26.7 C
Jakarta
19 April 2024, 1:05 AM WIB

Pemimpin Agama Dunia Kumpul di Bali, Bahas Peran Agama Mewujudkan Perdamaian

DENPASAR – Sejumlah pemuka agama internasional menggelar konferensi di Nusa Dua, Kita Selatan. Gagasan diadakannya konferensi para pemuka agama internasional ini telah dikembangkan oleh PBNU tepat setelah kongres nasional yang digelar Desember tahun 2021 lalu.“Idenya adalah agar para pemimpin agama internasional berkumpul dan melakukan percakapan yang jujur ​​​​dan lugas mengenai dua topik mendasar,” kata Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf di Nusa Dua, Kuta Selatan, Selasa (1/11/2022).

 Dilanjutkannya, dua hal mendasar yang dimaksud terdiri dari, pertama bagaimana menyikapi realitas problematika relasi komunal antar kelompok agama yang berbeda dan kenyataannya masih menjadi situasi yang sangat problematis dalam berbagai krisis di dunia. Lalu yang kedua, tentang bagaimana para pemuka agama dapat mengembangkan visi tentang agama yang dapat menjadi sumber solusi atas berbagai permasalahan global dengan menanamkan nilai-nilai luhur dan spiritual agama ke dalam dinamika politik dan ekonomi internasional. “Karena Indonesia menjadi tuan rumah G20 tahun ini sebagai presidensi tahunan G20 tahun ini, PBNU membawa ide itu ke pemerintah, Presiden Jokowi, dan mengusulkan ide ini untuk diadopsi ke dalam forum G20 dan kami sudah mendapat persetujuan sekarang,” tambanya.

 Dijelaskannya, visi dari agenda ini bukan hanya sekadar sebagai sebuah even atau konferensi, lebih dari itu. Bagaimana mencari perkembangan ide ini menjadi sebuah gerakan global. “UntukUntuk itulah kami membawa ide ini kepada pemerintah untuk diadopsi dalam forum G20, sehingga R20 atau Forum Keagamaan G20 ini dapat diadopsi ke dalam forum tahunan G20 dari tahun ke tahun. Jadi, karena kami ingin mengembangkan ide ini menjadi gerakan global, kami membutuhkan mitra yang kuat dan terkemuka untuk bergabung dengan kami dalam acara ini,” tambahnya.

 Salah satu mitra kuat yang dimaksud adalah Muslim World League (MWL). Hal itu karena MWL dianggap sebagai entitas terpenting di dunia sebagai organisasi internasional. “Kami percaya bahwa bekerja sama dengan MWL dengan kemauan MWL untuk memanfaatkan visi kami untuk memiliki ide ini menjadi gerakan internasional dan dapat dicapai secara lebih realistis,” tambahnya.

 Sementara itu pada kesempatan yang  sama, Sekretaris Jenderal Liga Muslim Dunia (MWL) Dr. Syekh Mohammed Al-Issa Menyampaikan, bahwa pihaknya berbahagia karena terlibat dalam forum R20 yang merupakan rangkaian dalam G20. Dia juga menyampaikan kegembiraan bisa bekerja sama dengan PBNU sebagai lembaga Islam terbesar di Indonesia.

Dr. Syekh Mohammed Al-Issa menekankan bagaimana menghadapi problem di dunia internasional ada konflik yang dilatari oleh faktor agama dan perbedaan di kalangan antar kelompok. Menurutnya hal itu menjadi tugas bersama setiap kalangan. “Forum R20 sangat penting bagi kita untuk mewujudkan berbagai gagasan menuju perdamaian secara nyata. Sebab selama ini banyak dialog yang dilakukan tapi semua itu masih tataran konsep, inilah kita mewujudkan melalui aksi nyata. R20 ini bahkan sudah mendapat persetujuan dari Presiden RI sebagai Presiden G20 untuk tahun ini,” katanya.

Menururnya, ada banyak persoalan yang muncul dari akar agama. Dari situlah muncul pemikiran bagaimana forum R20 dapat menghadirkan solusi-solusi, mengurai akar konflik yang berasal dari agama. Sehingga dapat dipahami bahwa persoalan tersebut didasari faktor materi ada juga persoalan ketidaktahuan terhadap teks-teks agama dan adanya upaya penyimpangan terhadap teks-teks tersebut.

