Warning: Undefined variable $reporternya in /var/www/devwpradar/wp-content/themes/Newspaper/functions.php on line 229
26.1 C
Jakarta
21 Juli 2024, 5:53 AM WIB

Proyek Patung Penyu Penimbangan Mangkrak, Jadi Sorotan

SINGARAJA– Keberadaan patung penyu di kawasan Pantai Penimbangan kembali jadi sorotan. Sebab patung itu tak kunjung selesai. Bahkan kini sosok penyu yang diharapkan menjadi ikon pantai, tak lagi nampak.

 

Patung tersebut mulai dibangun pada tahun 2016 lalu. Tatkala itu warga bersemangat membangun patung, sebab pemerintah berjanji akan memberikan dukungan. Warga pun mulai melakukan pembangunan lewat dana swadaya. Warga juga menggalang bantuan dari para donatur.

 

Dari hasil swadaya dan donasi, proses pembangunan hanya mampu tuntas hingga 60 persen. Warga pun menagih janji bantuan pada pemerintah. Faktanya, hingga kini janji itu tak juga terealisasi. Lantaran lama tak tuntas, patung mulai mengalami kerusakan. Bagian sirip mulai patah.

 

Nah beberapa bulan lalu, para pegiat yang menginisiasi pembangunan patung itu, memilih membongkar patung penyu. Sehingga kini hanya menyisakan bagian pedestal saja.

 

Anggota Komisi II DPRD Buleleng Made Sudiarta menganggap pemerintah tak punya hati. Sebab patung dibiarkan mangkrak selama bertahun-tahun. Bahkan kini patung sudah hilang. Ia menilai Pantai Penimbangan merupakan salah satu ikon wisata di Kota Singaraja. Sehingga patut mendapat perhatian. Keberadaan pantai itu juga memberikan kontribusi bagi pendapatan daerah. “Itu nyata-nyata tiap hari dipungut parkir. Memberi pemasukan. Tapi patungnya nggak pernah diselesaikan,” kata politisi yang akrab disapa Dek Tamu itu.

 

Ia pun mendesak agar pemerintah, dalam hal ini Dinas Pariwisata Buleleng lebih kreatif. “Kalau pemda nggak punya anggaran, kan bisa cari CSR. Masa dibiarkan begitu. Malu sama pengunjung,” ujarnya.

 

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Buleleng Gede Dody Sukma Oktiva Askara mengatakan, patung itu dibuat oleh kelompok masyarakat. Patung hingga kini tidak tercatat dalam aset pemerintah. Sementara pemerintah hanya bisa melakukan perbaikan, bila patung itu tercantum dalam aset.

 

“Kalau mau dicatatkan di aset, itu juga harus izin ke provinsi. Karena bangunan itu menjorok ke laut. Kewenangan pengelolaan laut itu di provinsi. Di satu sisi, kondisi terkini hingga jadi sorotan, tidak bisa kami pungkiri. Kami akan diskusi untuk mencari jalan keluarnya,” kata Dody. (eps)

 

 

SINGARAJA– Keberadaan patung penyu di kawasan Pantai Penimbangan kembali jadi sorotan. Sebab patung itu tak kunjung selesai. Bahkan kini sosok penyu yang diharapkan menjadi ikon pantai, tak lagi nampak.

 

Patung tersebut mulai dibangun pada tahun 2016 lalu. Tatkala itu warga bersemangat membangun patung, sebab pemerintah berjanji akan memberikan dukungan. Warga pun mulai melakukan pembangunan lewat dana swadaya. Warga juga menggalang bantuan dari para donatur.

 

Dari hasil swadaya dan donasi, proses pembangunan hanya mampu tuntas hingga 60 persen. Warga pun menagih janji bantuan pada pemerintah. Faktanya, hingga kini janji itu tak juga terealisasi. Lantaran lama tak tuntas, patung mulai mengalami kerusakan. Bagian sirip mulai patah.

 

Nah beberapa bulan lalu, para pegiat yang menginisiasi pembangunan patung itu, memilih membongkar patung penyu. Sehingga kini hanya menyisakan bagian pedestal saja.

 

Anggota Komisi II DPRD Buleleng Made Sudiarta menganggap pemerintah tak punya hati. Sebab patung dibiarkan mangkrak selama bertahun-tahun. Bahkan kini patung sudah hilang. Ia menilai Pantai Penimbangan merupakan salah satu ikon wisata di Kota Singaraja. Sehingga patut mendapat perhatian. Keberadaan pantai itu juga memberikan kontribusi bagi pendapatan daerah. “Itu nyata-nyata tiap hari dipungut parkir. Memberi pemasukan. Tapi patungnya nggak pernah diselesaikan,” kata politisi yang akrab disapa Dek Tamu itu.

 

Ia pun mendesak agar pemerintah, dalam hal ini Dinas Pariwisata Buleleng lebih kreatif. “Kalau pemda nggak punya anggaran, kan bisa cari CSR. Masa dibiarkan begitu. Malu sama pengunjung,” ujarnya.

 

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Buleleng Gede Dody Sukma Oktiva Askara mengatakan, patung itu dibuat oleh kelompok masyarakat. Patung hingga kini tidak tercatat dalam aset pemerintah. Sementara pemerintah hanya bisa melakukan perbaikan, bila patung itu tercantum dalam aset.

 

“Kalau mau dicatatkan di aset, itu juga harus izin ke provinsi. Karena bangunan itu menjorok ke laut. Kewenangan pengelolaan laut itu di provinsi. Di satu sisi, kondisi terkini hingga jadi sorotan, tidak bisa kami pungkiri. Kami akan diskusi untuk mencari jalan keluarnya,” kata Dody. (eps)

 

 

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/