dilarang-pemkab-jembrana-revitalisasi-ticak-tempo
NEGARA – Sempat punah karena dilarang semasa rezim orde baru, Pemkab Jembrana kembali merevitalisasi tari ticak tempo.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Nengah Alit mengatakan, tarian ticak tempo dulu semacam tarian pergaulan dalam bentuk jejangeran yang ditarikan oleh para remaja putra dan putri berpasang-pasangan.
Karena dijadikan alat politik, akhirnya dilarang oleh penguasa saat itu.
“Sejak saat itu jarang ada yang memainkan,” ungkapnya, kemarin (8/9).
Dengan sisa generasi yang mash ada, pihaknya mulai merevitalisasi. Pada saat festival Jembrana Agustus lalu, untuk pertama kalinya sejak puluhan tahun lalu, ditarikan di hadapan publik dengan konsep lebih modern dan mengikuti perkembangan zaman.
Selain ticak tempo dulu, kesenian lain yang saat ini masih dalam upaya revitalisasi adalah bumbung gebyok, bumbung kepyak dan kesenian lain di Jembrana yang teridentifikasi generasinya mulai sedikit.
Menurut Alit, selain karena alasan politik.
Penyebab seni tari Jembrana, generasi penerus sedikit yang mempelajari sehingga terputus.
“Kami masih upayakan identifikasi lagi seni tari Jembrana, jika memang sudah hampir punah akan direvitalisasi,” tegasnya
Tahun 2025 merupakan tahun yang malang atau kelabu bagi sejumlah pasangan selebriti.
Timnas Indonesia harus menerima kekalahan telak 1-5 dari Australia dalam laga lanjutan Grup C Kualifikasi…
Target 15 poin masih dibebankan oleh PSSI kepada Timnas Indonesia untuk lolos dari putaran ketiga…
kawasan Menteng, Jakarta Pusat, SW House berdiri kokoh dengan segala keanggunannya.
Sejumlah lembaga survei bakal menggelar penghitungan cepat atau quick count Pemilu 2024
Granit merupakan bahan bangunan dari campuran white clay, kaolin, silika, dolomite, talc, dan feldspar yang…