29.4 C
Jakarta
19 Juni 2024, 19:59 PM WIB

Hujan Lebat di Musim Kemarau, BMKG: Penguapan di Atmosfer Tinggi

RadarBali.com – Hujan lebat beberapa hari terakhir mengguyur Gumi Bali. Bahkan, bisa dibilang sangat lebat. Dampaknya, mulai terjadi longsor dan banjir bandang di sejumlah titik.

Apakah bulan Oktober ini sudah masuk musim penghujan?

Kepala BMKG Wilayah III Denpasar, M. Taufik Gunawan, mengatakan, hujan lebat yang mengguyur sebagaian wilayah di Bali tidak dapat disimpulkan sebagai musim penghujan.

Dijelaskan, definisi musim hujan yakni jika sepuluh hari turun hujan dengan curah hujan 50 milimater/hari.

Curah hujan 50 milimater/hari tersebut juga harus terjadi minimal tiga hari bertuturt-turut. “Musim penghujan tidak harus setiap hari hujan. Musim kemarau tidak bukan berarti tidak boleh ada hujan,” terangnya.

Turunnya hujan saat ini, sambung Taufik, terjadi karena dinamika atmosfer serta faktor lokal. Misal tingkat kelembaban dan tingkat penguapan yang tinggi.

Tingkat penguapan yang tinggi ditandai masih menghangatnya suhu di atas 28 derajat celcius.

“Faktor berikunya adalah topografi. Daerah yang lembab seperti pegunungan bisa mengalami hujan,” beber pria asal Bandung, Jawa Barat, itu.

Radar BMKG memantau hujan banyak terjadi di Bali Tengah dan Timur. Salah satunya di sejumlah kecamatan di dekat Gunung Agung.

Taufik menegaskan, pihaknya selalu mengirim perkembangan cuaca pada posko penanganan bencana Gunung Agung dan PVMBG.

Sebab, hujan lebat bisa berbahaya jika gunung sudah meletus. “Kalau hujan lebat, gunung meletus itu bahaya. Bisa banjir bandang lahar dingin. Batu dan material lainya bisa menerjang,” bebernya.

Musim penghujan di Bali diprediksi mulai terjadi di Desember. Puncaknya pada Januari dan Februari. Sepuluh hari pertama musim hujan di Bali dimulai di wilayah Bali bagian tengah.

Meliputi Tabanan, Bedugul dan Bangli. Setelah itu musim hujan merambat ke ke tempat lainnya, yakni wilayah Bali Utara, Bali Timur, Bali Barat dan terakhir Nusa Penida.

“Seluruh wilayah Bali masuk musim penghujan pada Desember,” tukasnya.

RadarBali.com – Hujan lebat beberapa hari terakhir mengguyur Gumi Bali. Bahkan, bisa dibilang sangat lebat. Dampaknya, mulai terjadi longsor dan banjir bandang di sejumlah titik.

Apakah bulan Oktober ini sudah masuk musim penghujan?

Kepala BMKG Wilayah III Denpasar, M. Taufik Gunawan, mengatakan, hujan lebat yang mengguyur sebagaian wilayah di Bali tidak dapat disimpulkan sebagai musim penghujan.

Dijelaskan, definisi musim hujan yakni jika sepuluh hari turun hujan dengan curah hujan 50 milimater/hari.

Curah hujan 50 milimater/hari tersebut juga harus terjadi minimal tiga hari bertuturt-turut. “Musim penghujan tidak harus setiap hari hujan. Musim kemarau tidak bukan berarti tidak boleh ada hujan,” terangnya.

Turunnya hujan saat ini, sambung Taufik, terjadi karena dinamika atmosfer serta faktor lokal. Misal tingkat kelembaban dan tingkat penguapan yang tinggi.

Tingkat penguapan yang tinggi ditandai masih menghangatnya suhu di atas 28 derajat celcius.

“Faktor berikunya adalah topografi. Daerah yang lembab seperti pegunungan bisa mengalami hujan,” beber pria asal Bandung, Jawa Barat, itu.

Radar BMKG memantau hujan banyak terjadi di Bali Tengah dan Timur. Salah satunya di sejumlah kecamatan di dekat Gunung Agung.

Taufik menegaskan, pihaknya selalu mengirim perkembangan cuaca pada posko penanganan bencana Gunung Agung dan PVMBG.

Sebab, hujan lebat bisa berbahaya jika gunung sudah meletus. “Kalau hujan lebat, gunung meletus itu bahaya. Bisa banjir bandang lahar dingin. Batu dan material lainya bisa menerjang,” bebernya.

Musim penghujan di Bali diprediksi mulai terjadi di Desember. Puncaknya pada Januari dan Februari. Sepuluh hari pertama musim hujan di Bali dimulai di wilayah Bali bagian tengah.

Meliputi Tabanan, Bedugul dan Bangli. Setelah itu musim hujan merambat ke ke tempat lainnya, yakni wilayah Bali Utara, Bali Timur, Bali Barat dan terakhir Nusa Penida.

“Seluruh wilayah Bali masuk musim penghujan pada Desember,” tukasnya.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/