29.2 C
Jakarta
Friday, June 2, 2023

Bupati Agus Minta PD Swatantra Beli Kopi Petani dengan Harga Tinggi

SINGARAJA – Potensi kopi di Buleleng tak bisa dipandang sebelah mata. Buleleng punya potensi besar dari kopi arabika maupun robusta.

Sayangnya teknologi pengolahan pasca panen masih terbatas. Sehingga kopi asal Buleleng masih kalah saing dengan kopi wilayah lain.

Mengacu data dari pemerintah, saat ini Buleleng punya luas tanam kopi robusta seluas 10.000 hektare. Sementara kopi arabika mencapai 4.500 hektare.

Dengan luas tanam tersebut, produksi biji kopi di Buleleng tak kurang dari 4.500 ton per tahun. Sayang kopi asal Buleleng masih kurang dikenal.

Pemerintah berjanji akan memfasilitasi para petani kopi teknologi pasca panen. Janji itu dilontarkan Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana, pada Festival Kopi yang dibuka di Pemaron, Selasa (22/6).

Bupati Agus mengatakan, saat ini luas lahan tanam robusta di Buleleng memang paling luas. Pasar kopi robusta sendiri masih terbuka lebar.

Mengingat selama ini didominasi oleh pasar kopi arabika. Apabila dikelola dengan optimal dari hulu sampai hilir, ia yakin kopi akan memberikan dampak ekonomi bagi Buleleng.

Ia pun meminta agar PD Swatantra berdiri sebagai penyerap hasil panen petani kopi. Hal itu dilakukan agar petani kopi tak menjual biji kopi dengan harga murah.

“Supaya tidak jatuh harganya. Jangan mau jual murah ke pengepul. Kalau di pengepul lebih murah, PD Swatantra harus berani kasih harga yang tinggi,” kata Agus.

Mantan Ketua Komisi III DPRD Bali itu juga meminta agar petani memerhatikan pengolahan pasca panen.

Apabila petani bisa mengolah langsung kopi hasil produksinya, ia yakin petani akan mendapat imbal hasil yang lebih besar.

“Kalau kita mengandalkan menjual kopi dengan cara lama, tanpa meningkatkan hasil olahan, satu kita kalah saing,

dua kita kalah harga karena ditekan tengkulak. Kalau kita punya olahan yang baik ini bisa kualitasnya meningkat dan pasti meningkat nilainya,” tegasnya. 

Bupati Agus tak menampik salah satu kekurangan para petani adalah dalam proses roasting kopi. Ia berjanji akan memfasilitasi para petani teknologi dalam pengolahan kopi tersebut.

“Kalau cara roasting, alatnya masih konvensional, tadi sudah kita diskusikan kita akan pelajari alat-alat pembuat kopi yang

bisa membuat rasa kopi terus sama. Cari mesin yang bisa membuat standar kopi terus terus terjaga,” tandasnya. 

SINGARAJA – Potensi kopi di Buleleng tak bisa dipandang sebelah mata. Buleleng punya potensi besar dari kopi arabika maupun robusta.

Sayangnya teknologi pengolahan pasca panen masih terbatas. Sehingga kopi asal Buleleng masih kalah saing dengan kopi wilayah lain.

Mengacu data dari pemerintah, saat ini Buleleng punya luas tanam kopi robusta seluas 10.000 hektare. Sementara kopi arabika mencapai 4.500 hektare.

Dengan luas tanam tersebut, produksi biji kopi di Buleleng tak kurang dari 4.500 ton per tahun. Sayang kopi asal Buleleng masih kurang dikenal.

Pemerintah berjanji akan memfasilitasi para petani kopi teknologi pasca panen. Janji itu dilontarkan Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana, pada Festival Kopi yang dibuka di Pemaron, Selasa (22/6).

Bupati Agus mengatakan, saat ini luas lahan tanam robusta di Buleleng memang paling luas. Pasar kopi robusta sendiri masih terbuka lebar.

Mengingat selama ini didominasi oleh pasar kopi arabika. Apabila dikelola dengan optimal dari hulu sampai hilir, ia yakin kopi akan memberikan dampak ekonomi bagi Buleleng.

Ia pun meminta agar PD Swatantra berdiri sebagai penyerap hasil panen petani kopi. Hal itu dilakukan agar petani kopi tak menjual biji kopi dengan harga murah.

“Supaya tidak jatuh harganya. Jangan mau jual murah ke pengepul. Kalau di pengepul lebih murah, PD Swatantra harus berani kasih harga yang tinggi,” kata Agus.

Mantan Ketua Komisi III DPRD Bali itu juga meminta agar petani memerhatikan pengolahan pasca panen.

Apabila petani bisa mengolah langsung kopi hasil produksinya, ia yakin petani akan mendapat imbal hasil yang lebih besar.

“Kalau kita mengandalkan menjual kopi dengan cara lama, tanpa meningkatkan hasil olahan, satu kita kalah saing,

dua kita kalah harga karena ditekan tengkulak. Kalau kita punya olahan yang baik ini bisa kualitasnya meningkat dan pasti meningkat nilainya,” tegasnya. 

Bupati Agus tak menampik salah satu kekurangan para petani adalah dalam proses roasting kopi. Ia berjanji akan memfasilitasi para petani teknologi dalam pengolahan kopi tersebut.

“Kalau cara roasting, alatnya masih konvensional, tadi sudah kita diskusikan kita akan pelajari alat-alat pembuat kopi yang

bisa membuat rasa kopi terus sama. Cari mesin yang bisa membuat standar kopi terus terus terjaga,” tandasnya. 

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/