Warning: Undefined variable $reporternya in /var/www/devwpradar/wp-content/themes/Newspaper/functions.php on line 229
27.3 C
Jakarta
21 Juli 2024, 4:40 AM WIB

Tak dapat Siswa, Sejumlah SMP Swasta di Buleleng Gulung Tikar

SINGARAJA– Sejumlah SMP swasta di Buleleng kini tutup permanen. Sekolah-sekolah itu tutup gegara tidak mendapatkan siswa baru dalam beberapa tahun ajaran terakhir. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, setidaknya ada lima SMP yang gulung tikar. Yakni SMP Dharma Putra Sangsit, SMP TP 45 Sukasada, SMP Dwijendra, SMP Bhaktiyasa, dan SMP Dharma Sastra.

 

Dari lima sekolah itu, sebanyak tiga sekolah diantaranya telah berubah status. SMP Dharma Sastra misalnya. Sekolah yang terletak di Desa Umejero, Kecamatan Busungbiu itu kini berubah menjadi Madyama Widya Pasraman atau SMP Hindu.

 

Sementara SMP TP45 Sukasada dan SMP Dharma Putra Sangsit mengalihkan aset mereka pada pemerintah daerah. Eks SMP Dharma putra kini dimanfaatkan sebagai SMPN 4 Sawan, sementara Eks SMP TP45 Sukasada di Desa Wanagiri kini menjadi SMP Satu Atap Negeri 3 Sukasada.

 

Sekretaris Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Buleleng Ida Bagus Gde Surya Bharata mengatakan, sejumlah yayasan telah merelakan aset mereka dikelola pemerintah daerah. Beberapa aset telah dimanfaatkan optimal. Contohnya eks SMP Dharma Putra yang kini menjadi sekolah reguler.

 

Demikian juga dengan Eks SMP TP45. “Malah tahun ini di SMP Satap 3 Sukasada itu, kami terima 87 siswa. Jadi sekolah mengajukan agar bisa dilakukan double shift karena peminatnya membeludak,” kata Surya.

 

Menurutnya SMP Satap 3 Sukasada kini mampu menyelesaikan masalah akses pendidikan bagi masyarakat. Utamanya di wilayah Wanagiri, Gobleg, dan Munduk. Sementara SMPN 4 Sawan menyelesaikan masalah yang terjadi di Desa Kerobokan dan Sangsit.

 

Ia menduga sekolah-sekolah swasta yang gulung tikar mengalami kesulitan manajerial. Buktinya beberapa sekolah swasta lain masih mampu bertahan. Seperti SMP Lab Undiksha dan SMP Triatma Jaya yang memiliki pangsa tersendiri. Demikian pula dengan SMP Mutiara dan SMP Ayodya yang masih bertahan. “Kami kira ini kembali ke cara manajemen sekolah melakukan branding sekolah. Karena yang lain masih mampu bertahan,” tandasnya. (eps)

SINGARAJA– Sejumlah SMP swasta di Buleleng kini tutup permanen. Sekolah-sekolah itu tutup gegara tidak mendapatkan siswa baru dalam beberapa tahun ajaran terakhir. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, setidaknya ada lima SMP yang gulung tikar. Yakni SMP Dharma Putra Sangsit, SMP TP 45 Sukasada, SMP Dwijendra, SMP Bhaktiyasa, dan SMP Dharma Sastra.

 

Dari lima sekolah itu, sebanyak tiga sekolah diantaranya telah berubah status. SMP Dharma Sastra misalnya. Sekolah yang terletak di Desa Umejero, Kecamatan Busungbiu itu kini berubah menjadi Madyama Widya Pasraman atau SMP Hindu.

 

Sementara SMP TP45 Sukasada dan SMP Dharma Putra Sangsit mengalihkan aset mereka pada pemerintah daerah. Eks SMP Dharma putra kini dimanfaatkan sebagai SMPN 4 Sawan, sementara Eks SMP TP45 Sukasada di Desa Wanagiri kini menjadi SMP Satu Atap Negeri 3 Sukasada.

 

Sekretaris Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Buleleng Ida Bagus Gde Surya Bharata mengatakan, sejumlah yayasan telah merelakan aset mereka dikelola pemerintah daerah. Beberapa aset telah dimanfaatkan optimal. Contohnya eks SMP Dharma Putra yang kini menjadi sekolah reguler.

 

Demikian juga dengan Eks SMP TP45. “Malah tahun ini di SMP Satap 3 Sukasada itu, kami terima 87 siswa. Jadi sekolah mengajukan agar bisa dilakukan double shift karena peminatnya membeludak,” kata Surya.

 

Menurutnya SMP Satap 3 Sukasada kini mampu menyelesaikan masalah akses pendidikan bagi masyarakat. Utamanya di wilayah Wanagiri, Gobleg, dan Munduk. Sementara SMPN 4 Sawan menyelesaikan masalah yang terjadi di Desa Kerobokan dan Sangsit.

 

Ia menduga sekolah-sekolah swasta yang gulung tikar mengalami kesulitan manajerial. Buktinya beberapa sekolah swasta lain masih mampu bertahan. Seperti SMP Lab Undiksha dan SMP Triatma Jaya yang memiliki pangsa tersendiri. Demikian pula dengan SMP Mutiara dan SMP Ayodya yang masih bertahan. “Kami kira ini kembali ke cara manajemen sekolah melakukan branding sekolah. Karena yang lain masih mampu bertahan,” tandasnya. (eps)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/