26.3 C
Jakarta
14 Juni 2024, 9:25 AM WIB

Kreasi Bokashi

Belajar dari Kegagalan Manajemen “Dagang Sate”

Oleh: Pak Oles 

SALAH satu penyebab kegagalan bisnis UKM dan koperasi adalah apa yang disebut sebagai manajemen dagang sate.

Artinya semua pekerjaan dalam usaha bisnis dan organisasinya dilakukan sendiri.

Motong daging sendiri, menusuk, dan membakar sate, menyajikan makanan, mengambil uang, serta mengembalikan kembalian juga sendiri.

Sepintas memang manajemen dagang sate terlihat simpel dan efisien, tapi dalam praktiknya sangat tidak efisien dan membosankan.

Dengan manajemen dagang sate, bisnis UKM dan koperasi akan mengalami kemunduran secara perlahan dan jika tidak diperbaiki akan mengalami kematian.

Praktik manajemen dagang sate tidak disadari oleh pemilik atau pendiri bisnis. Bahkan ada juga yang merasa bangga akan praktik manajemen ini karena egoisme pemilik atau pendiri bisnis.

Kenyataannya, setelah berlalunya waktu, dan menuanya pemilik atau pendiri bisnis, mereka baru sadar akan keterlambatan regenerasi atau terlambat merekrut da melatih orang, sehingga bisnisnya susah diselamatkan, kecuali dijual sisa-sisa atau aset bisnisnya.

Pelajaran dari praktik bisnis manajemen dagang sate ini banyak meninggalkan kisah pilu, seperti generasi pendahulu yang dulu kaya, tapi sekarang habis atau jatuh miskin.

Perusahaan-perusahaan di Bali khususnya belum tercatat sukses sampai dua generasi.

Bahkan sangat banyak kasus, justru pendiri bisnisnya sendiri menyaksikan kebangkrutan atau kematian usahanya.

Semua itu terjadi karena praktik manajemen dagang sate.

Salah satu metode untuk melepaskan diri dari praktik manajemen dagang sate adalah melalui perekrutan tenaga muda, pelatihan dan pendidikan tenaga muda, serta memberikan kesempatan tenaga muda untuk mendapatkan kepercayaan dari pendirinya untuk terus belajar, melatih diri menuju mandiri sehingga bisa melepaskan diri, berkembang, dan membesarkan usahanya sesuai kemajuan dan perkembangan zaman.

Pendidikan, pelatihan dan perekrutan tenaga muda, baik dari dalam atau luar keluarga harus terus dilakukan agar bisnis UKM dan koperasi bisa berlanjut dan memenangkan persaingan bisnis.

Jika hal ini tidak dilakukan, maka bersiap-siaplah UKM dan bisnis mengalami kemunduran dan kematian.

Fenomena manajemen dagang sate ini juga terjadi dalam organisasi sosial, olahraga, dan organisasi kemasyarakatan lainnya.

Kepemimpinan yang dilakukan dan diputuskan oleh satu orang yang sering disebut dengan one man show, membuat keputusan bisa menjadi membingungkan dan melemahkan kreativitas dan inisiatif anggota organisasi karena harus menunggu keputusan yang dilakukan tanpa musyawarah.

Dalam banyak kasus, justru terjadi perpecahan kepengurusan di saat organisasi berkembang.

Ini mengakibatkan organisasi mengecil karena perpecahan dan orang-orang kunci di dalam organisasi melepaskan diri dari karena bekerja terlalu capek atau karena merasa tidak dihargai.

Manajemen “dagang sate” dilakukan oleh pemimpin yang kekurangan atau tidak memiliki sumber daya manusia yang cukup.

Oleh karena itu, pemimpinnya harus berusaha untuk menciptakan, melatih atau merekrut pengikutnya menjadi lebih banyak dan lebih pintar agar pekerjaannya tidak dilakukan dan diputuskan sendiri.

Dalam banyak kasus, manajemen dagang sate ditentukan juga oleh karakter seorang pemimpin yang merasa asyik dan nikmat mengelola semuanya sendiri.

Dipicu ketidakpercayaan pemimpin terhadap anak buahnya di dalam organisasi, atau minimnya pendelegasian tugas.

Disebabkan juga karena karakter pemimpin yang menginginkan segala sesuatunya berjalan dengan sempurna, sehingga semua pekerjaan dan tugas dalam organisasi dilakukan sendiri.

Praktik manajemen dan kepemimpinan ditentukan oleh pemimpinnya sendiri.

Seperti yang terbukti secara empiris, ternyata praktik manajemen dagang sate tidak bertahan lama dalam mengembangkan organisasi. Cukup sampai pemimpinnya tua, pikun, dan mati.

Organisasinya mengecil, bubar, atau tinggal menjadi kenangan, karena tidak mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. (*/penulis adalah direktur pak oles group/ken)

 

 

 

 

 

 

Oleh: Pak Oles 

SALAH satu penyebab kegagalan bisnis UKM dan koperasi adalah apa yang disebut sebagai manajemen dagang sate.

Artinya semua pekerjaan dalam usaha bisnis dan organisasinya dilakukan sendiri.

Motong daging sendiri, menusuk, dan membakar sate, menyajikan makanan, mengambil uang, serta mengembalikan kembalian juga sendiri.

Sepintas memang manajemen dagang sate terlihat simpel dan efisien, tapi dalam praktiknya sangat tidak efisien dan membosankan.

Dengan manajemen dagang sate, bisnis UKM dan koperasi akan mengalami kemunduran secara perlahan dan jika tidak diperbaiki akan mengalami kematian.

Praktik manajemen dagang sate tidak disadari oleh pemilik atau pendiri bisnis. Bahkan ada juga yang merasa bangga akan praktik manajemen ini karena egoisme pemilik atau pendiri bisnis.

Kenyataannya, setelah berlalunya waktu, dan menuanya pemilik atau pendiri bisnis, mereka baru sadar akan keterlambatan regenerasi atau terlambat merekrut da melatih orang, sehingga bisnisnya susah diselamatkan, kecuali dijual sisa-sisa atau aset bisnisnya.

Pelajaran dari praktik bisnis manajemen dagang sate ini banyak meninggalkan kisah pilu, seperti generasi pendahulu yang dulu kaya, tapi sekarang habis atau jatuh miskin.

Perusahaan-perusahaan di Bali khususnya belum tercatat sukses sampai dua generasi.

Bahkan sangat banyak kasus, justru pendiri bisnisnya sendiri menyaksikan kebangkrutan atau kematian usahanya.

Semua itu terjadi karena praktik manajemen dagang sate.

Salah satu metode untuk melepaskan diri dari praktik manajemen dagang sate adalah melalui perekrutan tenaga muda, pelatihan dan pendidikan tenaga muda, serta memberikan kesempatan tenaga muda untuk mendapatkan kepercayaan dari pendirinya untuk terus belajar, melatih diri menuju mandiri sehingga bisa melepaskan diri, berkembang, dan membesarkan usahanya sesuai kemajuan dan perkembangan zaman.

Pendidikan, pelatihan dan perekrutan tenaga muda, baik dari dalam atau luar keluarga harus terus dilakukan agar bisnis UKM dan koperasi bisa berlanjut dan memenangkan persaingan bisnis.

Jika hal ini tidak dilakukan, maka bersiap-siaplah UKM dan bisnis mengalami kemunduran dan kematian.

Fenomena manajemen dagang sate ini juga terjadi dalam organisasi sosial, olahraga, dan organisasi kemasyarakatan lainnya.

Kepemimpinan yang dilakukan dan diputuskan oleh satu orang yang sering disebut dengan one man show, membuat keputusan bisa menjadi membingungkan dan melemahkan kreativitas dan inisiatif anggota organisasi karena harus menunggu keputusan yang dilakukan tanpa musyawarah.

Dalam banyak kasus, justru terjadi perpecahan kepengurusan di saat organisasi berkembang.

Ini mengakibatkan organisasi mengecil karena perpecahan dan orang-orang kunci di dalam organisasi melepaskan diri dari karena bekerja terlalu capek atau karena merasa tidak dihargai.

Manajemen “dagang sate” dilakukan oleh pemimpin yang kekurangan atau tidak memiliki sumber daya manusia yang cukup.

Oleh karena itu, pemimpinnya harus berusaha untuk menciptakan, melatih atau merekrut pengikutnya menjadi lebih banyak dan lebih pintar agar pekerjaannya tidak dilakukan dan diputuskan sendiri.

Dalam banyak kasus, manajemen dagang sate ditentukan juga oleh karakter seorang pemimpin yang merasa asyik dan nikmat mengelola semuanya sendiri.

Dipicu ketidakpercayaan pemimpin terhadap anak buahnya di dalam organisasi, atau minimnya pendelegasian tugas.

Disebabkan juga karena karakter pemimpin yang menginginkan segala sesuatunya berjalan dengan sempurna, sehingga semua pekerjaan dan tugas dalam organisasi dilakukan sendiri.

Praktik manajemen dan kepemimpinan ditentukan oleh pemimpinnya sendiri.

Seperti yang terbukti secara empiris, ternyata praktik manajemen dagang sate tidak bertahan lama dalam mengembangkan organisasi. Cukup sampai pemimpinnya tua, pikun, dan mati.

Organisasinya mengecil, bubar, atau tinggal menjadi kenangan, karena tidak mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. (*/penulis adalah direktur pak oles group/ken)

 

 

 

 

 

 

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/