Warning: Undefined variable $reporternya in /var/www/devwpradar/wp-content/themes/Newspaper/functions.php on line 229
32 C
Jakarta
12 Juli 2024, 17:47 PM WIB

Jokowi Kaji Pembebasan Abu Bakar Ba’asyir, Netizen Bali Acungi Jempol

DENPASAR – Polemik pembebasan Ustaz Abu Bakar Ba’asyir alias ABB, sedikit mereda setelah pemerintah Presiden Jokowi bakal mengkaji pemberian grasi untuk sang terpidana.

Netizen Bali yang mengancam golput pada Pilpres April mendatang ikut gembira dengan rencana ini. Pasalnya, kebijakan baru ini menandakan Presiden Jokowi mendengarkan suara rakyat.

Sebelumnya Kepala Staf Presiden Moeldoko memastikan, permintaan pembebasan bersyarat bagi Ustaz Abu Bakar Ba’asyir tidak dapat dipenuhi oleh pemerintah.

“Iya (tidak dibebaskan). Karena persyaratan itu tidak boleh dinegosiasikan. Harus dilaksanakan,” ujar Moeldoko kepada awak media di Kompleks Istana Presiden, Jakarta, Selasa sore.

ABB tidak dapat memenuhi syarat formil sebagaimana diatur Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan dan lebih lanjut didetailkan dalam Peraturan Menteri Hukum dan HAM

Nomor 3 Tahun 2018 tentang Syarat dan Tata Cara Pemberian Remisi, Asimilasi, Cuti Mengunjungi Keluarga, Pembebasan Bersyarat, Cuti Menjelang Bebas dan Cuti Bersyarat.

Syarat formil yang harus dipenuhi narapidana perkara terorisme, pertama, bersedia bekerja sama dengan penegak hukum untuk membantu membongkar perkara tindak pidana yang dilakukannya.

Kedua, telah menjalani paling sedikit dua per tiga masa pidana, dengan ketentuan dua per tiga masa pidana tersebut paling sedikit 9 bulan.

Ketiga, telah menjalani asimilasi paling sedikit setengah dari sisa masa pidana yang wajib dijalani. Terakhir, menunjukkan kesadaran

dan penyesalan atas kesalahan yang menyebabkan pemohon dijatuhi pidana dan menyatakan ikrar kesetiaan pada NKRI secara tertulis.

Kebijakan baru Jokowi ini menuai respons positif netizen Bali. Jika awalnya mereka kecewa dan mengancam golput, mereka kini balik memuji.

“Pendapat saya ; .ABB sudah uzur dan sakit-sakitan .. mungkin dan mungkin ajal akan menjemput sebelum masa tahanannya habis ..

kalau ABB mati di penjara .. para sumbu pendek akan memainkan sinetronnya lagi .. mereka akan menyalahkan pihak pemerintahan yg tidak mau merawat ABB di penjara ..

Polri akan mereka pojokkan , Presiden mereka suruh bertanggungjawab .. kompor-kompor akan mereka hidupkan lagi agar massa mau memanas ..

dengan bungkus agama dan penistaan ulama dengan mudah mereka akan menggerakkan umat .. dan chaos pasti akan terjadi .. 

Bagaimana kalau kaum Radikal yg ada di luar negeri mendengar hal ini ?? anda jawab sendiri kelanjutannya .. 

Jokowi tidak memikirkan kalau ia jadi Presiden lagi atau tidak .. Dia memikirkan nasib bangsa ini ..,” kata akun @tutsila.

Postingan ini mendapat tanggapan dari akun @wayanekasussanta. “Tut Sila usia boleh tua,otot sudah lemah tulang dh rapuh,tapi otak masih berfungsi,otak bisa di gunakan kapan aaja

untuk memikirakan sesuatu…dia juga punya mulut tigal bilang ledakan…ludes dh semua…otot tangan kaki dia memang tidk bergerak tp pengikutnya masih ada”.

Banyak juga netizen yang mengajak agar tidak golput dalam Pemilu kali ini. “Jangan golput. Nanti lebih tersiksa 5 tahun kedepan kalo yang lain berkuasa.

Dan dia belum dibebaskan masih pertimbangan. Jangan mau termakan isu2 yang belom pasti,” kata akun @agusmahendra.

