25.2 C
Jakarta
12 Juni 2024, 8:44 AM WIB

Tanamkan Strategi PUG, Bea Cukai Ngurah Rai Responsif Gender

BADUNG, Radar Bali  – Wujudkan kesetaraan dan keadilan gender, Bea Cukai Ngurah Rai implementasikan beleid PUG (Pengarusutamaan Gender) melalui fasilitas dan budaya kerja untuk lingkungan kerja dan pelayanaan responsif gender. Mulai dari fasilitas-fasilitas yang diperuntukan bagi pengguna jasa dan pegawai hingga budaya kerja dan pelayanan yang mengarusutamakan gender.

Strategi PUG ini mulai dirintis sejak tahun 2019 dan terus didorong eksistensinya hingga saat ini. Di bawah kepimimpinan Kepala Kantor Bea Cukai Ngurah Rai, Himawan Indarjono, pemahaman PUG ditanamkan dan dipahamkan sebagai suatu kesadaran yang bukan sekadar pelengkap pelayanan tetapi pedoman dalam berkehidupan.

 

“Ketimpangan perlakuan terhadap gender tidak dapat lagi dikompromi dan ditoleransi sebagai wacana sosial belaka. Sudah saatnya masalah riil ini tak lagi dihindari. Strategi dan upaya nyata yang mengutamakan kepentingan seluruh gender dirasa perlu untuk wujudkan kesetaraan dan keadilan yang konkret dan kasat mata. Gender yang dimaksudkan tidak hanya melingkupi kelompok pria dan wanita tapi juga kelompok sosial lainnya seperti orang tua, anak, dan difabel. Mereka berhak menerima perlakukan setara dan adil sesuai dengan pengalaman, kebutuhan, kesulitan, dan hambatannya.” papar Himawan.

 

Sejak perintisannya dua tahun silam, strategi PUG menjadi pedoman dalam penyediaan fasilitas-fasilitas di lingkungan kerja dan pelayanan Bea Cukai Ngurah Rai yang menghilangkan kesenjangan atau diskriminasi pada akses, kontrol, manfaat, dan partisipasi.

 

“Implementasi strategi PUG bertujuan untuk mengintegrasikan gender menjadi satu dimensi integral dari perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi atas kebijakan, program dan kegiatan pembangunan untuk mencapai suatu keadilan gender sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional. Atas dasar tersebutlah fasilitas-fasilitas kerja dan pelayanan responsif gender disediakan sehingga fungsi dan manfaatannya tepat sasaran. Seperti ketersediaan parkir, jalur, loket, dan toilet prioritas untuk penyadang difabel serta ruang laktasi, area bermain anak, toilet khusus pria-wanita, dan area merokok yang masing-masing turut disediakan untuk pengguna jasa dan pegawai, ” ungkap Himawan.

 

Sejatinya, PUG tidak semata dapat diwujudkan hanya dari sarana dan prasarana fisik yang responsif gender. Pemahaman dan kesadaran atas peran dan fungsinya pada setiap individu sangat dibutuhkan untuk menunjang keberlangsungan dan kemajuan eksistensinya sehingga menjembatani kesenjangan-kesenjangan yang berpeluang menimbulkan diskriminasi pada suatu kelompok atau kalangan gender tertentu di lingkungan kerja dan pelayanan.

 

“Dalam komitmennya untuk menjunjung kesetaraan dan keadilan gender, Bea Cukai Ngurah Rai mengupayakan agar setiap individu pegawai memahami peran dan fungsinya sebagai pengabdi negara yang mengarusutamakan gender dalam melayani masyarakat dan dalam bersosialisasi sebagai makhluk sosial. Kami aktif menggaungkan edukasi-edukasi kesetaraan dan keadilan gender baik melalui sosialisasi ataupun infografis di media sosial, flyer ataupun papan informasi kantor yang dapat diakses publik dengan mudah,” tambah Himawan.

 

PUG sebagai suatu strategi tidak hanya ditanamkan untuk mendukung penyelenggaraan kegiatan kantor Bea Cukai Ngurah Rai tetapi juga dipupuk untuk membiasakan budaya peka gender yang diharapkan turut berdampak baik dalam berkehidupan sosial di lingkungan masyarakat sekitar.

“Ke depannya, diharapkan kebijakan-kebijakan kerja dan pelayanan yang kami kelola dan sediakan dapat dirasakan dampak kesetaraan dan keadilannya bagi masyarakat untuk mewujudkan Bea Cukai Makin Baik dengan SDM yang makin berkualitas dan berintegritas.” tutup Himawan mengakhiri.

