29.2 C
Jakarta
18 Juni 2024, 11:11 AM WIB

Debit Air di Timuhun Mengecil, Dua Tahun Sekali Baru Bisa Tanam Padi

SEMARAPURA – Lahan pertanian di Desa Timuhun, Kecamatan Banjarangkan kian hari kian menyusut.

Bukan karena alih fungsi lahan, kondisi itu akibat debit air yang kian mengecil sehingga banyak lahan persawahan yang berubah menjadi lahan kering atau tegalan.

Untuk mengatasi permasalahan itu, warga sangat berharap ada bendungan baru untuk dapat menangkap air lebih banyak lagi sehingga lahan yang selama ini ditumbuhi semak belukar bisa kembali ditanami komoditi pertanian.

Salah seorang warga Desa Timuhun yang juga penggagas pembangunan bendungan, Anak Agung Gede Yuliantara, menuturkan,

Desa Timuhun kini memiliki luas lahan pertanian atau persawahan sekitar 156,83 hektare dan lahan kering sekitar 747, 11 hektare.

Menurutnya, lahan kering tersebut puluhan tahun lalu sebenarnya merupakan lahan persawahan.

Itu berubah lantaran debit air bendungan Daerah Aliran Sungai (DAS) Melangit di Sungai Bubuh yang letaknya di sebelah barat Desa Timuhun terus menurun.

“Menurunnya debit air karena banyaknya pembangunan yang dibangun desa lain. Selain itu, juga karena dimanfaatkan sebagai sumber air minum,” terangnya.

Meski 156,83 hektare lahan di Desa Timuhun berstatus lahan persawahan, menurutnya, lahan persawahan itu tidak bisa digarap maksimal akibat debit air yang kecil.

Tiga subak yang ada di Desa Timuhun hanya bisa menanam padi setiap dua tahun sekali karena harus membagi air yang debitnya sudah mengecil itu.

“Setelah menanam padi, biasanya ditanami cabai. Setelah itu tidak bisa ditanami tanaman apa-apa lagi karena tidak dapat air. Dan harus menunggu dua tahun lagi untuk mendapatkan air.

Selama menunggu air, ada yang lahan pertaniannya dibiarkan ditumbuhi rumput liar. Dan ada pula yang ditanami pohon albesia dan pisang,” katanya.

Atas kondisi itu, para petani berharap adanya bendungan baru memanfaatkan DAS Sungai Jinah yang letaknya di sisi timur Desa Timuhun atau perbatasan Kabupaten Bangli.

Pembangunan bendungan itu diusulkan karena debit air Sungai Jinah sangat besar dan masih sedikit ada pembangunan bendungan sehingga air banyak terbuang percuma ke laut.

Dengan adanya bendungan itu, dia yakin tidak hanya persawahan seluas 156,83 hektare yang teraliri air.

Lahan kering sekitar 747, 11 hektare, juga bisa mendapatkan air sehingga bisa kembali dimanfaatkan sebagai lahan pertanian.

“Proposal sudah kami kirim kepada Gubernur Bali Juli 2020 lalu. Selain itu, proposal yang sudah ditandatangani Bupati Klungkung, I Nyoman Suwirta ini juga sudah kami tembuskan

kepada 8 pihak. Di antaranya Ketua DPRD Bali, Dinas PU Provinsi Bali, dan Kepala Bappeda Kabupaten Klungkung.

Kami berharap ini bisa terealisasi sehingga kejayaan sektor pertanian di desa kami kembali jaya seperti dulu lagi,” tandasnya. 

SEMARAPURA – Lahan pertanian di Desa Timuhun, Kecamatan Banjarangkan kian hari kian menyusut.

Bukan karena alih fungsi lahan, kondisi itu akibat debit air yang kian mengecil sehingga banyak lahan persawahan yang berubah menjadi lahan kering atau tegalan.

Untuk mengatasi permasalahan itu, warga sangat berharap ada bendungan baru untuk dapat menangkap air lebih banyak lagi sehingga lahan yang selama ini ditumbuhi semak belukar bisa kembali ditanami komoditi pertanian.

Salah seorang warga Desa Timuhun yang juga penggagas pembangunan bendungan, Anak Agung Gede Yuliantara, menuturkan,

Desa Timuhun kini memiliki luas lahan pertanian atau persawahan sekitar 156,83 hektare dan lahan kering sekitar 747, 11 hektare.

Menurutnya, lahan kering tersebut puluhan tahun lalu sebenarnya merupakan lahan persawahan.

Itu berubah lantaran debit air bendungan Daerah Aliran Sungai (DAS) Melangit di Sungai Bubuh yang letaknya di sebelah barat Desa Timuhun terus menurun.

“Menurunnya debit air karena banyaknya pembangunan yang dibangun desa lain. Selain itu, juga karena dimanfaatkan sebagai sumber air minum,” terangnya.

Meski 156,83 hektare lahan di Desa Timuhun berstatus lahan persawahan, menurutnya, lahan persawahan itu tidak bisa digarap maksimal akibat debit air yang kecil.

Tiga subak yang ada di Desa Timuhun hanya bisa menanam padi setiap dua tahun sekali karena harus membagi air yang debitnya sudah mengecil itu.

“Setelah menanam padi, biasanya ditanami cabai. Setelah itu tidak bisa ditanami tanaman apa-apa lagi karena tidak dapat air. Dan harus menunggu dua tahun lagi untuk mendapatkan air.

Selama menunggu air, ada yang lahan pertaniannya dibiarkan ditumbuhi rumput liar. Dan ada pula yang ditanami pohon albesia dan pisang,” katanya.

Atas kondisi itu, para petani berharap adanya bendungan baru memanfaatkan DAS Sungai Jinah yang letaknya di sisi timur Desa Timuhun atau perbatasan Kabupaten Bangli.

Pembangunan bendungan itu diusulkan karena debit air Sungai Jinah sangat besar dan masih sedikit ada pembangunan bendungan sehingga air banyak terbuang percuma ke laut.

Dengan adanya bendungan itu, dia yakin tidak hanya persawahan seluas 156,83 hektare yang teraliri air.

Lahan kering sekitar 747, 11 hektare, juga bisa mendapatkan air sehingga bisa kembali dimanfaatkan sebagai lahan pertanian.

“Proposal sudah kami kirim kepada Gubernur Bali Juli 2020 lalu. Selain itu, proposal yang sudah ditandatangani Bupati Klungkung, I Nyoman Suwirta ini juga sudah kami tembuskan

kepada 8 pihak. Di antaranya Ketua DPRD Bali, Dinas PU Provinsi Bali, dan Kepala Bappeda Kabupaten Klungkung.

Kami berharap ini bisa terealisasi sehingga kejayaan sektor pertanian di desa kami kembali jaya seperti dulu lagi,” tandasnya. 

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/