Masih dalam suasana kehidupan masyarakat Melayu, tak beda jauh makanan dan kebiasaan warga Kuala Lumpur. Ada juga dari mereka yang mengaku sudah pernah ke Bali dan suka hiburan seronok.
KAWASAN Masjid Jamek, Kuala Lumpur itu begitu padat. Di hari Sabtu sejumlah ruas jalan ditutup. Semacam untuk car free day (CFD).
Kami menginap di Hotel Citin. Hotel bintang tiga dengan banderol 115 Ringgit Malaysia (RM) atau sekitar Rp 350-an ribu ini hanya butuh waktu sekitar lima menit
berjalan kaki dari Stasiun Light Rail Transit (LRT), kereta api ringan yang melintas di areal Masjid Jamek, Negeri Upin & Ipin ini.
Hotel tersebut berjarak sekitar 200 meter dari Jalan Raja, atau sekitar 2 kilometer dari Jalan Petaling (Chinatown).
Kalau dari Bandara Internasional Kuala Lumpur waktu tempuhnya sekitar 45 menitan. Mudah juga menjangkau sejumlah tempat wisata strategis. Seperti ke Batu Caves, Gedung Menara Petronas.
Karena sudah tinggal di hotel, kami bisa menikmati suasana sekitar Masjid Jamek. Di kawasan ini ada pasar tradisional dan pertokoan yang banyak menjajakan beragam jenis kuliner setempat.
Di sini juga ada masakan Indonesia, di seberang jalan. Maklum, sebagian warga keturunan Indonesia tinggal di sini. Sebagian sudah jadi warga Malaysia.
Warung yang kami pakai nongkrong ini pengelolanya warga Malaysia keturunan India. Dengan ramah mereka melayani, menawarkan aneka suguhan.
Untuk urusan sampah atau merokok juga tak seketat di Singapura. Di Malaysia, pokoknya di kawasan udara terbuka, merokok tak jadi soal.
Tak begitu banyak kawasan tanpa rokok (KTR)-nya. Sudut-sudut kota juga masih ada onggokan sampah. Tidak sebersih Singapura.
Di sini kami juga bertemu warga Malaysia asal Indonesia. Namanya Fauzi, 48. Imigran asal Padang, Sumatra Barat.
Dia mengaku sudah sejak tahun 1992 di Malaysia. Logatnya pun sudah berubah total, layaknya warga negara Malaysia asli saja.
Pria beranak empat ini juga mengaku punya dua kartu tanda penduduk (KTP). KTP Malaysia dan KTP Indonesia. Dia pun menunjukkannya.
“Itu toko saya, yang tingkat itu,” sebutnya, seraya menunjukkan toko yang dimaksud. “Saya sesekali juga masih pulang kampung ke Padang,” akunya.
Pria penggemar berat kopi ini pun seperti ketemu saudara lama. Bercerita panjang lebar tentang perjalanan perantauannya di negeri jiran.
Saat ditanya apakah warga setempat tidak terpengaruh sentimen politik Indonesia-Malaysia yang pernah berseteru? Dia hanya tertawa saja. Menurutnya itu hanya masalah politik saja.
“Politik itu kotor. Tak usahlah ikut-ikut politik. Saya tak pernah ikut-ikutan politik yang kotor,” jawabnya, sambil terkekeh.
“Saya suka yang seronok-seronoklah (yang asyik-asyik)” ujar Fauzi. Dia mengaku sudah beberapa kali ke Bali.
Dia juga bercerita sempat menikmati spa selama bertetirah di Pulau Dewata. “Asyik di Bali. Bisa seronoklah di sana. Senang saya,” ucapnya, seraya tertawa lebar.
“Coba buka usaha spa di sini, di Kuala Lumpur, pasti seru. Saya bantu, nanti buat usaha,” tuturnya. Menurutnya, usaha jasa pariwisata macam spa belum berkembang di Malaysia.
Saat ditanya tentang bagaimana kendala aturan syariah, dia hanya tertawa saja. Nyengir. “Nanti kita atur-aturlah. Bisa, itu,” jawabnya.
