Categories: Bali

Bangun Tembok di Badan Sungai Yeh Ho, Pabrik Aspal Diprotes Warga

TABANAN – Pembangunan tembok pabrik aspal milik PT. Procindo Tunggal Taruna yang berada di Desa Bantas, Selemadeg Timur, dikeluhkan warga Banjar Bale Agung.

Pasalnya, pembangunan tembok pabrik dengan lebar 1 meter, tinggi sekitar 20 meter dan panjang tak kurang dari 500 meter diduga terlalu mengambil badan sungai.

Sehingga warga khawatir ketika terjadi banjir saat musim hujan akan berdampak pada tanah dan kebun warga yang berada di sepanjang aliran sungai akan ikut tergerus ketika terjadi banjir.

Salah satu warga Banjar Bale Agung, Desa Bantas, Selemadeg Timur I Wayan Sugitra mengakui pabrik aspal milik PT. Procindo Tunggal Taruna memang sudah tidak beroperasi sejak tahun 2017 lalu.

Karena terjadi penolakan warga desa. Pasalnya dampak yang timbulkan sangat luar biasa.

“Setelah lama tidak diijinkan beroperasi, kini pabrik tersebut membangun tembok besar dialiran sepanjang sungai yang akan menuju sungai besar Yeh Hoo.

Kami tidak menyalahkan pabrik membangun tembok. Akan tetapi pembangunan tembok tidak boleh mengambil badan sungai,” kata Sugitra.

Lanjutnya, memang pembangunan tembok berada di tanah milik pabrik aspal sebelah timur dari aliran sungai.

Khawatirnya warga, ketika terjadi banjir di sungai saat musim hujan. Karena disebelah barat sungai merupakan tanah dan kebun warga.

Ketika terjadi banjir, maka tanah di kebun warga nantinya akan ikut tergerus dan terkikis.

“Itu yang kami takutkan dan keluhkan kepada pihak pabrik aspal. Namun pihak pabrik terus melakukan pembangunan tembok,” imbuhnya.

Kelian Banjar Bale Agung, Desa Bantas I Ketut Suastika mengatakan keluhan pembangunan tembok tersebut memang disampaikan warga kepadanya.

Pihaknya sudah melihat ke lokasi pembangunan tembok. “Jika seumpama ada masalah pembangunan silahkan diselesaikan dengan pihak pabrik.

Sementara itu staff pabrik aspal bagian operasional PT. Procindo Tunggal Taruna Wayan Bagiada yang ditemui dikantor Jumat (6/7) kemarin menyatakan pembangunan tembok berada di tanah milik pabrik aspal.

Bahkan pembangunan tembok sudah tidak melebihi batas tanah milik pabrik. “Kami pun membangun tembok dengan mengurangi batas tanah pabrik dari sungai sekitar 2 meter,” ucap Bagiada.

Bagiada mengakui memang ada warga desa yang datang ke pabrik. Sayangnya keluhan tersebut tidak sampaikan kepada pihak pabrik.

Namun, jika ada keluhan seperti ini. “Kami sebagai karyawan tidak dapat mengambil keputusan. Yang jelas keluhan warga desa tersebut. Akan kami sampaikan kepada pihak atasan kami,” tandasnya

Donny Tabelak

Share
Published by
Donny Tabelak

Recent Posts

Artis dan Pejabat yang Bercerai di Tahun 2025, Dari Raisa hingga Ridwan Kamil

Tahun 2025 merupakan tahun yang malang atau kelabu bagi sejumlah pasangan selebriti.

4 bulan ago

Rapor Merah Mees Hilgers Bersama Timnas Indonesia, Rizky Ridho dan Justin Hubner Siap Mengkudeta

Timnas Indonesia harus menerima kekalahan telak 1-5 dari Australia dalam laga lanjutan Grup C Kualifikasi…

1 tahun ago

Menolak Menyerah, PSSI: Kesempatan Timnas Indonesia Kejar 15 Poin Masih Ada

Target 15 poin masih dibebankan oleh PSSI kepada Timnas Indonesia untuk lolos dari putaran ketiga…

2 tahun ago

SW House, Rumah Berkonsep Tropis Match dengan Warna Earthy yang Klasik

kawasan Menteng, Jakarta Pusat, SW House berdiri kokoh dengan segala keanggunannya.

2 tahun ago

Hasil Quick Count Pemilu 2024 Bisa Segera Dilihat, Ini Lembaga Survei Resmi yang Menyiarkan

Sejumlah lembaga survei bakal menggelar penghitungan cepat atau quick count Pemilu 2024

2 tahun ago

5 Cara Membersihkan Meja Granit Agar Permukaannya Tetap Mengkilap Sepanjang Hari

Granit merupakan bahan bangunan dari campuran white clay, kaolin, silika, dolomite, talc, dan feldspar yang…

2 tahun ago