25.8 C
Jakarta
Friday, January 27, 2023

Mengikuti Acara Krama Istri di Tabanan Membuat Banten Nangluk Mrana Penolak Serangan Hama

Antusiasme sangat terlihat dari wajah krama istri yang datang hadir mengikuti keterampilan pembuatan banten nangluk mrana di areal Museum Subak Tabanan Rabu pagi (2/11). Tangan-tangan dari krama istri terlihat terampil membuat banten nangluk mrana.

SEGALA keperluan sudah disiapkan.  Mereka krama istri yang berasal dari berbagai kecamatan yang di Tabanan secara berkelompok membuat banten nangluk mrana. Setiap kecamatan mengirimkan krama istri sebanyak 45 orang untuk mengikuti pelatihan itu.

Selain mereka diberikan pelatihan secara langsung pembuatan banten juga pula diberikan materi dan penjelasan tentang banten nangluk mrana.

Pelatihan pembuatan banten atau biasa disebut mejejahitan ini kali kedua dilakukan oleh Museum Subak Tabanan, setelah sebelumnya diajarkan pembuatan banten biukukung.

Pembuatan banten nangluk mrana ini sebenarnya sangat identik dengan ritual di lahan pertanian sebagai upaya pelestarian subak dan budaya Bali.

Yang menarik,  dari pelatihan pembuatan banten nangluk mrana ini. Banten tersebut bukan  banten biasa. Melainkan sebuah banten untuk upacara ritual di lahan pertanian yang ditujukan untuk memberantas hama penyakit yang mengganggu kehidupan tanaman padi.

Mejejahitan atau pembuatan banten nangluk mrana akan berlangsung selama 1-15 November nantinya. Jadwalnya kami sesuaikan, kalau memang pihak kecamatan ada kegiatan atau hambatan keperluan lainnya waktu masih kami bisa geser jadwal mereka, tetapi tetap periode tanggal tersebut,” kata Kepala UPTD Museum Subak Tabanan Putra Eka Santi ditemui sela-sela acara itu.

Pelatihan pembuatan banten nangluk mrana ini bukan hanya bagi krama istri petani, melainkan pula bagi krama istri lainnya. dan pelatihan semacam ini memang sudah kedua kali pihaknya lakukan di Museum Subak.

Namun kali ini sedikit perbedaan banten yang buat adalah banten ritual untuk penangkal serangan hama penyakit di lahan pertanian tanaman padi.

Eka Santi menjelaskan ritual nangluk mrana di masa lalu lebih akrab dilakukan di sawah, karena lebih ditujukan untuk memberantas hama yang menyerang tanaman padi milik petani.

Akan tetapi sekarang nangluk mrana di zaman modern ini ritualnya juga dilakukan dilakukan di rumah-rumah dan jalan raya (perempatan jalan).

Jadi mengapa pihaknya mengangkat pembelajaran banten nangluk mrane agar masyarakat tidak sebatas sekedar menerus tradisi tanpa tahu makna dan fungsi, dan bentuk banten.

“Itulah yang kami pertajam dan asah pada krama istri,” ungkapnya.

Eka menambahkan pada ritual nangluk mrane, banten yang disiapkan sangat sederhana namun ritual ini sebagai pengingat kuasa alam terhadap manusia.

Misalnya untuk upacara nangluk mrana kerusakan tanaman padi akibat burung. Upakara yang disiapkan antara lain canang dua tanding, buah-buahan, nyahnyah gringsing dan lain-lain.

Sementara untuk upacara kerusakan tanaman padi akibat tikus disiapkan banten. Ini  berupa bubuh pirata metelopokan, canang lenge, wangi burat, wangi bantenan ring pengalapan.

“Bukan hanya itu krama istri juga diajarkan pembuatan banteng nangluk mrana akibat bojog (monyet), kerusakan tanaman padi akibat burung gagak dan pembuatan banten lainnya. Lengkap pula diajarkan mantra yang harus dibaca,” terangnya.

Setelah mereka dibekali pembuatan banten nangluk mrana pihaknya berharap mudah-mudahan bisa langsung diterapkan oleh krama istri.

