25.1 C
Jakarta
23 Juni 2024, 9:42 AM WIB

Diwarisi dari Generasi ke Generasi, Produksi Arak Gula Membuat Resah

Produksi arak di Desa Les, Kecamatan Tejakula, telah menjadi warisan turun temurun. Warga kini mulai berani memproduksi arak. Tanpa khawatir digerebek aparat keamanan. Namun kini, produksi arak gula dari luar desa mulai menghantui.

 

Eka Prasetya, Buleleng

 

WAYAN Ngastawa, 60, baru saja usai menderas nira lontar. Hari itu, hasil dari menderas nira kurang menguntungkan. Dia hanya mendapat sekitar 35 liter tuak.

 

Hari-hari belakangan, hasil nira lontar memang tak terlalu banyak. Hujan lebat kerap turun. dampaknya produksi  nira lontar juga turut berkurang. Padahal saat musim panas, hasil yang didapat bisa dua kali lipat.

 

Ngastawa menyerahkan tuak itu pada istrinya, Nengah Narsi, 52. Narsi bergegas menuangkan tuak itu ke dalam panci berukuran 50 liter. Narsi dan Ngastawa kemudian mengangkat panci itu ke atas kompor gas. Selanjutnya panci ditutup rapat.  Celah-celah yang tersisa, ditutup menggunakan serabut lontar.

 

Tutup panci kemudian terhubung dengan sebatang bambu. Panjang bambu itu mencapai 8 meter. Di ujung bambu ada botol yang telah menampung tetesan arak. Kompor itu akan menyala setidaknya hingga 4 jam mendatang.

 

Saban hari, Wayan Ngastawa dan Nengah Narsi rutin memproduksi arak. Setidaknya dua tahun terakhir, Ngastawa tak perlu lagi sembunyi-sembunyi memproduksi arak.

 

“Dulu ya takut. Harus sembunyi-sembunyi. Pernah ada polisi datang ke sini. Untung saya tidak dibawa ke polsek. Hanya ditegur saja,” kata Ngastawa saat ditemui di rumahnya yang terletak di Dusun Selonding, Desa Les, Kecamatan Tejakula.

 

Ngastawa merupakan salah seorang petani arak di Desa Les, Kecamatan Tejakula. Saban hari ia bisa menghasilkan sekitar 6 liter arak. Minuman beralkohol tradisional itu kemudian dikemas dalam botol plastik dengan kemasan 600 mililiter.

 

Dulunya Ngastawa tak berani terang-terangan memproduksi arak. Sesekali dia memproduksi gula juruh. Bila kondisi dirasa aman, dia membuat arak. Dia tak mau usahanya digerebek polisi. “Kalau saya dibawa ke polsek, istri dan anak-anak dimana cari makan. Sedangkan ini satu-satunya usaha biar dapat uang,” ceritanya.

 

Menurutnya memproduksi arak lebih menguntungkan ketimbang menjual gula juruh. Alasannya gula juruh tidak tahan lama. Meski gula juruh bisa dijual seharga Rp 20 ribu sebotol.

Sedangkan arak Bali lebih tahan lama. Kendati harga jualnya hanya Rp 15 ribu sebotol.

 

“Kalau juruh, sebulan tidak laku, ya rusak. Akhirnya rugi. Tapi kalau arak, meskipun 6 bulan nggak laku, masih bisa dijual. Karena tahan lama,” tuturnya.

 

Alasan itu terbilang masuk akal. Ia tahun lalu sempat mengalami paceklik. Selama 6 bulan penuh tak ada yang membeli arak produksinya. Tapi saat ada yang membeli, dia bisa mendapat hasil cukup besar. Mencapai belasan juta.

 

Lebih lanjut Ngastawa menuturkan, saat ini para petani arak masih gelisah dengan kepastian harga beli. Harga tuak di tingkat petani hanya Rp 4 ribu sebotol. Sedangkan harga arak hanya Rp 15 ribu. Padahal di tangan konsumen, harga tuak mencapai Rp 10 ribu sebotol. Sementara arak dijual seharga Rp 25 ribu hingga Rp 35 ribu sebotol.

