Warning: Undefined variable $reporternya in /var/www/devwpradar/wp-content/themes/Newspaper/functions.php on line 229
27.3 C
Jakarta
21 Juli 2024, 4:21 AM WIB

Suasana Mencekam, Terdengar Ledakan Berkali-kali

Sejak Rusia invasi Ukraina, penjagaan ketat diberlakukan di Ukraina. Ni Wayan Era Rustini, 26, Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Banjar Puseh, Desa Angantaka, Kecamatan Abiansemal, Badung mendengar jelas suara ledakan berkali-kali dari apartemennya. Sempat beberapa hari diselimuti suasana mencekam, akhirnya perempuan yang arab dipanggil Era ini tiba di Bali pada Senin (7/3) pukul 19.30. Seperti apa ceritanya?

 

Dwija Putra, Badung

 

NI Wayan Era Rustini sudah berada di Ukraina selama setahun lebih. Dia bekerja sebagai therapist di spa. Era bersama lima orang lainnya asal Bali tinggal di sebuah apartemen di Odessa, wilayah yang termasuk pinggiran kota di Ukraina. Jarak Odessa ke Kiev sekitar 7 jam perjalanan. Walau jaraknya jauh, suara ledakan cukup keras acap terdengar. Bahkan terjadi beberapa kali. Suasana mencekam juga dirasakan karena sekitar apartemen tempatnya tinggal di Odessa juga dijaga ketat oleh tentara Ukraina.

 

“Memang tidak melihat (serangan rudal) tapi suara ledakan kami dengar berkali-kali dan keras. Sejak perang itu dimulai, kami sudah disuruh off bekerja dan diam di apartemen,” terangnya mengawali perbincangan, Selasa (8/3).

 

Ia hanya bisa pasrah dan menunggu kabar baik dari KBRI untuk Ukraina. Semenjak perang dimulai, mereka hanya bisa diam di apartemen. Kebutuhan makan dan minum diperbolehkan sekali keluar apartemen untuk berbelanja. Namun dijaga ketat tentara Ukraina di wilayah Odessa. “Masyarakat di sana dijaga ketat tentara untuk membeli bahan makanan,” terang Era.

 

Situasi yang begitu mencekam membuat  keluarganya di rumah juga tak tenang dan was-was mendengar perang Rusia-Ukraina ini. “Semua khawatir di rumah. Takut terjadi apa-apa di negara orang. Setiap hari saya bersama teman-teman terus mengabarkan situasi terkini kepada keluarga masing-masing,” beber kelahiran 22 November 1995 ini.

 

Akhirnya kabar baik diterimanya pada Minggu (27/2). Dia dan kawan-kawannya akan dievakuasi oleh KBRI Ukraina. Namun, mereka tak bisa membawa banyak barang untuk dibawa pulang.  Mereka berangkat dari Ukraina dijemput pesawat Garuda dan sempat transit di Romania dan sempat menjalani karantina 3 hari. Kemudian kembali melanjutkan penererbangan dan mendarat di Bandara Soekarno Hatta Jakarta.

 

Di Jakarta Era dan kawan-kawan kembali menjalani karantina beberapa hari  karena ada PMI yang positif Covid-19. Sebanyak 26 PMI baru bisa diberangkatkan dari Jakarta ke Bali pada Senin (7/3).  

 

“Kami diminta tidak bawa banyak barang, karena ini evakuasi. Ya, mau bagaimana lagi. Barang-barang sekoper harus kami ikhlaskan di apartemen. Yang penting nyawa bisa selamat dan pulang sampai di Bali dengan selamat juga,” ucapnya.

 

Era mengaku trauma kalau harus balik lagi bekerja di Ukraina. Ia lebih memilih negara lain.  Namun, dari kontrak kerja, ia baru menjalani separuh masa kerja yakni satu tahun satu bulan.

 

” Saya juga akan menghubungi agent terkait solusi atas masa kerja tersisa. Saya berharap tidak ada biaya penalti yang diwajibkan membayar lantaran karena pulang ke Bali, karena situasi sudah tidak memungkinkan,” pungkasnya. 

