31.1 C
Jakarta
30 April 2024, 10:52 AM WIB

Riset Pakar, Gojek Sumbang Perekonomian Denpasar Hingga Rp 1,9 T

DENPASAR-Munculnya wacana penutupan angkutan atau transportasi online oleh Gubernur Bali Wayan Koster menuai sorotan dari pakar.

 

Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (LD FEB) Universitas Indonesia (UI) memaparkan, sesuai hasil riset, kontribusi mitra GOJEK pada perekonomian di Kota Denpasar pada 2018 mencapai hingga Rp1,9 triliun.

“Kontribusi yang semakin besar dari GOJEK menunjukkan bahwa teknologi mampu mempercepat pertumbuhan ekonomi khususnya ke perekonomian daerah,” terang Wakil Kepala LLD FEB UI Dr Paksi CK Walandouw di Denpasar, Kamis (16/5).

Paksi menyebut hasil riset di Denpasar merupakan bagian dari riset yang dilakukan LD FEB UI bertajuk “Dampak GOJEK terhadap Perekonomian Indonesia pada Tahun 2018” yang dilaksanakan di sembilan kota di Indonesia.

Angka kontribusi mitra GOJEK sebesar Rp 1,9 triliun terhadap perekonomian Denpasar pada 2018 itu disumbang dari mitra pengemudi layanan GO-CAR yang berkontribusi Rp 190 milliar, mitra pengemudi GO-RIDE menyumbang Rp 814 milliar, mitra UMKM GO-FOOD kontribusinya Rp 892 milliar dan mitra GO-LIFE (GO-CLEAN dan GO-MASSAGE) dengan kontribusinya Rp 48 milliar.

“Perhitungan kontribusi ekonomi yang kami maksud berasal dari selisih pendapatan mitra GOJEK dari sebelum hingga setelah mereka bergabung di GOJEK,. Penelitian ini mencakup mitra dari empat layanan GOJEK, yaitu layanan roda-dua GO-RIDE, roda-empat GO-CAR, GO-FOOD, dan GO-LIFE,” ucap Paksi.

Riset yang dilakukan di beberapa wilayah di Indonesia, termasuk Denpasar dengan menggunakan metode kuantitatif melalui wawancara tatap muka, dengan responden dipilih dengan pencuplikan acak  sederhana (simple random sampling) dari database mitra yang aktif dalam tiga bulan terakhir.  Responden di Denpasar yang merupakan mitra GO-RIDE (385 responden); mitra GO-CAR (50 responden); dan mitra UMKM GO-FOOD (100 responden); dan mitra GO-LIFE (sebanyak 80 responden).

Dari riset yang dilaksanakan, juga dapat diketahui rata-rata penghasilan mitra GOJEK ternyata telah berada di atas upah minimum Kota Denpasar.

Adapun rata-rata pendapatan mitra GO-CAR di Denpasar kata Paksi, yakni sebesar Rp 5,8 juta sedangkan rata-rata pendapatan mitra GO-RIDE di Denpasar Rp 4,6 juta dan rata-rata pendapatan mitra GO-LIFE di Denpasar sebesar Rp 4,9 juta.

Dari mitra GOJEK yang diteliti, mitra GO-CAR ternyata mengalami peningkatan  pendapatan tertinggi, yaitu 75 persen jika dibandingkan dengan pendapatan mereka sebelum bergabung dengan GOJEK.

Selebihnya, para mitra GO-CAR juga menggerakkan roda perekonomian daerah terlihat dari peningkatan pengeluaran sebesar 32 persen sejak bergabung di  GOJEK.

“Rata-rata pendapatan mitra GO-CAR yang mencapai hampir 2,5 kali lebih tinggi daripada UMK Denpasar menunjukkan adanya permintaan (demand) masyarakat di Denpasar terhadap layanan jasa  roda-empat online. Melalui penghasilannya, mitra GO-CAR juga berkontribusi cukup signifikan ke perekonomian daerah,” imbuh Paksi.

Tidak hanya kontribusi secara ekonomi, penelitian ini juga menunjukkan bahwa tiga manfaat utama  yang dirasakan sebagai mitra pengemudi di GOJEK yakni bisa mengatur waktu kerja, bisa memiliki waktu lebih bersama keluarga, dan mempunyai waktu lebih untuk menabung atau bekerja sambilan yang lain.

Paksi mengatakan studi serupa telah dilaksanakan pada 2017, yang menunjukkan kontribusi GOJEK dari dua layanan (roda dua dan UMKM) di Denpasar yang mencapai Rp 882 miliar.

“Dengan demikian, GOJEK sebagai pemain utama industri teknologi di Indonesia telah menunjukkan bagaimana inovasi teknologinya dapat memperluas peluang penghasilan bagi seluruh lapisan masyarakat dari berbagai latar belakang pendidikan dan usia,” katanya.

Sehingga balik sola munculnya wacana penutupan transportasi online, Paksi meminta agar wacana yang digulirkan gubernur Bali harus mempertimbangkan dampak social dan pspikologi.

