SINGARAJA – Proses penurunan struktur terumbu karang yang dilaksanakan lewat program Indonesia Coral Reef Garden (ICRG) kini tengah menghadapi kendala serius.
Proses penurunan terumbu karang terhambat dengan kondisi cuaca. Struktur tak bisa diturunkan dalam waktu cepat. Padahal waktu yang tersisa hanya dua pekan lagi.
Saat ini program ICRG yang dilakukan melalui skema padat karya, tengah bergulir di Buleleng. Program taman laut itu berlangsung di sejumlah desa. Yakni di Desa Les, Bondalem, Pacung, Bakti Seraga, Tukad Mungga, dan Kaliasem.
Sejak akhir November lalu, proses pembuatan fisik struktur terumbu karang sebenarnya sudah tuntas. Berbagai struktur terumbu karang sudah dituntaskan.
Baik itu yang berbentuk fish dome, roti buaya, coral spider, pasak bumi, ikan, patung pragina dan juru kendang, hingga struktur karang yang berbentuk mobil VW.
Sepanjang Desember ini semestinya struktur itu sudah ditenggelamkan. Sehingga para penyelam dapat menanam dan merawat karang.
Sayangnya sejak sepekan terakhir hujan lebat, angina kencang, dan gelombang pasang mengintai. Bahkan belum lama ini sejumlah penyelam di Desa Bondalem dikabarkan sempat terseret ombak, saat berusaha kembali ke tepian.
Koordinator Penyelam Desa Les, Made Merta mengungkapkan proses penenggelaman struktur terumbu karang kini memang menghadapi kendala serius. Dalam kondisi cuaca ekstrem, pihaknya tak bisa memaksakan proses penyelaman.
“Dalam kondisi saat ini, keselamatan menjadi prioritas kami yang utama. Karena kondisi di bawah laut tidak bisa ditebak. Ada arus dan gelombang yang harus dihadapi,” katanya.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Buleleng Gede Melandrat mengatakan kini cuaca memang menjadi tantangan utama.
“Memang sudah musim gelombang pasang. Ini sedang jadi masalah utama yang dihadapi. Mudah-mudahan cuaca segera membaik, sehingga ini bisa segera tuntas,” ungkapnya.
Di sisi lain, Direktur Yayasan LINI, Gayatri mengatakan, ada banyak tantangan yang disampaikan koordinator desa. Mulai dari kendala cuaca hingga sertifikasi penyelam.
“Ada orang yang bisa menyelam, tapi tidak punya sertifikat. Hal ini sedang didiskusikan karena syaratnya adalah memiliki sertifikat sebagai tanda sudah terlatih aturan dan etika menyelam agar keselamatan terjamin,” tandasnya.
Asal tahu saja, ICRG merupakan salah satu program yang diluncurkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI dalam rangka pemulihan ekonomi pasca-pandemi.
Di Buleleng, proses pendampingan dan pengawasan melibatkan Yayasan LINI sebagai pihak ketiga yang independen.
Khusus di Kabupaten Buleleng, KKP telah mengucurkan biaya tak kurang dari Rp 14,5 miliar. Sementara pekerja yang terlibat mencapai 1.800 orang.
Warga yang dilibatkan dalam proyek ini sebagian besar ekonominya terdampak pandemi covid-19.