 

Ayah dari 2 orang anak itu menuturkan, dirinya sempat didatangi seseorang yang mengatasnamakan koperasi arak. Tatkala itu pihak koperasi menyanggupi menyerap hasil petani arak. Koperasi berjanji membeli tuak seharga Rp 7 ribu sebotol. Sedangkan arak dibeli Rp 20 ribu sebotol.

 

“Waktu itu arak saya diambil 16 botol. Masyarakat sini kan senang. Karena katanya pasti diambil. Tapi setelah itu nggak ada datang lagi,” ujarnya.

 

Perbekel Lese Gede Adi Wistara mengatakan, jumlah petani arak di desanya cukup banyak. Khusus di Dusun Selonding saja, ada 10 orang yang memproduksi arak. Hanya saja pada musim yang tak menentu seperti saat ini, hasil arak juga merosot drastis.

 

Ia mengaku ingin mengemas arak asal Desa Les menjadi lebih menarik. Selama ini petani arak hanya mengemas dalam botol kemasan biasa. Meski begitu, hasil petani arak rata-rata sudah ludes diserap pasar lokal masyarakat setempat.

 

“Kami ingin supaya dikemas dalam botol kaca, diisi label. Tentu harganya akan lebih tinggi. Kendalanya kan pemasaran. Kami masih konsultasi, apakah BUMDes itu boleh menyerap hasil panen petani arak dan memasarkan arak,” katanya.

 

Selain masalah pemasaran, saat ini petani arak juga dibuat gelisah dengan masuknya produksi arak gula dari luar daerah. “Ada orang dari luar desa yang berusaha memasukkan. Itu di konsumen sudah dijual Rp 10 ribu sebotol. Tegas saya minta jangan dijual di Desa Les. Itu kan membuat harga jatuh. Yang kena dampak, jelas warga kami juga,” demikian Adi Wistara. (/*)

 

Produksi arak di Desa Les, Kecamatan Tejakula, telah menjadi warisan turun temurun. Warga kini mulai berani memproduksi arak. Tanpa khawatir digerebek aparat keamanan. Namun kini, produksi arak gula dari luar desa mulai menghantui.

 

Eka Prasetya, Buleleng

 

WAYAN Ngastawa, 60, baru saja usai menderas nira lontar. Hari itu, hasil dari menderas nira kurang menguntungkan. Dia hanya mendapat sekitar 35 liter tuak.

 

Hari-hari belakangan, hasil nira lontar memang tak terlalu banyak. Hujan lebat kerap turun. dampaknya produksi  nira lontar juga turut berkurang. Padahal saat musim panas, hasil yang didapat bisa dua kali lipat.

 

Ngastawa menyerahkan tuak itu pada istrinya, Nengah Narsi, 52. Narsi bergegas menuangkan tuak itu ke dalam panci berukuran 50 liter. Narsi dan Ngastawa kemudian mengangkat panci itu ke atas kompor gas. Selanjutnya panci ditutup rapat.  Celah-celah yang tersisa, ditutup menggunakan serabut lontar.

 

Tutup panci kemudian terhubung dengan sebatang bambu. Panjang bambu itu mencapai 8 meter. Di ujung bambu ada botol yang telah menampung tetesan arak. Kompor itu akan menyala setidaknya hingga 4 jam mendatang.

 

Saban hari, Wayan Ngastawa dan Nengah Narsi rutin memproduksi arak. Setidaknya dua tahun terakhir, Ngastawa tak perlu lagi sembunyi-sembunyi memproduksi arak.

 

“Dulu ya takut. Harus sembunyi-sembunyi. Pernah ada polisi datang ke sini. Untung saya tidak dibawa ke polsek. Hanya ditegur saja,” kata Ngastawa saat ditemui di rumahnya yang terletak di Dusun Selonding, Desa Les, Kecamatan Tejakula.