“Sehingga harus ada pertimbangan dampak sosial dan ekonomi serta psikologi terhadap mitra transportasi khususnya transportasi online,”tukasnya.

DENPASAR-Munculnya wacana penutupan angkutan atau transportasi online oleh Gubernur Bali Wayan Koster menuai sorotan dari pakar.

 

Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (LD FEB) Universitas Indonesia (UI) memaparkan, sesuai hasil riset, kontribusi mitra GOJEK pada perekonomian di Kota Denpasar pada 2018 mencapai hingga Rp1,9 triliun.

“Kontribusi yang semakin besar dari GOJEK menunjukkan bahwa teknologi mampu mempercepat pertumbuhan ekonomi khususnya ke perekonomian daerah,” terang Wakil Kepala LLD FEB UI Dr Paksi CK Walandouw di Denpasar, Kamis (16/5).

Paksi menyebut hasil riset di Denpasar merupakan bagian dari riset yang dilakukan LD FEB UI bertajuk “Dampak GOJEK terhadap Perekonomian Indonesia pada Tahun 2018” yang dilaksanakan di sembilan kota di Indonesia.

Angka kontribusi mitra GOJEK sebesar Rp 1,9 triliun terhadap perekonomian Denpasar pada 2018 itu disumbang dari mitra pengemudi layanan GO-CAR yang berkontribusi Rp 190 milliar, mitra pengemudi GO-RIDE menyumbang Rp 814 milliar, mitra UMKM GO-FOOD kontribusinya Rp 892 milliar dan mitra GO-LIFE (GO-CLEAN dan GO-MASSAGE) dengan kontribusinya Rp 48 milliar.

“Perhitungan kontribusi ekonomi yang kami maksud berasal dari selisih pendapatan mitra GOJEK dari sebelum hingga setelah mereka bergabung di GOJEK,. Penelitian ini mencakup mitra dari empat layanan GOJEK, yaitu layanan roda-dua GO-RIDE, roda-empat GO-CAR, GO-FOOD, dan GO-LIFE,” ucap Paksi.

Riset yang dilakukan di beberapa wilayah di Indonesia, termasuk Denpasar dengan menggunakan metode kuantitatif melalui wawancara tatap muka, dengan responden dipilih dengan pencuplikan acak  sederhana (simple random sampling) dari database mitra yang aktif dalam tiga bulan terakhir.  Responden di Denpasar yang merupakan mitra GO-RIDE (385 responden); mitra GO-CAR (50 responden); dan mitra UMKM GO-FOOD (100 responden); dan mitra GO-LIFE (sebanyak 80 responden).

Dari riset yang dilaksanakan, juga dapat diketahui rata-rata penghasilan mitra GOJEK ternyata telah berada di atas upah minimum Kota Denpasar.

Adapun rata-rata pendapatan mitra GO-CAR di Denpasar kata Paksi, yakni sebesar Rp 5,8 juta sedangkan rata-rata pendapatan mitra GO-RIDE di Denpasar Rp 4,6 juta dan rata-rata pendapatan mitra GO-LIFE di Denpasar sebesar Rp 4,9 juta.

Dari mitra GOJEK yang diteliti, mitra GO-CAR ternyata mengalami peningkatan  pendapatan tertinggi, yaitu 75 persen jika dibandingkan dengan pendapatan mereka sebelum bergabung dengan GOJEK.

Selebihnya, para mitra GO-CAR juga menggerakkan roda perekonomian daerah terlihat dari peningkatan pengeluaran sebesar 32 persen sejak bergabung di  GOJEK.

“Rata-rata pendapatan mitra GO-CAR yang mencapai hampir 2,5 kali lebih tinggi daripada UMK Denpasar menunjukkan adanya permintaan (demand) masyarakat di Denpasar terhadap layanan jasa  roda-empat online. Melalui penghasilannya, mitra GO-CAR juga berkontribusi cukup signifikan ke perekonomian daerah,” imbuh Paksi.

Tidak hanya kontribusi secara ekonomi, penelitian ini juga menunjukkan bahwa tiga manfaat utama  yang dirasakan sebagai mitra pengemudi di GOJEK yakni bisa mengatur waktu kerja, bisa memiliki waktu lebih bersama keluarga, dan mempunyai waktu lebih untuk menabung atau bekerja sambilan yang lain.

Paksi mengatakan studi serupa telah dilaksanakan pada 2017, yang menunjukkan kontribusi GOJEK dari dua layanan (roda dua dan UMKM) di Denpasar yang mencapai Rp 882 miliar.

“Dengan demikian, GOJEK sebagai pemain utama industri teknologi di Indonesia telah menunjukkan bagaimana inovasi teknologinya dapat memperluas peluang penghasilan bagi seluruh lapisan masyarakat dari berbagai latar belakang pendidikan dan usia,” katanya.

Sehingga balik sola munculnya wacana penutupan transportasi online, Paksi meminta agar wacana yang digulirkan gubernur Bali harus mempertimbangkan dampak social dan pspikologi.

“Sehingga harus ada pertimbangan dampak sosial dan ekonomi serta psikologi terhadap mitra transportasi khususnya transportasi online,”tukasnya.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/