Karena banten nangluk mrana fungsi utuhnya mencegah kerusakan tanaman padi untuk urusan niskala.“Jadi kita memohon kepada pemilik alam semesta semoga hama itu bisa di hilangkan di lahan persawahan,” pungkasnya. (juliadi/radar bali)

 

Antusiasme sangat terlihat dari wajah krama istri yang datang hadir mengikuti keterampilan pembuatan banten nangluk mrana di areal Museum Subak Tabanan Rabu pagi (2/11). Tangan-tangan dari krama istri terlihat terampil membuat banten nangluk mrana.

SEGALA keperluan sudah disiapkan.  Mereka krama istri yang berasal dari berbagai kecamatan yang di Tabanan secara berkelompok membuat banten nangluk mrana. Setiap kecamatan mengirimkan krama istri sebanyak 45 orang untuk mengikuti pelatihan itu.

Selain mereka diberikan pelatihan secara langsung pembuatan banten juga pula diberikan materi dan penjelasan tentang banten nangluk mrana.

Pelatihan pembuatan banten atau biasa disebut mejejahitan ini kali kedua dilakukan oleh Museum Subak Tabanan, setelah sebelumnya diajarkan pembuatan banten biukukung.

Pembuatan banten nangluk mrana ini sebenarnya sangat identik dengan ritual di lahan pertanian sebagai upaya pelestarian subak dan budaya Bali.

Yang menarik,  dari pelatihan pembuatan banten nangluk mrana ini. Banten tersebut bukan  banten biasa. Melainkan sebuah banten untuk upacara ritual di lahan pertanian yang ditujukan untuk memberantas hama penyakit yang mengganggu kehidupan tanaman padi.

Mejejahitan atau pembuatan banten nangluk mrana akan berlangsung selama 1-15 November nantinya. Jadwalnya kami sesuaikan, kalau memang pihak kecamatan ada kegiatan atau hambatan keperluan lainnya waktu masih kami bisa geser jadwal mereka, tetapi tetap periode tanggal tersebut,” kata Kepala UPTD Museum Subak Tabanan Putra Eka Santi ditemui sela-sela acara itu.

Pelatihan pembuatan banten nangluk mrana ini bukan hanya bagi krama istri petani, melainkan pula bagi krama istri lainnya. dan pelatihan semacam ini memang sudah kedua kali pihaknya lakukan di Museum Subak.

Namun kali ini sedikit perbedaan banten yang buat adalah banten ritual untuk penangkal serangan hama penyakit di lahan pertanian tanaman padi.

Eka Santi menjelaskan ritual nangluk mrana di masa lalu lebih akrab dilakukan di sawah, karena lebih ditujukan untuk memberantas hama yang menyerang tanaman padi milik petani.

Akan tetapi sekarang nangluk mrana di zaman modern ini ritualnya juga dilakukan dilakukan di rumah-rumah dan jalan raya (perempatan jalan).

Jadi mengapa pihaknya mengangkat pembelajaran banten nangluk mrane agar masyarakat tidak sebatas sekedar menerus tradisi tanpa tahu makna dan fungsi, dan bentuk banten.

“Itulah yang kami pertajam dan asah pada krama istri,” ungkapnya.

Eka menambahkan pada ritual nangluk mrane, banten yang disiapkan sangat sederhana namun ritual ini sebagai pengingat kuasa alam terhadap manusia.

Misalnya untuk upacara nangluk mrana kerusakan tanaman padi akibat burung. Upakara yang disiapkan antara lain canang dua tanding, buah-buahan, nyahnyah gringsing dan lain-lain.

Sementara untuk upacara kerusakan tanaman padi akibat tikus disiapkan banten. Ini  berupa bubuh pirata metelopokan, canang lenge, wangi burat, wangi bantenan ring pengalapan.

“Bukan hanya itu krama istri juga diajarkan pembuatan banteng nangluk mrana akibat bojog (monyet), kerusakan tanaman padi akibat burung gagak dan pembuatan banten lainnya. Lengkap pula diajarkan mantra yang harus dibaca,” terangnya.

Setelah mereka dibekali pembuatan banten nangluk mrana pihaknya berharap mudah-mudahan bisa langsung diterapkan oleh krama istri.

Karena banten nangluk mrana fungsi utuhnya mencegah kerusakan tanaman padi untuk urusan niskala.“Jadi kita memohon kepada pemilik alam semesta semoga hama itu bisa di hilangkan di lahan persawahan,” pungkasnya. (juliadi/radar bali)

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru