakan tahun yang malang atau kelabu bagi sejumlah pasangan selebriti.

2 minggu ago

Rapor Merah Mees Hilgers Bersama Timnas Indonesia, Rizky Ridho dan Justin Hubner Siap Mengkudeta

Timnas Indonesia harus menerima kekalahan telak 1-5 dari Australia dalam laga lanjutan Grup C Kualifikasi…

10 bulan ago

Menolak Menyerah, PSSI: Kesempatan Timnas Indonesia Kejar 15 Poin Masih Ada

Target 15 poin masih dibebankan oleh PSSI kepada Timnas Indonesia untuk lolos dari putaran ketiga…

1 tahun ago

SW House, Rumah Berkonsep Tropis Match dengan Warna Earthy yang Klasik

kawasan Menteng, Jakarta Pusat, SW House berdiri kokoh dengan segala keanggunannya.

2 tahun ago

Hasil Quick Count Pemilu 2024 Bisa Segera Dilihat, Ini Lembaga Survei Resmi yang Menyiarkan

Sejumlah lembaga survei bakal menggelar penghitungan cepat atau quick count Pemilu 2024

2 tahun ago

5 Cara Membersihkan Meja Granit Agar Permukaannya Tetap Mengkilap Sepanjang Hari

Granit merupakan bahan bangunan dari campuran white clay, kaolin, silika, dolomite, talc, dan feldspar yang…

2 tahun ago