 

Ngastawa merupakan salah seorang petani arak di Desa Les, Kecamatan Tejakula. Saban hari ia bisa menghasilkan sekitar 6 liter arak. Minuman beralkohol tradisional itu kemudian dikemas dalam botol plastik dengan kemasan 600 mililiter.

 

Dulunya Ngastawa tak berani terang-terangan memproduksi arak. Sesekali dia memproduksi gula juruh. Bila kondisi dirasa aman, dia membuat arak. Dia tak mau usahanya digerebek polisi. “Kalau saya dibawa ke polsek, istri dan anak-anak dimana cari makan. Sedangkan ini satu-satunya usaha biar dapat uang,” ceritanya.

 

Menurutnya memproduksi arak lebih menguntungkan ketimbang menjual gula juruh. Alasannya gula juruh tidak tahan lama. Meski gula juruh bisa dijual seharga Rp 20 ribu sebotol.

Sedangkan arak Bali lebih tahan lama. Kendati harga jualnya hanya Rp 15 ribu sebotol.

 

“Kalau juruh, sebulan tidak laku, ya rusak. Akhirnya rugi. Tapi kalau arak, meskipun 6 bulan nggak laku, masih bisa dijual. Karena tahan lama,” tuturnya.

 

Alasan itu terbilang masuk akal. Ia tahun lalu sempat mengalami paceklik. Selama 6 bulan penuh tak ada yang membeli arak produksinya. Tapi saat ada yang membeli, dia bisa mendapat hasil cukup besar. Mencapai belasan juta.

 

Lebih lanjut Ngastawa menuturkan, saat ini para petani arak masih gelisah dengan kepastian harga beli. Harga tuak di tingkat petani hanya Rp 4 ribu sebotol. Sedangkan harga arak hanya Rp 15 ribu. Padahal di tangan konsumen, harga tuak mencapai Rp 10 ribu sebotol. Sementara arak dijual seharga Rp 25 ribu hingga Rp 35 ribu sebotol.

 

Ayah dari 2 orang anak itu menuturkan, dirinya sempat didatangi seseorang yang mengatasnamakan koperasi arak. Tatkala itu pihak koperasi menyanggupi menyerap hasil petani arak. Koperasi berjanji membeli tuak seharga Rp 7 ribu sebotol. Sedangkan arak dibeli Rp 20 ribu sebotol.

 

“Waktu itu arak saya diambil 16 botol. Masyarakat sini kan senang. Karena katanya pasti diambil. Tapi setelah itu nggak ada datang lagi,” ujarnya.

 

Perbekel Lese Gede Adi Wistara mengatakan, jumlah petani arak di desanya cukup banyak. Khusus di Dusun Selonding saja, ada 10 orang yang memproduksi arak. Hanya saja pada musim yang tak menentu seperti saat ini, hasil arak juga merosot drastis.

 

Ia mengaku ingin mengemas arak asal Desa Les menjadi lebih menarik. Selama ini petani arak hanya mengemas dalam botol kemasan biasa. Meski begitu, hasil petani arak rata-rata sudah ludes diserap pasar lokal masyarakat setempat.

 

“Kami ingin supaya dikemas dalam botol kaca, diisi label. Tentu harganya akan lebih tinggi. Kendalanya kan pemasaran. Kami masih konsultasi, apakah BUMDes itu boleh menyerap hasil panen petani arak dan memasarkan arak,” katanya.

 

Selain masalah pemasaran, saat ini petani arak juga dibuat gelisah dengan masuknya produksi arak gula dari luar daerah. “Ada orang dari luar desa yang berusaha memasukkan. Itu di konsumen sudah dijual Rp 10 ribu sebotol. Tegas saya minta jangan dijual di Desa Les. Itu kan membuat harga jatuh. Yang kena dampak, jelas warga kami juga,” demikian Adi Wistara. (/*)

 

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/