Ngenes…Korban Angin Kencang Tak Bisa Merayakan Kuningan

RadarBali.com – Musibah yang terjadi Desa Tigawasa ternyata membuat beberapa korban tidak bisa merayakan hari raya Kuningan yang jatuh pada hari ini.

Hal ini karena korban tak bisa menyelamatkan upakara atau banten untuk dihaturkan saat hujan yang disertai angin kencang menerpa rumahnya.

Hal tersebut diungkap Kepala Desa Tigawasa, Made Suadarmayasa, 48, kemarin. Ia mengatakan, keluhan tersebut datang dari warganya yang menjadi korban.

“Ada lima korban yang mengeluh demikian.  Atapnya terbang, sehingga air hujan masuk ke dalam rumah. Banten yang sudah disiapkan jauh-jauh hari pun rusak terkena air hujan,” ungkapnya.

Karena waktunya yang kurang sehari ini, warga yang bantennya rusak ini mengaku tak bisa membuatnya kembali. Meski begitu, Ia mengaku bersyukur karena tak ada korban jiwa dalam kejadian ini.

 “Selain itu, juga karena tidak punya biaya untuk membuat banten lagi. Namanya bencana, datang kapan saja kan,” tuturnya. 

Lalu, apa tindakan pascabencana? “Nanti kami data kembali kerusakannya apa-apa saja. Setelah itu nanti akan kami belikan bahan-bahan bangunannya.

Namun untuk yang rusak berat, yang tidak bisa dicover oleh desa akan kami usulkan bantuannya ke BPBD Buleleng,” jawabnya.

Untuk korban yang mengalami kerugian tidak terlalu berat, pihaknya akan menggunakan dana tak terduga untuk membantu warganya yang tertimpa bencana ini.

Dana tersebut berjumlah sekitar Rp 15 juta. Bantuan itu sebut Suadarmayasa bukan dalam bentuk uang, melainkan akan diberikan dalam bentuk bahan-bahan bangunan. 

RadarBali.com – Musibah yang terjadi Desa Tigawasa ternyata membuat beberapa korban tidak bisa merayakan hari raya Kuningan yang jatuh pada hari ini.

Hal ini karena korban tak bisa menyelamatkan upakara atau banten untuk dihaturkan saat hujan yang disertai angin kencang menerpa rumahnya.

Hal tersebut diungkap Kepala Desa Tigawasa, Made Suadarmayasa, 48, kemarin. Ia mengatakan, keluhan tersebut datang dari warganya yang menjadi korban.

“Ada lima korban yang mengeluh demikian.  Atapnya terbang, sehingga air hujan masuk ke dalam rumah. Banten yang sudah disiapkan jauh-jauh hari pun rusak terkena air hujan,” ungkapnya.

Karena waktunya yang kurang sehari ini, warga yang bantennya rusak ini mengaku tak bisa membuatnya kembali. Meski begitu, Ia mengaku bersyukur karena tak ada korban jiwa dalam kejadian ini.

 “Selain itu, juga karena tidak punya biaya untuk membuat banten lagi. Namanya bencana, datang kapan saja kan,” tuturnya. 

Lalu, apa tindakan pascabencana? “Nanti kami data kembali kerusakannya apa-apa saja. Setelah itu nanti akan kami belikan bahan-bahan bangunannya.

Namun untuk yang rusak berat, yang tidak bisa dicover oleh desa akan kami usulkan bantuannya ke BPBD Buleleng,” jawabnya.

Untuk korban yang mengalami kerugian tidak terlalu berat, pihaknya akan menggunakan dana tak terduga untuk membantu warganya yang tertimpa bencana ini.

Dana tersebut berjumlah sekitar Rp 15 juta. Bantuan itu sebut Suadarmayasa bukan dalam bentuk uang, melainkan akan diberikan dalam bentuk bahan-bahan bangunan. 

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru