27.5 C
Jakarta
19 Juni 2024, 3:24 AM WIB

Klaim Cukup 3 Hari Pasien Covid Bisa Sembuh dengan Konsumsi Arak

DENPASAR – Gubernur Bali Wayan Koster dan jajarannya tampaknya serius mempromosikan arak Bali sebagai ramuan untuk obat Coronavirus Disease (Covid-19).

Setelah berpromosi di depan Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan Bali, Pemprov Bali juga mempromosikannya di depan rombongan 

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) RI yang dipimpin

Sekretaris Kementerian PPN Himawan Hariyoga saat kunjungan kerja di Balai Adat Pendungan, Banjar Pitik, Pedungan, Denpasar, Senin (3/8).

Prof Made Agus Gelgel Wirasuta yang concern meneliti khasiat arak Bali memaparkan cara kerja ramuan temuannya yang sudah dimanfaatkan dalam proses pengobatan pasien Covid – 19.

Menurutnya, arak Bali terbukti mampu mempercepat proses penyembuhan yang biasanya jika menggunakan peningkatan antibodi pasien 

membutuhkan waktu sekitar 2 minggu, namun dengan ramuan arak waktu yang dibutuhkan untuk sembuh hanya 3 hari.

“Dalam lontar usadha Bali sudah banyak dimuat ramuan lokal bali, contohnya ramuan yang kami kembangkan. Dalam penanganan pasien covid – 19, 

ada 2 ramuan yang kami kembangkan. Yang pertama yakni ramuan dari daun kelor dan daun ubi merah yang mampu meningkatkan daya tahan tubuh. 

Ramuannya kami inovasi menjadi teh agar tidak menimbulkan kesan tidak enak saat diminum, saat ini sudah memiliki izin edar setelah didaftarkan hak paten oleh Universitas Udayana,” kata Prof Gelgel.

Ramuan berikutnya yang dikembangkan berbahan dasar arak, yang penemuannya diawali dengan kejadian meningkatnya penyebaran Covid -19 di Desa Serokadan, Bangli.

Saat itu salah seorang panglingsir setempat yang juga penekun pengobatan tradisional mendapat pawisik untuk memanfaatkan arak sebagai media pengobatan setelah melakukan meditasi. 

Info tersebut disampaikan kepada Prof. Gelgel untuk dilakukan riset secara kimia.

“Ramuan yang berikutnya yakni berasal dari arak lokal Bali. Sebenarnya metode ini sudah tidak asing, dilontar Bali juga sudah dimuat.

Bahkan, pengobatan internasional juga memanfaatkan therapy uap arak untuk pengobatan infeksi saluran pernapasan. 

Namun hal ini memiliki efek samping, jika kandungan alkohol terkonsentrasi maka akan menimbulkan bahaya terbakar, ini sangat berbahaya.

Di Amerika banyak dilaporkan kasus terbakar akibat menghirup uap alkohol. Hal inilah yang kembali kami riset dan modifikasi bersama bahan lainnya agar bisa menjadi obat terutama untuk pengobatan virus corona,” tegasnya.

Bukan hanya karena inisiatif sendiri saja, pengembangan ramuan ini menurutnya juga karena dukungan yang besar dari Gubernur Bali Wayan Koster 

yang mengharapkan adanya pengembangan obat yang berasal dari kearifan lokal mengingat banyak bukti bahwa pengobatan lokal Bali sangat berkhasiat. 

Belum adanya penemuan anti virus yang benar – benar mampu mencegah, dan ancaman penyebaran yang semakin banyak, 

ditambah dampak ekonomi yang semakin parah apabila waktu penanggulangan covid – 19 semakin lama, juga menjadi kajian Gubernur Koster dalam mendukung upaya penemuan ini. 

Dan hasilnya sangat bagus, karena sudah berhasil membantu penyembuhan pasien penderita virus corona. 

DENPASAR – Gubernur Bali Wayan Koster dan jajarannya tampaknya serius mempromosikan arak Bali sebagai ramuan untuk obat Coronavirus Disease (Covid-19).

Setelah berpromosi di depan Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan Bali, Pemprov Bali juga mempromosikannya di depan rombongan 

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) RI yang dipimpin

Sekretaris Kementerian PPN Himawan Hariyoga saat kunjungan kerja di Balai Adat Pendungan, Banjar Pitik, Pedungan, Denpasar, Senin (3/8).

Prof Made Agus Gelgel Wirasuta yang concern meneliti khasiat arak Bali memaparkan cara kerja ramuan temuannya yang sudah dimanfaatkan dalam proses pengobatan pasien Covid – 19.

Menurutnya, arak Bali terbukti mampu mempercepat proses penyembuhan yang biasanya jika menggunakan peningkatan antibodi pasien 

membutuhkan waktu sekitar 2 minggu, namun dengan ramuan arak waktu yang dibutuhkan untuk sembuh hanya 3 hari.

“Dalam lontar usadha Bali sudah banyak dimuat ramuan lokal bali, contohnya ramuan yang kami kembangkan. Dalam penanganan pasien covid – 19, 

ada 2 ramuan yang kami kembangkan. Yang pertama yakni ramuan dari daun kelor dan daun ubi merah yang mampu meningkatkan daya tahan tubuh. 

Ramuannya kami inovasi menjadi teh agar tidak menimbulkan kesan tidak enak saat diminum, saat ini sudah memiliki izin edar setelah didaftarkan hak paten oleh Universitas Udayana,” kata Prof Gelgel.

Ramuan berikutnya yang dikembangkan berbahan dasar arak, yang penemuannya diawali dengan kejadian meningkatnya penyebaran Covid -19 di Desa Serokadan, Bangli.

Saat itu salah seorang panglingsir setempat yang juga penekun pengobatan tradisional mendapat pawisik untuk memanfaatkan arak sebagai media pengobatan setelah melakukan meditasi. 

Info tersebut disampaikan kepada Prof. Gelgel untuk dilakukan riset secara kimia.

“Ramuan yang berikutnya yakni berasal dari arak lokal Bali. Sebenarnya metode ini sudah tidak asing, dilontar Bali juga sudah dimuat.

Bahkan, pengobatan internasional juga memanfaatkan therapy uap arak untuk pengobatan infeksi saluran pernapasan. 

Namun hal ini memiliki efek samping, jika kandungan alkohol terkonsentrasi maka akan menimbulkan bahaya terbakar, ini sangat berbahaya.

Di Amerika banyak dilaporkan kasus terbakar akibat menghirup uap alkohol. Hal inilah yang kembali kami riset dan modifikasi bersama bahan lainnya agar bisa menjadi obat terutama untuk pengobatan virus corona,” tegasnya.

Bukan hanya karena inisiatif sendiri saja, pengembangan ramuan ini menurutnya juga karena dukungan yang besar dari Gubernur Bali Wayan Koster 

yang mengharapkan adanya pengembangan obat yang berasal dari kearifan lokal mengingat banyak bukti bahwa pengobatan lokal Bali sangat berkhasiat. 

Belum adanya penemuan anti virus yang benar – benar mampu mencegah, dan ancaman penyebaran yang semakin banyak, 

ditambah dampak ekonomi yang semakin parah apabila waktu penanggulangan covid – 19 semakin lama, juga menjadi kajian Gubernur Koster dalam mendukung upaya penemuan ini. 

Dan hasilnya sangat bagus, karena sudah berhasil membantu penyembuhan pasien penderita virus corona. 

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/