26.5 C
Jakarta
15 Juni 2024, 2:34 AM WIB

Buleleng Lirik Empat Kecamatan Jadi Sentra Budi Daya Kapas

RadarBali.com – Dinas Pertanian Buleleng kini melirik komoditi baru. Para petani, terutama yang memanfaatkan lahan tadah hujan, didorong melakukan budi daya tanaman kapas.

Selama ini, di beberapa areal telah dilakukan budi daya kapas. Hanya saja sifatnya masih tumpang sari.

Pemerintah kini melirik sejumlah areal lahan tadah hujan di wilayah Kecamatan Tejakula, Gerokgak, Kubutambahan, dan Seririt.

Di empat wilayah itu, banyak terdapat lahan tadah hujan yang bisa dimanfaatkan. Hasil budi daya kapas pun diyakini cukup menjanjikan bagi petani.

Rencananya pada tahun 2018 mendatang, Distan Buleleng akan membuka lahan seluas seratus hektare untuk perkebunan kapas.

Pemerintah masih melakukan inventarisasi terhadap calon petani serta calon lahan yang akan digunakan untuk mengembangkan perkebunan ini.

Kabid Perkebunan Dinas Pertanian Buleleng, Nyoman Parta Yasa mengungkapkan, di Buleleng ada beberapa petani yang mulai menanam kapas.

Hanya saja penanaman itu tidak maksimal. Petani masih melakukan metode tumpang sari, atau menanam di sela-sela tanaman utama.

Padahal bila dijadikan areal perkebunan mono kultur (satu jenis tanaman, Red), kapas cukup berpotensi.

Rencananya, tahun depan pemerintah akan memberikan bantuan bibit unggul kepada petani yang berminat menanam kapas.

Mereka akan diberikan varietas unggul Agri Kanesia, oleh Direktorat Jenderal (Ditjen) Perkebunan Kementerian Pertanian.

Benih ini diklaim mampu menghasilkan empat ton kapas per hektare. Selain itu para petani juga akan diberikan bantuan pupuk cuma-cuma.

“Sekarang ini sudah ada tujuh kelompok tani yang berminat. Kami masih persiapan dulu. Nanti bulan Desember akan dilanjutkan dengan persiapan benih dan penanaman,” kata Parta Yasa kemarin.

Rencananya pemerintah juga akan mendorong kelompok tani mengajukan bantuan mesin pengolah kapas dengan kapasitas 50 kilogram.

Mesin itu akan memisahkan biji kapas dengan serat. Dampaknya hasil penjualan pun semakin tinggi.

Ketimbang harga normal yang hanya Rp 5.100 per kilogram kapas kotor yang belum dipisahkan antara biji dengan seratnya.

RadarBali.com – Dinas Pertanian Buleleng kini melirik komoditi baru. Para petani, terutama yang memanfaatkan lahan tadah hujan, didorong melakukan budi daya tanaman kapas.

Selama ini, di beberapa areal telah dilakukan budi daya kapas. Hanya saja sifatnya masih tumpang sari.

Pemerintah kini melirik sejumlah areal lahan tadah hujan di wilayah Kecamatan Tejakula, Gerokgak, Kubutambahan, dan Seririt.

Di empat wilayah itu, banyak terdapat lahan tadah hujan yang bisa dimanfaatkan. Hasil budi daya kapas pun diyakini cukup menjanjikan bagi petani.

Rencananya pada tahun 2018 mendatang, Distan Buleleng akan membuka lahan seluas seratus hektare untuk perkebunan kapas.

Pemerintah masih melakukan inventarisasi terhadap calon petani serta calon lahan yang akan digunakan untuk mengembangkan perkebunan ini.

Kabid Perkebunan Dinas Pertanian Buleleng, Nyoman Parta Yasa mengungkapkan, di Buleleng ada beberapa petani yang mulai menanam kapas.

Hanya saja penanaman itu tidak maksimal. Petani masih melakukan metode tumpang sari, atau menanam di sela-sela tanaman utama.

Padahal bila dijadikan areal perkebunan mono kultur (satu jenis tanaman, Red), kapas cukup berpotensi.

Rencananya, tahun depan pemerintah akan memberikan bantuan bibit unggul kepada petani yang berminat menanam kapas.

Mereka akan diberikan varietas unggul Agri Kanesia, oleh Direktorat Jenderal (Ditjen) Perkebunan Kementerian Pertanian.

Benih ini diklaim mampu menghasilkan empat ton kapas per hektare. Selain itu para petani juga akan diberikan bantuan pupuk cuma-cuma.

“Sekarang ini sudah ada tujuh kelompok tani yang berminat. Kami masih persiapan dulu. Nanti bulan Desember akan dilanjutkan dengan persiapan benih dan penanaman,” kata Parta Yasa kemarin.

Rencananya pemerintah juga akan mendorong kelompok tani mengajukan bantuan mesin pengolah kapas dengan kapasitas 50 kilogram.

Mesin itu akan memisahkan biji kapas dengan serat. Dampaknya hasil penjualan pun semakin tinggi.

Ketimbang harga normal yang hanya Rp 5.100 per kilogram kapas kotor yang belum dipisahkan antara biji dengan seratnya.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/