27.3 C
Jakarta
15 Juni 2024, 0:26 AM WIB

Stok Menipis, Harga Daging Ayam Melonjak

RadarBali.com – Harga daging ayam ras di pasaran kembali melonjak. Kenaikan harga ini terjadi sejak awal bulan Oktober lalu dan masih bertahan hingga saat ini.

Lonjakan harga daging ayam yang terjadi di pasaran dipicu stok ayam yang menipis. Pantauan Jawa Pos Radar Bali kemarin (29/11) di Pasar Badung, harga daging ayam per kilogram mencapai Rp 34 ribu.

Padahal, normalnya harga daging ayam ras per kilogram berkisar antara Rp 27 hingga 29 ribu. Pasokan daging ayam yang memenuhi pasar tradisional di kota Denpasar kebanyakan dari Bali.

Rata-rata didatangkan dari daerah Bangli yang merupakan daerah pemasok daging ayam terbesar, meski banyak juga daging ayam yang didatangkan dari luar daerah.

Ketua Gabungan Rumah Potong Unggas (GARPU) Bali Sang Putu Sudarsana mengakui kenaikan harga daging ayam ras di pasaran.

Untuk harga ayam di kandang saat ini mencapai Rp 22 ribu per kilogram. Sedangkan untuk harga daging pokok saat ini mencapai Rp 32 ribu untuk dijual ke tingkat pengepul.

 “Dengan kondisi itu, untuk mendapat margin, harga daging ayam yang dijual di pasaran mencapai Rp 34 sampai 36 ribu,” ujarnya.

Dia memprediksi, kondisi mahalnya daging ayam ini diakibatkan lantaran stok ayam di Bali yang menipis. Ini dampak dari situasi Gunung Agung pada bulan September dan November dan baru terasa saat ini.

Saat itu, banyak ayam yang di Karangasem dilakukan pemotongan dan dijual secara besar-besaran. “Ada 1 juta ayam di Karangasem yang tidak produksi. Dan bibit di Karangasem saat ini sudah nol,” terang Sudarsana.

Hanya saja, yang membuat dia heran, kelangkaan ayam ini justru berpengaruh pada penjualan yang menurun hingga 30 persen.

“Seharusnya kalau ayam langka pembeli banyak. Tapi ini justru turun,” bebernya. Dengan kondisi kenaikan harga ini, ia dan beberapa anggota Garpu Bali terpaksa mendatangkan daging ayam dari Jawa.

Kondisi ini kerap terjadi jika ada ketimpangan harga ayam antara Jawa dan Bali di atas Rp 2 ribu per kilogram.

“Rata-rata semua pemotong di Bali mengambil daging dari Jawa. Dalam satu hari bisa mengambil 50 ton,” tandasnya.

Dia berharap agar produksi ayam di Bali tetap terjaga. Sehingga antara pemotong dengan peternak bisa terjalin hubungan dengan bagus.

“Agar tidak ada salah paham lagi. Agar ayam di Peternak di bali bisa terserap,” pungkasnya

RadarBali.com – Harga daging ayam ras di pasaran kembali melonjak. Kenaikan harga ini terjadi sejak awal bulan Oktober lalu dan masih bertahan hingga saat ini.

Lonjakan harga daging ayam yang terjadi di pasaran dipicu stok ayam yang menipis. Pantauan Jawa Pos Radar Bali kemarin (29/11) di Pasar Badung, harga daging ayam per kilogram mencapai Rp 34 ribu.

Padahal, normalnya harga daging ayam ras per kilogram berkisar antara Rp 27 hingga 29 ribu. Pasokan daging ayam yang memenuhi pasar tradisional di kota Denpasar kebanyakan dari Bali.

Rata-rata didatangkan dari daerah Bangli yang merupakan daerah pemasok daging ayam terbesar, meski banyak juga daging ayam yang didatangkan dari luar daerah.

Ketua Gabungan Rumah Potong Unggas (GARPU) Bali Sang Putu Sudarsana mengakui kenaikan harga daging ayam ras di pasaran.

Untuk harga ayam di kandang saat ini mencapai Rp 22 ribu per kilogram. Sedangkan untuk harga daging pokok saat ini mencapai Rp 32 ribu untuk dijual ke tingkat pengepul.

 “Dengan kondisi itu, untuk mendapat margin, harga daging ayam yang dijual di pasaran mencapai Rp 34 sampai 36 ribu,” ujarnya.

Dia memprediksi, kondisi mahalnya daging ayam ini diakibatkan lantaran stok ayam di Bali yang menipis. Ini dampak dari situasi Gunung Agung pada bulan September dan November dan baru terasa saat ini.

Saat itu, banyak ayam yang di Karangasem dilakukan pemotongan dan dijual secara besar-besaran. “Ada 1 juta ayam di Karangasem yang tidak produksi. Dan bibit di Karangasem saat ini sudah nol,” terang Sudarsana.

Hanya saja, yang membuat dia heran, kelangkaan ayam ini justru berpengaruh pada penjualan yang menurun hingga 30 persen.

“Seharusnya kalau ayam langka pembeli banyak. Tapi ini justru turun,” bebernya. Dengan kondisi kenaikan harga ini, ia dan beberapa anggota Garpu Bali terpaksa mendatangkan daging ayam dari Jawa.

Kondisi ini kerap terjadi jika ada ketimpangan harga ayam antara Jawa dan Bali di atas Rp 2 ribu per kilogram.

“Rata-rata semua pemotong di Bali mengambil daging dari Jawa. Dalam satu hari bisa mengambil 50 ton,” tandasnya.

Dia berharap agar produksi ayam di Bali tetap terjaga. Sehingga antara pemotong dengan peternak bisa terjalin hubungan dengan bagus.

“Agar tidak ada salah paham lagi. Agar ayam di Peternak di bali bisa terserap,” pungkasnya

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/