“Ini merupakan aksi nyata yang komprehensif untuk mengatasi berbagai persoalan yang terjadi saat ini. Menjadi tugas R20 untuk mewujudkan bagaimana mewujudkan harmoni nasional dari berbagai entitas kebangsaan agar tidak saling mereduksi,” tandasnya. (Marsellus Nabunome Pampur/rid)

DENPASAR – Sejumlah pemuka agama internasional menggelar konferensi di Nusa Dua, Kita Selatan. Gagasan diadakannya konferensi para pemuka agama internasional ini telah dikembangkan oleh PBNU tepat setelah kongres nasional yang digelar Desember tahun 2021 lalu.“Idenya adalah agar para pemimpin agama internasional berkumpul dan melakukan percakapan yang jujur ​​​​dan lugas mengenai dua topik mendasar,” kata Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf di Nusa Dua, Kuta Selatan, Selasa (1/11/2022).

 Dilanjutkannya, dua hal mendasar yang dimaksud terdiri dari, pertama bagaimana menyikapi realitas problematika relasi komunal antar kelompok agama yang berbeda dan kenyataannya masih menjadi situasi yang sangat problematis dalam berbagai krisis di dunia. Lalu yang kedua, tentang bagaimana para pemuka agama dapat mengembangkan visi tentang agama yang dapat menjadi sumber solusi atas berbagai permasalahan global dengan menanamkan nilai-nilai luhur dan spiritual agama ke dalam dinamika politik dan ekonomi internasional. “Karena Indonesia menjadi tuan rumah G20 tahun ini sebagai presidensi tahunan G20 tahun ini, PBNU membawa ide itu ke pemerintah, Presiden Jokowi, dan mengusulkan ide ini untuk diadopsi ke dalam forum G20 dan kami sudah mendapat persetujuan sekarang,” tambanya.

 Dijelaskannya, visi dari agenda ini bukan hanya sekadar sebagai sebuah even atau konferensi, lebih dari itu. Bagaimana mencari perkembangan ide ini menjadi sebuah gerakan global. “UntukUntuk itulah kami membawa ide ini kepada pemerintah untuk diadopsi dalam forum G20, sehingga R20 atau Forum Keagamaan G20 ini dapat diadopsi ke dalam forum tahunan G20 dari tahun ke tahun. Jadi, karena kami ingin mengembangkan ide ini menjadi gerakan global, kami membutuhkan mitra yang kuat dan terkemuka untuk bergabung dengan kami dalam acara ini,” tambahnya.

 Salah satu mitra kuat yang dimaksud adalah Muslim World League (MWL). Hal itu karena MWL dianggap sebagai entitas terpenting di dunia sebagai organisasi internasional. “Kami percaya bahwa bekerja sama dengan MWL dengan kemauan MWL untuk memanfaatkan visi kami untuk memiliki ide ini menjadi gerakan internasional dan dapat dicapai secara lebih realistis,” tambahnya.

 Sementara itu pada kesempatan yang  sama, Sekretaris Jenderal Liga Muslim Dunia (MWL) Dr. Syekh Mohammed Al-Issa Menyampaikan, bahwa pihaknya berbahagia karena terlibat dalam forum R20 yang merupakan rangkaian dalam G20. Dia juga menyampaikan kegembiraan bisa bekerja sama dengan PBNU sebagai lembaga Islam terbesar di Indonesia.

Dr. Syekh Mohammed Al-Issa menekankan bagaimana menghadapi problem di dunia internasional ada konflik yang dilatari oleh faktor agama dan perbedaan di kalangan antar kelompok. Menurutnya hal itu menjadi tugas bersama setiap kalangan. “Forum R20 sangat penting bagi kita untuk mewujudkan berbagai gagasan menuju perdamaian secara nyata. Sebab selama ini banyak dialog yang dilakukan tapi semua itu masih tataran konsep, inilah kita mewujudkan melalui aksi nyata. R20 ini bahkan sudah mendapat persetujuan dari Presiden RI sebagai Presiden G20 untuk tahun ini,” katanya.

Menururnya, ada banyak persoalan yang muncul dari akar agama. Dari situlah muncul pemikiran bagaimana forum R20 dapat menghadirkan solusi-solusi, mengurai akar konflik yang berasal dari agama. Sehingga dapat dipahami bahwa persoalan tersebut didasari faktor materi ada juga persoalan ketidaktahuan terhadap teks-teks agama dan adanya upaya penyimpangan terhadap teks-teks tersebut.

“Ini merupakan aksi nyata yang komprehensif untuk mengatasi berbagai persoalan yang terjadi saat ini. Menjadi tugas R20 untuk mewujudkan bagaimana mewujudkan harmoni nasional dari berbagai entitas kebangsaan agar tidak saling mereduksi,” tandasnya. (Marsellus Nabunome Pampur/rid)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/