27.7 C
Jakarta
15 Juni 2024, 21:25 PM WIB

Pengakuan Nelayan di Karangasem, Bali Setelah Harga BBM Naik

Nelayan: Hidup Sudah Susah, Tambah Dibuat Susah!

Pemerintah resmi menaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) sejak Sabtu (3/9). Hal itu membuat masyarakat pengeng. Salah satu yang paling terdampak adalah nelayan.

 

Zulfika Rahman, Karangasem

 

I Wayan Kondi terlihat masih memperbaiki bagian jukung miliknya. Di tengah cuaca tak bersahabat dan paceklik ikan, Kondi dan beberapa rekan nelayan di Tulamben, Kecamatan Kubu terpaksa memilih istirahat. Ia tak mau mengambil risiko melaut di tengah kondisi cuaca buruk. Belum lagi saat ini paceklil ikan. “Kalau maksa yang ada rugi. Jadi tunggu kondisi normal dulu. Apalagi harga BBM juga naik,” kata Kondi ditemui di pantai Tulamben, Minggu (4/9) siang.

 

Ia mengaku sudah sebulan ini libur melaut akibat paceklik ikan. Ikan buruannya jenis tongkol saja. Hasil tangkapannya biasanya ia jual ke tengkulak. “Sudah ada yang mengambil ikannya. Cuman kalau sekarang melaut rugi ongkos,” sebutnya.

 

Di saat pemerintah kembali kenaikan harga BBM khususnya pertalite, ia pun dibuat semakin pusing. Biasanya untuk sekali melaut ia bisa menghabiskan 35 liter pertalite. Sebelum melaut, nelayan biasanya meminjam modal terlebih dulu ke rekan atau pengepul ikan. “Karena untuk melaut butuh biaya. Sekarang Pertalite naik. Sudah hidup susah, dibuat tambah susah,” kata Kondi.

 

Ia pun hanya bisa pasrah. Sebagai rakyat kecil yang hidup pas-pasan, ia tak bisa berbuat banyak. Dengan kenaikan harga BBM, ia juga berharap nilai jual ikan naik. “Untuk menurunkan harga BBM kan tidak mungkin. Untuk mengimbangi pengeluaran operasional melaut ya salah satunya harga ikan juga ikut naik,” tandasnya. (*)

 

Pemerintah resmi menaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) sejak Sabtu (3/9). Hal itu membuat masyarakat pengeng. Salah satu yang paling terdampak adalah nelayan.

 

Zulfika Rahman, Karangasem

 

I Wayan Kondi terlihat masih memperbaiki bagian jukung miliknya. Di tengah cuaca tak bersahabat dan paceklik ikan, Kondi dan beberapa rekan nelayan di Tulamben, Kecamatan Kubu terpaksa memilih istirahat. Ia tak mau mengambil risiko melaut di tengah kondisi cuaca buruk. Belum lagi saat ini paceklil ikan. “Kalau maksa yang ada rugi. Jadi tunggu kondisi normal dulu. Apalagi harga BBM juga naik,” kata Kondi ditemui di pantai Tulamben, Minggu (4/9) siang.

 

Ia mengaku sudah sebulan ini libur melaut akibat paceklik ikan. Ikan buruannya jenis tongkol saja. Hasil tangkapannya biasanya ia jual ke tengkulak. “Sudah ada yang mengambil ikannya. Cuman kalau sekarang melaut rugi ongkos,” sebutnya.

 

Di saat pemerintah kembali kenaikan harga BBM khususnya pertalite, ia pun dibuat semakin pusing. Biasanya untuk sekali melaut ia bisa menghabiskan 35 liter pertalite. Sebelum melaut, nelayan biasanya meminjam modal terlebih dulu ke rekan atau pengepul ikan. “Karena untuk melaut butuh biaya. Sekarang Pertalite naik. Sudah hidup susah, dibuat tambah susah,” kata Kondi.

 

Ia pun hanya bisa pasrah. Sebagai rakyat kecil yang hidup pas-pasan, ia tak bisa berbuat banyak. Dengan kenaikan harga BBM, ia juga berharap nilai jual ikan naik. “Untuk menurunkan harga BBM kan tidak mungkin. Untuk mengimbangi pengeluaran operasional melaut ya salah satunya harga ikan juga ikut naik,” tandasnya. (*)

 

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/