Dia mengaku cukup berliku-liku, jatuh bangun bikin usaha di situ. Dari jualan makanan, pakaian, pernah dia lakukan.
Sampai akhirnya punya usaha toko busana lumayan besar. Sampai sekarang. Saat ditanya apakah tidak ada ormas atau preman yang memalak usahanya, dia mengaku tidak ada.
“Di sini polisinya tegas untuk memberantas kriminal. Kalau perlu ditembak, ya ditembak. Aman, sudah,” tuturnya begitu. Entah tak ada beneran atau sekadar pengakuan, kami tidak tahu pasti.
Hal serupa juga diamini Husein,43. Warga Bangladesh yang jadi imigran tahun 1998 ini juga fasih berbahasa Melayu.
“Nggak ada di sini yang minta-minta uang keamanan macam itu,” terang pria yang sekarang juga punya usaha pakaian wanita ini.
Apakah tak ada kendala tentang pembauran selama tinggal di ibu kota Malaysia ini, dia pun mengaku tidak ada. Menurutnya semua wajar-wajar saja.
“Saya juga tidak suka politik. Karena ujung-ujungnya juga duit politik itu,” papar pria yang punya banyak saudara di Malaysia ini.
“Itu coba baca kabar di negara-negara Arab sana. Macam Yaman, Suriah, ribut terus. Ujung-ujungnya kan biar negara Arab belanja senjata? Kalau tidak ke Amerika ya ke Rusia. Iya, kan? Itulah politik,” lanjutnya.
Dia pun mengaku bersyukur tinggal di Malaysia yang tidak ribut-ribut dengan urusan politik. Fauzi yang di depannya lantas menimpali.
“Pokoknya politic no, seronok yes! Kami suka yang seronok-seronoklah,” imbuhnya, seraya tertawa lepas.
Baik Fauzi maupun Husein, sama-sama menyampaikan pendapatnya bahwa Malaysia saat ini adalah negara terbuka.
Ada banyak bangsa yang datang di situ. Dari Tiongkok, India, Bangladesh, Indonesia hingga Eropa.
“Sepanjang kita baik-baik di sini, kita akan disambut baik-baik juga,” imbuhnya. Setelah itu, sekitar pukul 11.00, mereka pamit dari warung milik warga India itu, meneruskan pekerjaannya mengurus toko.
Kawasan lain yang banyak warga dan kuliner Indonesia di Kuala Lumpur adalah di Chow Kit.
Di sini aneka makanan Indonesia tersedia. Ada Restoran An Nur, Restoran Haji Nowo, Warung Sido Mampir.
“Saya Rudiyanto. Ibu Tulung Agung, bapak Palembang,” ujar salah satu pengunjung yang sudah empat tahun merantau.
Dia mengaku berjualan alat-alat listrik di Kuala Lumpur. Di kawasan food court Chow Kit itu dia biasa menghabiskan waktu saat libur. “Serasa di kampung, kalau makan di sini,” jelasnya.
Hanya saja, beda Kuala Lumpur dan Denpasar, kami tidak bisa sembarangan minum bir di segala tempat di toko modern.
Apalagi kalau yang punya warung muslim yang taat. Bisa kena semprot. Seperti saat rombongan backpacker koran ini jalan-jalan di pusat perbelanjaan Sungei Wang Plaza, Bukit Bintang, Kuala Lumpur.
Sewaktu mampir kafe depan mal ini, ada yang minum bir kaleng, yang dibeli dari minimarket 7 eleven.
Mendadak pemilik kafe keluar dan marah besar, dengan mata mendelik. “Siapa yang minum bir ini di sini? Ini minuman haram tahu? Bisa ditangkap polisi!” ujarnya.
Akhirnya setelah meminta maaf, mengambil botol bir itu untuk dibuang ke tempat sampah, baru amarahnya mereda.
Warung-warung dan pasar dengan segala aktivitas warga ini lebih bisa menyerap suasana interaksi sosial masyarakatnya.
Selebihnya, objek-objek wisata macam patung Batu Caves atau gedung pencakar langit Menara Petronas hanya menyiratkan pembangunan fisik masyarakat urban kekinian saja. (*/habis)



