31.1 C
Jakarta
22 April 2024, 20:39 PM WIB

Jarak Sekolah Kejauhan, Warga Julah Tuntut SMP Baru

JULAH – Warga di Desa Julah mendesak pemerintah membangun SMP negeri baru di desa mereka.

Sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) yang menggunakan zonasi, dianggap merugikan siswa-siswa asal Julah. Sebab mereka sulit diterima di sekolah negeri.

PPDB dengan sistem zonasi sudah diberlakukan di Buleleng sejak dua tahun terakhir.Hanya saja, sistem ini menyulitkan siswa-siswa asal Julah yang ingin menempuh ke jenjang SMP.

Dari hitung-hitungan jarak, para siswa lebih cocok bersekolah di SMPN 4 Tejakula yang terletak di Desa Bondalem.

Jarak sekolah dengan pusat desa hanya sekitar dua kilometer. Namun, siswa kalah saing dengan siswa asal Desa Bondalem.

“Penduduk di Bondalem itu banyak. Tiap tahun kelas di sana sudah habis untuk menampung penduduk Bondalem saja.

Akhinya ada yang ke Sembiran (SMPN 3 Tejakula. Tapi kan jauh,” kata Kelian Desa Pakraman Julah Ketut Sidemen.

Ia menyatakan masalah itu bukan hanya dihadapi siswa asal Julah. Namun, juga siswa asal Desa Pacung.

Tantangan yang dihadapi lulusan SD asal Pacung bahkan lebih kompleks. Sebab pemukiman mereka cukup jauh dari SMP terdekat.

“Di Pacung ada 3 SD, di Julah juga 3 SD. Tiap tahun ada yang lulus. Kami harap masalah ini bisa diselesaikan tahun ajaran baru ini,” imbuhnya.

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Buleleng Gede Dharmaja yang dikonfirmasi terpisah, mengaku sudah mengetahui keluhan masyarakat itu.

Dharmaja mengatakan pemerintah akan menyiapkan solusi jangka pendek dan solusi jangka panjang terhadap permasalahan tersebut.

“Solusi jangka pendek, ya membangun SMP Negeri satu atap. Itu bisa dilakukan tahun ajaran baru ini.

Solusi jangka panjangnya, tentu harus membangun gedung sekolah baru. Sehingga bisa menampung siswa dari Julah dan Pacung,” kata Dharmaja.

Untuk pembentukan SMP negeri satu atap baru, Dharmaja mengaku akan menyiapkan tenaga guru terlebih dulu.

Sementara untuk ruang kelas, akan menggunakan fasilitas di SD terdekat. Rencananya Disdikpora Buleleng akan menggunakan fasilitas ruang kelas di SDN 1 Julah.

Asal tahu saja, hingga kini Disdikpora Buleleng telah mendirikan enam SMP negeri reguler, serta satu SMP negeri satu atap.

Sekolah-sekolah itu sengaja dibentuk, mengingat wilayah Kecamatan Tejakula memiliki topografi yang cukup sulit. 

JULAH – Warga di Desa Julah mendesak pemerintah membangun SMP negeri baru di desa mereka.

Sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) yang menggunakan zonasi, dianggap merugikan siswa-siswa asal Julah. Sebab mereka sulit diterima di sekolah negeri.

PPDB dengan sistem zonasi sudah diberlakukan di Buleleng sejak dua tahun terakhir.Hanya saja, sistem ini menyulitkan siswa-siswa asal Julah yang ingin menempuh ke jenjang SMP.

Dari hitung-hitungan jarak, para siswa lebih cocok bersekolah di SMPN 4 Tejakula yang terletak di Desa Bondalem.

Jarak sekolah dengan pusat desa hanya sekitar dua kilometer. Namun, siswa kalah saing dengan siswa asal Desa Bondalem.

“Penduduk di Bondalem itu banyak. Tiap tahun kelas di sana sudah habis untuk menampung penduduk Bondalem saja.

Akhinya ada yang ke Sembiran (SMPN 3 Tejakula. Tapi kan jauh,” kata Kelian Desa Pakraman Julah Ketut Sidemen.

Ia menyatakan masalah itu bukan hanya dihadapi siswa asal Julah. Namun, juga siswa asal Desa Pacung.

Tantangan yang dihadapi lulusan SD asal Pacung bahkan lebih kompleks. Sebab pemukiman mereka cukup jauh dari SMP terdekat.

“Di Pacung ada 3 SD, di Julah juga 3 SD. Tiap tahun ada yang lulus. Kami harap masalah ini bisa diselesaikan tahun ajaran baru ini,” imbuhnya.

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Buleleng Gede Dharmaja yang dikonfirmasi terpisah, mengaku sudah mengetahui keluhan masyarakat itu.

Dharmaja mengatakan pemerintah akan menyiapkan solusi jangka pendek dan solusi jangka panjang terhadap permasalahan tersebut.

“Solusi jangka pendek, ya membangun SMP Negeri satu atap. Itu bisa dilakukan tahun ajaran baru ini.

Solusi jangka panjangnya, tentu harus membangun gedung sekolah baru. Sehingga bisa menampung siswa dari Julah dan Pacung,” kata Dharmaja.

Untuk pembentukan SMP negeri satu atap baru, Dharmaja mengaku akan menyiapkan tenaga guru terlebih dulu.

Sementara untuk ruang kelas, akan menggunakan fasilitas di SD terdekat. Rencananya Disdikpora Buleleng akan menggunakan fasilitas ruang kelas di SDN 1 Julah.

Asal tahu saja, hingga kini Disdikpora Buleleng telah mendirikan enam SMP negeri reguler, serta satu SMP negeri satu atap.

Sekolah-sekolah itu sengaja dibentuk, mengingat wilayah Kecamatan Tejakula memiliki topografi yang cukup sulit. 

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/