Categories: Nasional

Sebelum Menari Selalu Minta Keselamatan dan Pantang Makan Sembarangan

Penggemar seniman tari calonarang berduka. Maestro tari rangda, I Wayan Rarem  dari Banjar Tengah, Peliatan, Ubud menghembuskan nafas terakhirnya pada Rabu pagi (22/1) pukul 10.00 Wita. Bagaimana kiprahnya dalam seni tari rangda?

I WAYAN WIDYANTARA, Gianyar

I WAYAN RAREM atau dikenal Pekak Rarem terlahir dari keluarga yang sangat sederhana.

Kegemarannya dalam dunia tari tentu tak perlu diragukan lagi.

Dalam wawancaranya dalam sebuah video, Pekak Rarem bercerita tentang perjalanan karirnya sebagai penari rangda.

Pekak Rarem menyebut mulai belajar tari randa pada tahun 1965.

Guru pertamanya dalam menari tari rangda adalah Ida Bagus dari Bona Gianyar.

Niat belajar menari begitu tinggi. Ia juga menyebut sering belajar gerak tari dari menonton saja, karena tak punya biaya untuk masuk sanggar.

Pekak Rarem terus mendalami ilmu tari rangda.

Ia juga mencari guru lain bernama I Made Jimat dari Batuan untuk belajar tari rangda.

“Setelah itu saya masuk sanggar Ubud di sapta budaya. Saya juga pernah belajar di Sanggar Ngurah Artha di Banjar Badung,” ujar Pekak Rarem saat masih hidup.

Sudah cukup mahir dalam menari rangda, Pekak Rarem pun mulai ikut pentas dengan sejumlah sanggat tari.

Seperti Sanggar Tunjung, Sanggar Laplapan, Sanggar Gunung Sari, Sanggar Teges Jati dan lainnya.

“Saya menari rangda karena menyukai, bukan karena terpaksa,” tegasnya.

Lalu apa ritual dan pantangan Pekak Rarem sebelum menari rangda?

“Sebelum menari, saya selalu sembahyang, memohon keselamatan ke Ida Sesuhunan dan Bhatara Yang Guru di Sanggah yang ada di rumah,” jawab ayahan dari  I Wayan Sukra, yang juga sering menari di Calonarang sebagai Natah Gede ini. 

Nah ketika akan memundut (menarikan) Ida Sesuhunan, tentu juga meminta ijin dengan yang di pundut. Sedangkan untuk pantangan, Pekak Rarem tidak boleh makan sembarangan, seperti tataban, surudan, (bekas sesajen).

Begitu menari rangda, bulu kuduk pun berdiri, badan terasa besar dan tidak merasakan apa-apa. “Kadang-kadang begitu, kadang juga tidak,” akunya.

Sebagai seorang maestro tari, Pekak Rarem pun juga memiliki rangda di rumah yang tapelnya dari kayu yang ada di Pura Dalem Puri. Biasanya, rangda milik Pekak Rarem ditarikan jika tidak ada Ida Sesuhunan yang tedun (ditarikan).

Kini, Pekak Rarem telah berpulang. Warga Peliatan kepada Jawa Pos Radar Bali menyebut Pekak Rarem meninggal karena sakit jantung dan juga ada komplikas ginjal.

Saat ini jenasah masih dititipkan di Rumah Sakit Ari Canti di Jalan Raya Mas Ubud, Gianyar.

 “Untuk pengabenan tanggal 2 karena di desa ada karya (upacara besar),” ujar warga yang enggan namannya dikorankan.

Donny Tabelak

Share
Published by
Donny Tabelak

Recent Posts

Artis dan Pejabat yang Bercerai di Tahun 2025, Dari Raisa hingga Ridwan Kamil

Tahun 2025 merupakan tahun yang malang atau kelabu bagi sejumlah pasangan selebriti.

3 hari ago

Rapor Merah Mees Hilgers Bersama Timnas Indonesia, Rizky Ridho dan Justin Hubner Siap Mengkudeta

Timnas Indonesia harus menerima kekalahan telak 1-5 dari Australia dalam laga lanjutan Grup C Kualifikasi…

10 bulan ago

Menolak Menyerah, PSSI: Kesempatan Timnas Indonesia Kejar 15 Poin Masih Ada

Target 15 poin masih dibebankan oleh PSSI kepada Timnas Indonesia untuk lolos dari putaran ketiga…

1 tahun ago

SW House, Rumah Berkonsep Tropis Match dengan Warna Earthy yang Klasik

kawasan Menteng, Jakarta Pusat, SW House berdiri kokoh dengan segala keanggunannya.

2 tahun ago

Hasil Quick Count Pemilu 2024 Bisa Segera Dilihat, Ini Lembaga Survei Resmi yang Menyiarkan

Sejumlah lembaga survei bakal menggelar penghitungan cepat atau quick count Pemilu 2024

2 tahun ago

5 Cara Membersihkan Meja Granit Agar Permukaannya Tetap Mengkilap Sepanjang Hari

Granit merupakan bahan bangunan dari campuran white clay, kaolin, silika, dolomite, talc, dan feldspar yang…

2 tahun ago