Kini Zaman Serba Digital, Penghasilan Tukang Foto Kian Turun

Di zaman serba digital, tukang foto keliling di objek wisata Tanah Lot harus pintar-pintar beradaptasi mengikuti perubahan. Kalau tidak bisa beradaptasi, periuk mereka bisa terancam. Mau bukti?

 

 

JULIADI, Tanah Lot

DAHULU sebelum tahun 2000-an, tukang foto keliling (fotografi) paling banyak diburu wisatawan untuk mengabadikan momen berharga ketika mengunjungi salah satu daerah wisatawan. 

Seiring perjalanan waktu berangsur-angsur tukang foto keliling kian redup peminatnya. Bahkan lebih banyak wisatawan mengabadikan objek foto dengan ponsel miliknya sendiri. 

Dampaknya pun cukup signifikan terhadap penghasilan tukang foto. Seperti itulah yang disampaikan oleh salah satu tukang foto keliling wisatawan di DTW Pantai Tanah Lot, Beraban, Kediri, Tabanan, Nyoman Murdi.

Pria dengan berpakaian khas adat Bali hampir 20 tahun lebih melakoni pekerjaan sebagai tukang foto keliling.

Awalnya berbekal kamera Polaroid, dia kemudian beralih ke kamera digital Kodak 4R. Singkatnya harus beralih ke kamera digital dengan cetak langsung pakai printer. 

“Tujuannya agar konsumen dengan mudah mencetak foto langsung yang diinginkan,” ucap Nyoman Murdi.

Meski zaman sudah canggih, namun tidak dibandingkan dengan penghasilan sebagai tukang foto. Zaman canggih penghasilan mengalami penurunan. 

“Kalau dulu sebelum tahun 2000-an, rata-rata perhari kami dapat wisatawan yang berfoto mencapai 75 sampai 100 orang. Dengan harga saat satu kali cetak Rp 10 ribu.

Tetapi kini cukup susah kadang perharinya hanya 2 sampai 3 orang. Kadang kala tidak ada sama sekali pemesanan foto,” keluh pria berusia 58 tahun asal Banjar Batugaing, Desa Beraban ini.

Menurut Nyoman Murdi, saat ini musim liburan tiba dan kunjungan wisatawan meningkat. Bukan membawa berkah bagi tukang foto keliling di DTW Tanah Lot. Justru permintaan foto sepi. 

“Jadi mau musim liburan dan tidak musim liburan tak ada pengaruh bagi kami sebagai tukang foto keliling,” ucapnya. 

Permintaan foto keliling bagi wisatawan mulai menurun sejak tahun 2000 karena sudah masuk zaman digital. Wisatawan lebih banyak gunakan kamera dan ponselnya sendiri untuk berfoto. 

Menyiasati yang zaman serba canggih. Nyoman Murdi harus membawa semua peralatan fotografi yakni mesin cetak foto portable yang langsung dapat mencetak foto dengan cara transfer dari kamera ke printer via jaringan Wifi.

Biasanya pengunjung lebih banyak memilih ukuran foto 10R. “Meski zaman sudah canggih pekerjaan tukang foto keliling tetap saya lakukan. Di Tanah Lot ada sekitar 85 orang sebagai tukang foto keliling,” tandasnya. (*) 

 

Di zaman serba digital, tukang foto keliling di objek wisata Tanah Lot harus pintar-pintar beradaptasi mengikuti perubahan. Kalau tidak bisa beradaptasi, periuk mereka bisa terancam. Mau bukti?

 

 

JULIADI, Tanah Lot

DAHULU sebelum tahun 2000-an, tukang foto keliling (fotografi) paling banyak diburu wisatawan untuk mengabadikan momen berharga ketika mengunjungi salah satu daerah wisatawan. 

Seiring perjalanan waktu berangsur-angsur tukang foto keliling kian redup peminatnya. Bahkan lebih banyak wisatawan mengabadikan objek foto dengan ponsel miliknya sendiri. 

Dampaknya pun cukup signifikan terhadap penghasilan tukang foto. Seperti itulah yang disampaikan oleh salah satu tukang foto keliling wisatawan di DTW Pantai Tanah Lot, Beraban, Kediri, Tabanan, Nyoman Murdi.

Pria dengan berpakaian khas adat Bali hampir 20 tahun lebih melakoni pekerjaan sebagai tukang foto keliling.

Awalnya berbekal kamera Polaroid, dia kemudian beralih ke kamera digital Kodak 4R. Singkatnya harus beralih ke kamera digital dengan cetak langsung pakai printer. 

“Tujuannya agar konsumen dengan mudah mencetak foto langsung yang diinginkan,” ucap Nyoman Murdi.

Meski zaman sudah canggih, namun tidak dibandingkan dengan penghasilan sebagai tukang foto. Zaman canggih penghasilan mengalami penurunan. 

“Kalau dulu sebelum tahun 2000-an, rata-rata perhari kami dapat wisatawan yang berfoto mencapai 75 sampai 100 orang. Dengan harga saat satu kali cetak Rp 10 ribu.

Tetapi kini cukup susah kadang perharinya hanya 2 sampai 3 orang. Kadang kala tidak ada sama sekali pemesanan foto,” keluh pria berusia 58 tahun asal Banjar Batugaing, Desa Beraban ini.

Menurut Nyoman Murdi, saat ini musim liburan tiba dan kunjungan wisatawan meningkat. Bukan membawa berkah bagi tukang foto keliling di DTW Tanah Lot. Justru permintaan foto sepi. 

“Jadi mau musim liburan dan tidak musim liburan tak ada pengaruh bagi kami sebagai tukang foto keliling,” ucapnya. 

Permintaan foto keliling bagi wisatawan mulai menurun sejak tahun 2000 karena sudah masuk zaman digital. Wisatawan lebih banyak gunakan kamera dan ponselnya sendiri untuk berfoto. 

Menyiasati yang zaman serba canggih. Nyoman Murdi harus membawa semua peralatan fotografi yakni mesin cetak foto portable yang langsung dapat mencetak foto dengan cara transfer dari kamera ke printer via jaringan Wifi.

Biasanya pengunjung lebih banyak memilih ukuran foto 10R. “Meski zaman sudah canggih pekerjaan tukang foto keliling tetap saya lakukan. Di Tanah Lot ada sekitar 85 orang sebagai tukang foto keliling,” tandasnya. (*) 

 

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru