25.6 C
Jakarta
19 Juni 2024, 6:28 AM WIB

Polisi Usut Keracunan Massal di SMP Negeri Satu Atap 2 Kubutambahan

 

SINGARAJA– Polisi mengusut peristiwa keracunan massal yang terjadi di SMP Negeri Satu Atap 2 Kubutambahan. Polisi mengklaim kini masih menelusuri penyebab sekaligus menelusuri pihak yang bertanggungjawab terhadap peristiwa itu.

 

Kasi Humas Polres Buleleng, AKP Gede Sumarjaya mengatakan, Polsek Kubutambahan kini tengah melakukan penyelidikan terhadap hal tersebut. Tercatat ada 6 orang siswa, kepala sekolah, serta pemilik warung makan.

 

Namun Sumarjaya enggan membeberkan temuan yang didapat polisi. Alasannya hal itu masih menjadi penyelidikan polisi. Ia hanya menyatakan bahwa polisi telah menyerahkan beberapa sampel pada Laboratorium Forensik Polda Bali.

 

“Penyidik sedang bekerja. Kami sudah ambil beberapa sampel nasi bungkus dan kue yang diberikan pada siswa. Semuanya sudah kami serahkan ke Labfor untuk proses penyelidikan lebih lanjut,” kata Sumarjaya saat ditemui di Mapolres Buleleng, Senin (6/6).

 

Menurutnya Labfor biasanya membutuhkan waktu hingga dua pekan untuk melakukan proses penelitian di laboratorium. Hasil laboratorium akan jadi acuan bagi penyidik untuk penyelidikan lebih jauh.

 

“Nanti akan dipelajari. Apakah itu mengandung unsur kesengajaan atau tidak, apakah ada unsur pidana atau tidak. Kami menunggu hasil labfor dulu,” imbuhnya.

 

Di sisi lain, penelusuran Jawa Pos Radar Bali, usai peristiwa keracunan massal yang terjadi pada Sabtu (4/6) lalu, ada 136 orang yang dilarikan ke rumah sakit. Sebanyak 133 orang diantaranya adalah siswa, 2 orang adalah guru, dan seorang lagi adalah staf tata usaha di SMPN Satu Atap 2 Kubutambahan.

 

Dari seratusan orang itu, sebanyak 17 orang harus menjalani rawat inap di RSUD Buleleng. Sebanyak 16 orang berstatus siswa dan seorang lainnya berstatus staf tata usaha. Mayoritas menjalani perawatan selama semalam. Hanya ada 2 orang siswa yang menjalani perawatan selama 2 malam karena mengalami dehidrasi.

 

“Hari ini semuanya sudah dinyatakan sehat. Tidak ada lagi yang dirawat di rumah sakit,” kata Kepala SMPN Satu Atap 2 Kubutambahan, Komang Rupada.

 

Seperti diberitakan sebelumnya, peristiwa keracunan massal terjadi pada Sabtu (4/6) lalu. Siswa dan guru di SMPN Satu Atap 2 Kubutambahan keracunan setelah mengonsumsi nasi bungkus yang dibagikan pada acara perpisahan sekolah.

 

Mereka sempat dilarikan ke Puskesmas Kintamani III di Desa Belantih, Kecamatan Kintamani. Karena pasien terus berdatangan, tim medis menyarankan agar siswa dilarikan ke RSUD Giri Emas. Sayangnya tenaga medis di RSUD Giri Emas juga terbatas, sehingga mereka dirujuk ke RSUD Buleleng dan beberapa rumah sakit swasta lain di Singaraja. (eps)

 

SINGARAJA– Polisi mengusut peristiwa keracunan massal yang terjadi di SMP Negeri Satu Atap 2 Kubutambahan. Polisi mengklaim kini masih menelusuri penyebab sekaligus menelusuri pihak yang bertanggungjawab terhadap peristiwa itu.

 

Kasi Humas Polres Buleleng, AKP Gede Sumarjaya mengatakan, Polsek Kubutambahan kini tengah melakukan penyelidikan terhadap hal tersebut. Tercatat ada 6 orang siswa, kepala sekolah, serta pemilik warung makan.

 

Namun Sumarjaya enggan membeberkan temuan yang didapat polisi. Alasannya hal itu masih menjadi penyelidikan polisi. Ia hanya menyatakan bahwa polisi telah menyerahkan beberapa sampel pada Laboratorium Forensik Polda Bali.

 

“Penyidik sedang bekerja. Kami sudah ambil beberapa sampel nasi bungkus dan kue yang diberikan pada siswa. Semuanya sudah kami serahkan ke Labfor untuk proses penyelidikan lebih lanjut,” kata Sumarjaya saat ditemui di Mapolres Buleleng, Senin (6/6).

 

Menurutnya Labfor biasanya membutuhkan waktu hingga dua pekan untuk melakukan proses penelitian di laboratorium. Hasil laboratorium akan jadi acuan bagi penyidik untuk penyelidikan lebih jauh.

 

“Nanti akan dipelajari. Apakah itu mengandung unsur kesengajaan atau tidak, apakah ada unsur pidana atau tidak. Kami menunggu hasil labfor dulu,” imbuhnya.

 

Di sisi lain, penelusuran Jawa Pos Radar Bali, usai peristiwa keracunan massal yang terjadi pada Sabtu (4/6) lalu, ada 136 orang yang dilarikan ke rumah sakit. Sebanyak 133 orang diantaranya adalah siswa, 2 orang adalah guru, dan seorang lagi adalah staf tata usaha di SMPN Satu Atap 2 Kubutambahan.

 

Dari seratusan orang itu, sebanyak 17 orang harus menjalani rawat inap di RSUD Buleleng. Sebanyak 16 orang berstatus siswa dan seorang lainnya berstatus staf tata usaha. Mayoritas menjalani perawatan selama semalam. Hanya ada 2 orang siswa yang menjalani perawatan selama 2 malam karena mengalami dehidrasi.

 

“Hari ini semuanya sudah dinyatakan sehat. Tidak ada lagi yang dirawat di rumah sakit,” kata Kepala SMPN Satu Atap 2 Kubutambahan, Komang Rupada.

 

Seperti diberitakan sebelumnya, peristiwa keracunan massal terjadi pada Sabtu (4/6) lalu. Siswa dan guru di SMPN Satu Atap 2 Kubutambahan keracunan setelah mengonsumsi nasi bungkus yang dibagikan pada acara perpisahan sekolah.

 

Mereka sempat dilarikan ke Puskesmas Kintamani III di Desa Belantih, Kecamatan Kintamani. Karena pasien terus berdatangan, tim medis menyarankan agar siswa dilarikan ke RSUD Giri Emas. Sayangnya tenaga medis di RSUD Giri Emas juga terbatas, sehingga mereka dirujuk ke RSUD Buleleng dan beberapa rumah sakit swasta lain di Singaraja. (eps)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/