 

 

BADUNG, Radar Bali  – Wujudkan kesetaraan dan keadilan gender, Bea Cukai Ngurah Rai implementasikan beleid PUG (Pengarusutamaan Gender) melalui fasilitas dan budaya kerja untuk lingkungan kerja dan pelayanaan responsif gender. Mulai dari fasilitas-fasilitas yang diperuntukan bagi pengguna jasa dan pegawai hingga budaya kerja dan pelayanan yang mengarusutamakan gender.

Strategi PUG ini mulai dirintis sejak tahun 2019 dan terus didorong eksistensinya hingga saat ini. Di bawah kepimimpinan Kepala Kantor Bea Cukai Ngurah Rai, Himawan Indarjono, pemahaman PUG ditanamkan dan dipahamkan sebagai suatu kesadaran yang bukan sekadar pelengkap pelayanan tetapi pedoman dalam berkehidupan.

 

“Ketimpangan perlakuan terhadap gender tidak dapat lagi dikompromi dan ditoleransi sebagai wacana sosial belaka. Sudah saatnya masalah riil ini tak lagi dihindari. Strategi dan upaya nyata yang mengutamakan kepentingan seluruh gender dirasa perlu untuk wujudkan kesetaraan dan keadilan yang konkret dan kasat mata. Gender yang dimaksudkan tidak hanya melingkupi kelompok pria dan wanita tapi juga kelompok sosial lainnya seperti orang tua, anak, dan difabel. Mereka berhak menerima perlakukan setara dan adil sesuai dengan pengalaman, kebutuhan, kesulitan, dan hambatannya.” papar Himawan.

 

Sejak perintisannya dua tahun silam, strategi PUG menjadi pedoman dalam penyediaan fasilitas-fasilitas di lingkungan kerja dan pelayanan Bea Cukai Ngurah Rai yang menghilangkan kesenjangan atau diskriminasi pada akses, kontrol, manfaat, dan partisipasi.

 

“Implementasi strategi PUG bertujuan untuk mengintegrasikan gender menjadi satu dimensi integral dari perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi atas kebijakan, program dan kegiatan pembangunan untuk mencapai suatu keadilan gender sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional. Atas dasar tersebutlah fasilitas-fasilitas kerja dan pelayanan responsif gender disediakan sehingga fungsi dan manfaatannya tepat sasaran. Seperti ketersediaan parkir, jalur, loket, dan toilet prioritas untuk penyadang difabel serta ruang laktasi, area bermain anak, toilet khusus pria-wanita, dan area merokok yang masing-masing turut disediakan untuk pengguna jasa dan pegawai, ” ungkap Himawan.

 

Sejatinya, PUG tidak semata dapat diwujudkan hanya dari sarana dan prasarana fisik yang responsif gender. Pemahaman dan kesadaran atas peran dan fungsinya pada setiap individu sangat dibutuhkan untuk menunjang keberlangsungan dan kemajuan eksistensinya sehingga menjembatani kesenjangan-kesenjangan yang berpeluang menimbulkan diskriminasi pada suatu kelompok atau kalangan gender tertentu di lingkungan kerja dan pelayanan.

 

“Dalam komitmennya untuk menjunjung kesetaraan dan keadilan gender, Bea Cukai Ngurah Rai mengupayakan agar setiap individu pegawai memahami peran dan fungsinya sebagai pengabdi negara yang mengarusutamakan gender dalam melayani masyarakat dan dalam bersosialisasi sebagai makhluk sosial. Kami aktif menggaungkan edukasi-edukasi kesetaraan dan keadilan gender baik melalui sosialisasi ataupun infografis di media sosial, flyer ataupun papan informasi kantor yang dapat diakses publik dengan mudah,” tambah Himawan.

 

PUG sebagai suatu strategi tidak hanya ditanamkan untuk mendukung penyelenggaraan kegiatan kantor Bea Cukai Ngurah Rai tetapi juga dipupuk untuk membiasakan budaya peka gender yang diharapkan turut berdampak baik dalam berkehidupan sosial di lingkungan masyarakat sekitar.

“Ke depannya, diharapkan kebijakan-kebijakan kerja dan pelayanan yang kami kelola dan sediakan dapat dirasakan dampak kesetaraan dan keadilannya bagi masyarakat untuk mewujudkan Bea Cukai Makin Baik dengan SDM yang makin berkualitas dan berintegritas.” tutup Himawan mengakhiri.

 

 

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/