29.9 C
Jakarta
15 Juni 2024, 10:23 AM WIB

Antisipasi Penyakit Gagal Ginjal Akut pada Anak, Dewan Minta Fasilitas Cuci Darah Ditambah

SINGARAJA– DPRD Buleleng meminta agar RSUD Buleleng mempertimbangkan penambahan alat cuci ginjal, khususnya alat cuci darah bagi anak-anak. Dewan memandang RSUD Buleleng sudah harus menyiapkan peralatan dan sumber daya manusia yang kompeten, sebab kasus tersebut cukup menonjol di Bali.

Ketua DPRD Buleleng Gede Supriatna mengungkapkan, pihaknya kini terus memantau perkembangan kasus gagal ginjal akut pada anak itu. Menurutnya kasus tersebut terbilang tinggi. Apalagi ada 17 orang anak yang terkena kasus tersebut, dan 11 orang di antaranya meninggal dunia.

“Kalau dilihat dari perbandingan, jumlah yang meninggal ini kan cukup tinggi. Jadi harus ada langkah-langkah strategis untuk menanggulangi penyakit ini,” katanya.

Supriatna meminta agar sumber daya Kesehatan di Buleleng segera mempelajari masalah tersebut. Ia tak mau bila nantinya pemerintah kecolongan dengan kasus tersebut. Kalau toh kasus gagal ginjal akut, dia meminta agar kasus dapat ditangani dengan komprehensif.

“Saya minta agar rumah sakit meningkatkan fasilitas, alat pendukung, dan SDM untuk menangani kasus ini. Alat cuci darah kita di rumah sakit memang banyak, tapi yang khusus untuk anak kan belum ada. Mudah-mudahan tahun 2023 bisa disiapkan,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur RSUD Buleleng dr Putu Arya Nugraha Sp.PD yang dihubungi terpisah mengatakan pengadaan alat cuci darah bagi anak sebenarnya belum efektif. Sebab kasus gagal ginjal akut pada anak sangat jarang. Tahun ini saja di Buleleng hanya ada seorang pasien anak yang menjalani cuci darah. Arya memastikan kasus itu tak terkait dengan kasus gagal ginjal akut.

Ia menilai hal tersebut belum efektif untuk pelayanan. “Karena kasusnya sangat jarang, saya rasa belum efektif. Saat ini kasus cuci darah pada anak yang kami tangani juga sebenarnya kasus lama,” ujar Arya.

Menurutnya pengadaan alat cuci darah bagi anak membutuhkan konsekuensi yang cukup besar. Selain menyiapkan alat, pihaknya juga harus menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten. Mulai dari perawat ahli serta dokter spesialis anak dengan kompetensi konsultan ginjal. Kompetensi itu terbilang langka di Bali.

“Alat sebenarnya kan bisa dimodifikasi. Untuk yang remaja, bisa saja pakai sarana yang sudah ada untuk dewasa. Tapi kalau balita, ini memang harus alat khusus. Dokter yang menangani juga harus khusus. Jadi untuk saat ini kami memang demi efektivitas pelayanan, memang lebih baik dirujuk ke RS Prof. Ngoerah saja,” kata Arya. (eps)

SINGARAJA– DPRD Buleleng meminta agar RSUD Buleleng mempertimbangkan penambahan alat cuci ginjal, khususnya alat cuci darah bagi anak-anak. Dewan memandang RSUD Buleleng sudah harus menyiapkan peralatan dan sumber daya manusia yang kompeten, sebab kasus tersebut cukup menonjol di Bali.

Ketua DPRD Buleleng Gede Supriatna mengungkapkan, pihaknya kini terus memantau perkembangan kasus gagal ginjal akut pada anak itu. Menurutnya kasus tersebut terbilang tinggi. Apalagi ada 17 orang anak yang terkena kasus tersebut, dan 11 orang di antaranya meninggal dunia.

“Kalau dilihat dari perbandingan, jumlah yang meninggal ini kan cukup tinggi. Jadi harus ada langkah-langkah strategis untuk menanggulangi penyakit ini,” katanya.

Supriatna meminta agar sumber daya Kesehatan di Buleleng segera mempelajari masalah tersebut. Ia tak mau bila nantinya pemerintah kecolongan dengan kasus tersebut. Kalau toh kasus gagal ginjal akut, dia meminta agar kasus dapat ditangani dengan komprehensif.

“Saya minta agar rumah sakit meningkatkan fasilitas, alat pendukung, dan SDM untuk menangani kasus ini. Alat cuci darah kita di rumah sakit memang banyak, tapi yang khusus untuk anak kan belum ada. Mudah-mudahan tahun 2023 bisa disiapkan,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur RSUD Buleleng dr Putu Arya Nugraha Sp.PD yang dihubungi terpisah mengatakan pengadaan alat cuci darah bagi anak sebenarnya belum efektif. Sebab kasus gagal ginjal akut pada anak sangat jarang. Tahun ini saja di Buleleng hanya ada seorang pasien anak yang menjalani cuci darah. Arya memastikan kasus itu tak terkait dengan kasus gagal ginjal akut.

Ia menilai hal tersebut belum efektif untuk pelayanan. “Karena kasusnya sangat jarang, saya rasa belum efektif. Saat ini kasus cuci darah pada anak yang kami tangani juga sebenarnya kasus lama,” ujar Arya.

Menurutnya pengadaan alat cuci darah bagi anak membutuhkan konsekuensi yang cukup besar. Selain menyiapkan alat, pihaknya juga harus menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten. Mulai dari perawat ahli serta dokter spesialis anak dengan kompetensi konsultan ginjal. Kompetensi itu terbilang langka di Bali.

“Alat sebenarnya kan bisa dimodifikasi. Untuk yang remaja, bisa saja pakai sarana yang sudah ada untuk dewasa. Tapi kalau balita, ini memang harus alat khusus. Dokter yang menangani juga harus khusus. Jadi untuk saat ini kami memang demi efektivitas pelayanan, memang lebih baik dirujuk ke RS Prof. Ngoerah saja,” kata Arya. (eps)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/