29.9 C
Jakarta
Tuesday, March 21, 2023

Jaga Ekosistem Kawasan Hulu, Seribu Pohon Lerak Ditanam di Desa Panji Buleleng

SINGARAJA – Sedikitnya seribu batang pohon lerak (Sapindus rarak) ditanam di sepanjang daerah aliran sungai yang ada di Desa Panji. Pohon itu sengaja ditanam untuk menjaga ekosistem kawasan hulu. Pohon itu disebut sebagai pohon endemis di Desa Panji, namun keberadaannya sudah langka.

Perbekel Panji Jro Mangku Made Ariawan mengatakan, masyarakat sudah lama mengenal pohon lerek. Masyarakat setempat menyebutnya dengan pohon kererek. Tanaman itu dulunya banyak ditemukan di sepanjang daerah aliran sungai. Tapi kini hanya ditemukan di kawasan hutan.

Mangku menduga pohon itu sengaja dibabat. Sebab kualitas kayu kererek terbilang baik. Dampaknya jumlah pohon itu terus berkurang.

“Padahal orang tua kita dulu pakai biji pohon kererek untuk deterjen alami. Terutama untuk mencuci endek dan songket. Jadi warnanya tidak luntur,” jelas pria yang akrab disapa Mangku Panji itu.

Kini ia berusaha menanam kembali pohon-pohon endemis. Pihaknya meminta bantuan bibit pada PT. Permodalan Nasional Madani. Perusahaan tersebut menyuplai sebanyak 1.000 batang bibit pohon lerek ditambah 350 batang pohon durian.

Menurutnya pohon-pohon itu sengaja ditanam di daerah aliran sungai sebagai salah satu upaya melakukan konservasi air. Hal itu juga akan memudahkan pengawasan apabila pihak-pihak tak berkepentingan berupaya membabat pohon tersebut.

Penanaman akan dilakukan bertahap setiap hari Jumat. Mulai dari kawasan Puncak Landep di hulu, hingga sepanjang Daerah Irigasi Tiingtali yang ada kawasan hilir.

“Nanti jangka panjang kami akan pikirkan bagaimana cara membuat deterjen dari biji pohon itu. Minimal pembuatan insektisida organik. Karena manfaatnya banyak,” imbuhnya.

Sementara itu Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Buleleng Gede Melandrat mengatakan, konservasi tanaman endemis mutlak dilakukan. Sehingga dapat menjaga kesimbangan ekosistem di kawasan setempat.

Ia berharap upaya penanaman itu bukan formalitas belaka. “Lebih penting adalah keberlanjutannya. Jangan hanya sekadar menanam, setelah itu malah bibitnya mati. Tidak masalah menanam sedikit, yang penting hidup semua. Ketimbang menanam banyak, tapi yang tumbuh hanya sedikit,” ujar Melandrat. (eps/rid)

SINGARAJA – Sedikitnya seribu batang pohon lerak (Sapindus rarak) ditanam di sepanjang daerah aliran sungai yang ada di Desa Panji. Pohon itu sengaja ditanam untuk menjaga ekosistem kawasan hulu. Pohon itu disebut sebagai pohon endemis di Desa Panji, namun keberadaannya sudah langka.

Perbekel Panji Jro Mangku Made Ariawan mengatakan, masyarakat sudah lama mengenal pohon lerek. Masyarakat setempat menyebutnya dengan pohon kererek. Tanaman itu dulunya banyak ditemukan di sepanjang daerah aliran sungai. Tapi kini hanya ditemukan di kawasan hutan.

Mangku menduga pohon itu sengaja dibabat. Sebab kualitas kayu kererek terbilang baik. Dampaknya jumlah pohon itu terus berkurang.

“Padahal orang tua kita dulu pakai biji pohon kererek untuk deterjen alami. Terutama untuk mencuci endek dan songket. Jadi warnanya tidak luntur,” jelas pria yang akrab disapa Mangku Panji itu.

Kini ia berusaha menanam kembali pohon-pohon endemis. Pihaknya meminta bantuan bibit pada PT. Permodalan Nasional Madani. Perusahaan tersebut menyuplai sebanyak 1.000 batang bibit pohon lerek ditambah 350 batang pohon durian.

Menurutnya pohon-pohon itu sengaja ditanam di daerah aliran sungai sebagai salah satu upaya melakukan konservasi air. Hal itu juga akan memudahkan pengawasan apabila pihak-pihak tak berkepentingan berupaya membabat pohon tersebut.

Penanaman akan dilakukan bertahap setiap hari Jumat. Mulai dari kawasan Puncak Landep di hulu, hingga sepanjang Daerah Irigasi Tiingtali yang ada kawasan hilir.

“Nanti jangka panjang kami akan pikirkan bagaimana cara membuat deterjen dari biji pohon itu. Minimal pembuatan insektisida organik. Karena manfaatnya banyak,” imbuhnya.

Sementara itu Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Buleleng Gede Melandrat mengatakan, konservasi tanaman endemis mutlak dilakukan. Sehingga dapat menjaga kesimbangan ekosistem di kawasan setempat.

Ia berharap upaya penanaman itu bukan formalitas belaka. “Lebih penting adalah keberlanjutannya. Jangan hanya sekadar menanam, setelah itu malah bibitnya mati. Tidak masalah menanam sedikit, yang penting hidup semua. Ketimbang menanam banyak, tapi yang tumbuh hanya sedikit,” ujar Melandrat. (eps/rid)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru