29.3 C
Jakarta
16 Juni 2024, 19:36 PM WIB

Soal Saran dan Kritik Winasa, Ini Kata Bupati Jembrana Nengah Tamba

NEGARA – Gagasan dan saran mantan bupati Jembrana dua periode I Gede Winasa terkait efisiensi anggaran pemerintah dengan digitalisasi program ditanggapi Bupati Jembrana I Nengah Tamba. Menurutnya, tanpa ada saran gagasan Winasa sebenarnya sudah dijalankan sejak awal menjadi bupati didampingi putra pertama Winasa, Wakil Bupati Jembrana I Gede Ngurah Patriana Krisna.

 

Menurut Tamba, sebagai pribadi dan bupati Jembrana ia sangat menghormati dan mengangumi sosok I Gede Winasa. Karena pada saat menjadi bupati Jembrana selama dua periode banyak menorehkan prestasi besar yang patut dibanggakan. “Gagasan dan visi pak Winasa untuk memajukan Jembrana sangat luar biasa, patut diapresiasi. Saya menaruh hormat pada beliau,” ungkapnya, Jumat (19/8).

 

Gagasan dari Winasa yang saat ini mendekam di penjara karena korupsi, bisa diaplikasikan jika kompatibel dengan kondisi saat ini. “Mungkin pak Winasa belum memahami betul secara mendetail dengan program yang sudah berjalan dan kami rencanakan,” ujarnya.

 

Salah satu saran Winasa mengenai digitalisasi program. Menurut Tamba, digitalisasi program sudah dijalankan sejak awal menjabat bupati, bahkan saat ini sudah berjalan program Jembrana satu data. Program ini salah satu digitalisasi Jembrana, mulai dari yang ada di Jembrana hingga pelosok desa, termasuk potensi-potensinya.

 

Bahkan seminggu setelah menjabat menjadi bupati, sudah meluncurkan program Jembrana emergency servis (JES). Program ini memudahkan masyarakat untuk menerima pelayanan masyarakat dalam segala hal, terutama dalam kondisi darurat. “Masyarakat yang membutuhkan layanan kedaruratan cukup dengan mengklik aplikasi,” terangnya.

 

Mengenai pameran HUT Kota Negara yang disampaikan Winasa harus diisi dengan kegiatan produktif untuk kemajuan perekonomian Jembrana. Selama pameran UMKM dan IKM, tidak hanya menjadi ajang pelaku usaha untuk berjualan, tetapi juga promosi dan mengembangkan sayap usahanya. “Produktivitas menjadi tujuan kami, bukan sekadar ajang jual beli antara produsen dan konsumen,” terangnya.

 

Sebelumnya, mantan Bupati Jembrana I Gede Winasa, meskipun berada di balik jeruji besi Rutan Kelas II B Negara, tetap memantau dan mengkritik pemerintah kabupaten Jembrana. Winasa menyoroti mengenai efisiensi anggaran pemerintah dengan digitalisasi program, serta menyorot mengenai pameran UMKM dalam rangka HUT Kota Negara agar kegiatannya lebih produktif.

 

Seperti diketahui, mantan bupati Jembrana I Gede Winasa yang bergelar profesor ini mendekam di penjara sejak 9 tahun terkahir karena korupsi. Awalnya, korupsi kompos yang membuatnya menjalani penahanan 2,5 tahun, kemudian kasus korupsi beasiswa stikes dan stitna dengan vonis 7 tahun dan kasus korupsi perjalanan dinas dengan vonis 6 tahun. Winasa sudah menjalani penahanan selama 9 tahun dari tiga kasus korupsi tersebut. (bas)

 

 

NEGARA – Gagasan dan saran mantan bupati Jembrana dua periode I Gede Winasa terkait efisiensi anggaran pemerintah dengan digitalisasi program ditanggapi Bupati Jembrana I Nengah Tamba. Menurutnya, tanpa ada saran gagasan Winasa sebenarnya sudah dijalankan sejak awal menjadi bupati didampingi putra pertama Winasa, Wakil Bupati Jembrana I Gede Ngurah Patriana Krisna.

 

Menurut Tamba, sebagai pribadi dan bupati Jembrana ia sangat menghormati dan mengangumi sosok I Gede Winasa. Karena pada saat menjadi bupati Jembrana selama dua periode banyak menorehkan prestasi besar yang patut dibanggakan. “Gagasan dan visi pak Winasa untuk memajukan Jembrana sangat luar biasa, patut diapresiasi. Saya menaruh hormat pada beliau,” ungkapnya, Jumat (19/8).

 

Gagasan dari Winasa yang saat ini mendekam di penjara karena korupsi, bisa diaplikasikan jika kompatibel dengan kondisi saat ini. “Mungkin pak Winasa belum memahami betul secara mendetail dengan program yang sudah berjalan dan kami rencanakan,” ujarnya.

 

Salah satu saran Winasa mengenai digitalisasi program. Menurut Tamba, digitalisasi program sudah dijalankan sejak awal menjabat bupati, bahkan saat ini sudah berjalan program Jembrana satu data. Program ini salah satu digitalisasi Jembrana, mulai dari yang ada di Jembrana hingga pelosok desa, termasuk potensi-potensinya.

 

Bahkan seminggu setelah menjabat menjadi bupati, sudah meluncurkan program Jembrana emergency servis (JES). Program ini memudahkan masyarakat untuk menerima pelayanan masyarakat dalam segala hal, terutama dalam kondisi darurat. “Masyarakat yang membutuhkan layanan kedaruratan cukup dengan mengklik aplikasi,” terangnya.

 

Mengenai pameran HUT Kota Negara yang disampaikan Winasa harus diisi dengan kegiatan produktif untuk kemajuan perekonomian Jembrana. Selama pameran UMKM dan IKM, tidak hanya menjadi ajang pelaku usaha untuk berjualan, tetapi juga promosi dan mengembangkan sayap usahanya. “Produktivitas menjadi tujuan kami, bukan sekadar ajang jual beli antara produsen dan konsumen,” terangnya.

 

Sebelumnya, mantan Bupati Jembrana I Gede Winasa, meskipun berada di balik jeruji besi Rutan Kelas II B Negara, tetap memantau dan mengkritik pemerintah kabupaten Jembrana. Winasa menyoroti mengenai efisiensi anggaran pemerintah dengan digitalisasi program, serta menyorot mengenai pameran UMKM dalam rangka HUT Kota Negara agar kegiatannya lebih produktif.

 

Seperti diketahui, mantan bupati Jembrana I Gede Winasa yang bergelar profesor ini mendekam di penjara sejak 9 tahun terkahir karena korupsi. Awalnya, korupsi kompos yang membuatnya menjalani penahanan 2,5 tahun, kemudian kasus korupsi beasiswa stikes dan stitna dengan vonis 7 tahun dan kasus korupsi perjalanan dinas dengan vonis 6 tahun. Winasa sudah menjalani penahanan selama 9 tahun dari tiga kasus korupsi tersebut. (bas)

 

 

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/