 

 

Sejak Rusia invasi Ukraina, penjagaan ketat diberlakukan di Ukraina. Ni Wayan Era Rustini, 26, Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Banjar Puseh, Desa Angantaka, Kecamatan Abiansemal, Badung mendengar jelas suara ledakan berkali-kali dari apartemennya. Sempat beberapa hari diselimuti suasana mencekam, akhirnya perempuan yang arab dipanggil Era ini tiba di Bali pada Senin (7/3) pukul 19.30. Seperti apa ceritanya?

 

Dwija Putra, Badung

 

NI Wayan Era Rustini sudah berada di Ukraina selama setahun lebih. Dia bekerja sebagai therapist di spa. Era bersama lima orang lainnya asal Bali tinggal di sebuah apartemen di Odessa, wilayah yang termasuk pinggiran kota di Ukraina. Jarak Odessa ke Kiev sekitar 7 jam perjalanan. Walau jaraknya jauh, suara ledakan cukup keras acap terdengar. Bahkan terjadi beberapa kali. Suasana mencekam juga dirasakan karena sekitar apartemen tempatnya tinggal di Odessa juga dijaga ketat oleh tentara Ukraina.

 

“Memang tidak melihat (serangan rudal) tapi suara ledakan kami dengar berkali-kali dan keras. Sejak perang itu dimulai, kami sudah disuruh off bekerja dan diam di apartemen,” terangnya mengawali perbincangan, Selasa (8/3).

 

Ia hanya bisa pasrah dan menunggu kabar baik dari KBRI untuk Ukraina. Semenjak perang dimulai, mereka hanya bisa diam di apartemen. Kebutuhan makan dan minum diperbolehkan sekali keluar apartemen untuk berbelanja. Namun dijaga ketat tentara Ukraina di wilayah Odessa. “Masyarakat di sana dijaga ketat tentara untuk membeli bahan makanan,” terang Era.

 

Situasi yang begitu mencekam membuat  keluarganya di rumah juga tak tenang dan was-was mendengar perang Rusia-Ukraina ini. “Semua khawatir di rumah. Takut terjadi apa-apa di negara orang. Setiap hari saya bersama teman-teman terus mengabarkan situasi terkini kepada keluarga masing-masing,” beber kelahiran 22 November 1995 ini.

 

Akhirnya kabar baik diterimanya pada Minggu (27/2). Dia dan kawan-kawannya akan dievakuasi oleh KBRI Ukraina. Namun, mereka tak bisa membawa banyak barang untuk dibawa pulang.  Mereka berangkat dari Ukraina dijemput pesawat Garuda dan sempat transit di Romania dan sempat menjalani karantina 3 hari. Kemudian kembali melanjutkan penererbangan dan mendarat di Bandara Soekarno Hatta Jakarta.

 

Di Jakarta Era dan kawan-kawan kembali menjalani karantina beberapa hari  karena ada PMI yang positif Covid-19. Sebanyak 26 PMI baru bisa diberangkatkan dari Jakarta ke Bali pada Senin (7/3).  

 

“Kami diminta tidak bawa banyak barang, karena ini evakuasi. Ya, mau bagaimana lagi. Barang-barang sekoper harus kami ikhlaskan di apartemen. Yang penting nyawa bisa selamat dan pulang sampai di Bali dengan selamat juga,” ucapnya.

 

Era mengaku trauma kalau harus balik lagi bekerja di Ukraina. Ia lebih memilih negara lain.  Namun, dari kontrak kerja, ia baru menjalani separuh masa kerja yakni satu tahun satu bulan.

 

” Saya juga akan menghubungi agent terkait solusi atas masa kerja tersisa. Saya berharap tidak ada biaya penalti yang diwajibkan membayar lantaran karena pulang ke Bali, karena situasi sudah tidak memungkinkan,” pungkasnya. 

 

 

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/