Yang jelas, pembatalan pemberian grasi untuk ustaz ABB cukup melegakan masyarakat Bali yang masih trauma setelah dua kali diguncang bom. Pertama pada 2002 dan kedua pada 2005 silam.


DENPASAR – Polemik pembebasan Ustaz Abu Bakar Ba’asyir alias ABB, sedikit mereda setelah pemerintah Presiden Jokowi bakal mengkaji pemberian grasi untuk sang terpidana.

Netizen Bali yang mengancam golput pada Pilpres April mendatang ikut gembira dengan rencana ini. Pasalnya, kebijakan baru ini menandakan Presiden Jokowi mendengarkan suara rakyat.

Sebelumnya Kepala Staf Presiden Moeldoko memastikan, permintaan pembebasan bersyarat bagi Ustaz Abu Bakar Ba’asyir tidak dapat dipenuhi oleh pemerintah.

“Iya (tidak dibebaskan). Karena persyaratan itu tidak boleh dinegosiasikan. Harus dilaksanakan,” ujar Moeldoko kepada awak media di Kompleks Istana Presiden, Jakarta, Selasa sore.

ABB tidak dapat memenuhi syarat formil sebagaimana diatur Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan dan lebih lanjut didetailkan dalam Peraturan Menteri Hukum dan HAM

Nomor 3 Tahun 2018 tentang Syarat dan Tata Cara Pemberian Remisi, Asimilasi, Cuti Mengunjungi Keluarga, Pembebasan Bersyarat, Cuti Menjelang Bebas dan Cuti Bersyarat.

Syarat formil yang harus dipenuhi narapidana perkara terorisme, pertama, bersedia bekerja sama dengan penegak hukum untuk membantu membongkar perkara tindak pidana yang dilakukannya.

Kedua, telah menjalani paling sedikit dua per tiga masa pidana, dengan ketentuan dua per tiga masa pidana tersebut paling sedikit 9 bulan.

Ketiga, telah menjalani asimilasi paling sedikit setengah dari sisa masa pidana yang wajib dijalani. Terakhir, menunjukkan kesadaran

dan penyesalan atas kesalahan yang menyebabkan pemohon dijatuhi pidana dan menyatakan ikrar kesetiaan pada NKRI secara tertulis.

Kebijakan baru Jokowi ini menuai respons positif netizen Bali. Jika awalnya mereka kecewa dan mengancam golput, mereka kini balik memuji.

“Pendapat saya ; .ABB sudah uzur dan sakit-sakitan .. mungkin dan mungkin ajal akan menjemput sebelum masa tahanannya habis ..

kalau ABB mati di penjara .. para sumbu pendek akan memainkan sinetronnya lagi .. mereka akan menyalahkan pihak pemerintahan yg tidak mau merawat ABB di penjara ..

Polri akan mereka pojokkan , Presiden mereka suruh bertanggungjawab .. kompor-kompor akan mereka hidupkan lagi agar massa mau memanas ..

dengan bungkus agama dan penistaan ulama dengan mudah mereka akan menggerakkan umat .. dan chaos pasti akan terjadi .. 

Bagaimana kalau kaum Radikal yg ada di luar negeri mendengar hal ini ?? anda jawab sendiri kelanjutannya .. 

Jokowi tidak memikirkan kalau ia jadi Presiden lagi atau tidak .. Dia memikirkan nasib bangsa ini ..,” kata akun @tutsila.

Postingan ini mendapat tanggapan dari akun @wayanekasussanta. “Tut Sila usia boleh tua,otot sudah lemah tulang dh rapuh,tapi otak masih berfungsi,otak bisa di gunakan kapan aaja

untuk memikirakan sesuatu…dia juga punya mulut tigal bilang ledakan…ludes dh semua…otot tangan kaki dia memang tidk bergerak tp pengikutnya masih ada”.

Banyak juga netizen yang mengajak agar tidak golput dalam Pemilu kali ini. “Jangan golput. Nanti lebih tersiksa 5 tahun kedepan kalo yang lain berkuasa.

Dan dia belum dibebaskan masih pertimbangan. Jangan mau termakan isu2 yang belom pasti,” kata akun @agusmahendra.

Yang jelas, pembatalan pemberian grasi untuk ustaz ABB cukup melegakan masyarakat Bali yang masih trauma setelah dua kali diguncang bom. Pertama pada 2002 dan kedua pada 2005 silam.


Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/