Warning: Undefined variable $reporternya in /var/www/devwpradar/wp-content/themes/Newspaper/functions.php on line 229
33.5 C
Jakarta
12 Juli 2024, 16:37 PM WIB

Mencetak Generasi Z Berbasis Kearifan Lokal

DOMINASI generasi Z di Indonesia memberikan dampak yang cukup unik. Menurut Data Badan Pusat Statistik, dari jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2020 yang tercatat sebesar

270,20 juta jiwa, 27,94 persennya adalah generasi Z (penduduk yang lahir pada tahun 1997 hingga 2012) dan 25,87 persennya adalah milenial (penduduk yang lahir pada tahun 1981 hingga 1996).

Fakta tersebut menyiratkan bahwa kekuatan bangsa Indonesia dari sisi produktivitas dirasa sangat baik.

Kelompok usia produktif dipandang sebagai keuntungan sebuah negara, sebagai upaya meningkatkan produktivitas.

Tak heran jika banyak startup company bak menjamur, dan mampu membawa Indonesia lepas dari daftar negara berkembang.

Generasi Z merupakan sebuah generasi yang berkembang atau bertumbuh ditengah paparan internet, media sosial, dan teknologi.

Generasi ini dipandang sebagai generasi hiperkognitif, yang berarti berpikir sangat cepat. Anekdot “sandang, pangan, papan, dan colokan” yang sebelumnya menjadi kebutuhan pokok para milenial agaknya perlu untuk diperbaharui.

Pasalnya, tidak hanya cukup dengan colokan. Namun, disini yang paling utama adalah jaringan internet.

Generasi Z adalah generasi yang membutuhkan banyak informasi dan pembentukan jati diri. Tak heran jika kemampuan berbocara generasi ini tidak perlu diragukan.

Munculnya fenomena profesi easymoney seperti influencer, youtuber, menjadi penanda uniknya generasi ini. Apabila generasi ini di-maintenance dengan maksimal, Indonesia tentu bisa menjadi negara kuat.

Bagaimana dengan Bali? Berdasar data Badan Pusat Statistik, 26,10 persen dari penduduk Bali adalah generasi Z, 23,20 persen nya adalah generasi milenial.

Bali tengah menikmati bonus demografi, yang ditandai dengan mendominasinya kelompok usia produktif atau sekitar 70,96 persen nya adalah kelompok usia produktif.

Dalam sebuah report yang dikeluarkan oleh McKinsey & Company yang berjudul “True Gen: Generation Z and its implication for companies” menyatakan bahwa

generasi Z merupakan generasi yang bebas berekspresi dan memiliki perilaku yang unik diantaranya yakni kurang menyukai indentitas, komunaholik, fasih dalam berbicara, serta sangat realistis.

Kurang menyukai identitas berarti tidak suka mendefinisikan dirinya dalam satu bentuk, komunaholik berarti sangat menyukai kehidupan berkelompok yang saling terkoneksi.

Bahasa awamnya adalah punya banyak teman, pembicara berarti memiliki banyak wawasan sehingga fasih dalam menyampaikan pendapatnya, realistis yakni mampu mengungkap kebenaran di balik semua hal.

Tak pelak bahwa ada sisi negatif dan positif yang dapat diambil dari fenomena Gen Z yang terjadi belakangan ini. Segala sesuatu selalu dikaitkan dengan sebuah kata viral.

Beberapa kali media dihiasi dengan pemberitaan viral, bahkan sesekali sempat menjadi trending topic di salah satu flatform media sosial.

Salah satu oknum wisman yang membuat thread mengenai cara masuk dengan mudah ke Bali di masa pandemi dan bagaimana perbandingan biaya hidup di negara asalnya dan di Bali.

Menyikapi sikap wisman yang seperti itu tidak hanya dengan kepala dingin, namun keputusan untuk mendeportasinya menjadi pilihan yang tepat.

Efek jera yang ditimbulkan sedikit-tidaknya memberikan contoh pada wisatawan asing lainnya agar tidak mengulangi perbuatannya.

Namun, tak banyak juga yang jera. Pelanggaran prokes oleh wisman yang ada di Bali tengah menjadi sorotan di masa pandemi ini.

Tapi, langkah pemerintah daerah yang gencar melaksanakan sidak prokes menjadi langkah kuratif dalam menekan laju bertambahnya penyebaran Covid-19.

Bagaimana dengan citra pariwisata Bali? Pemberitaan mengenai buruknya perilaku oknum wisman tersebut tentu berdampak.

Disinilah peran dari masyarakat Bali itu sendiri dalam membranding kembali pariwisata kita ini.

Mengingat ditengah masa pandemi yang belum juga surut, ditengah keterpurukan pariwisata Bali yang senyatanya bahwa capaian kunjungan Wisman ke Bali di tahun 2020

menjadi yang terendah sepanjang 15 tahun terakhir (dari 6,28 juta kunjungan di tahun 2019 menjadi hanya 1,05 juta kunjungan di tahun 2020),

bahkan lebih buruk dari kinerja pariwisata saat bom Bali II (kala itu jumlah kunjungan wisman tercatat 1,39 Juta kunjungan di tahun 2005), upaya perbaikan pariwisata harus terus dilakukan.

Mengutip salah satu ucapan seorang akademisi muda saat bertemu langsung dengan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Bapak Sandiaga Uno,

yang kala itu berucap bahwa kunci pariwisata adalah kearifan lokal, dan masing-masing daerah memiliki kearifan lokal.

Dan disitulah peran pemerintah sebagai fasilitator. Eksekutornya? Tentu masyarakat Bali sendiri.

Masyarakat dengan kearifan lokal, budaya, dimana, saat ini masyarakat Bali yang didominasi oleh generasi Z tentu memiliki caranya tersendiri dalam membantu memperindah citra pariwisata Bali.

Generasi Z adalah generasi yang sangat mementingkan media sosial, dan proses rebranding ada di pada media tersebut.

Banyaknya fenomena Gen Z yang semakin viral seperti, membuat video mejejaitan, video tentang budaya, prosesi keagamaan,

memanfaatkan aplikasi berbasis musik untuk menciptakan konten, tentu hal ini akan bisa dikonsumsi oleh masyarakat di seluruh dunia.

Namun, tak sedikit juga perilaku Gen Z atau milenial yang diluar batas norma, dan alih-alih menjadi panutan malah takutnya membawa ke keterpurukan.

Tantangan kedepan bagi pariwisata Bali yakni mengikuti zaman tanpa membunuh kearifan lokal.

Berbicara kearifan lokal, tentu tidak lepas dari apa yang diwariskan secara turun temurun, dan memiliki ciri-ciri tertentu.

Kearifan lokal yang sanggup bertahan dengan adanya budaya luar, mampu mengakomodasi budaya luar, berkemampuan mengendalikan.

Pada dasarnya setiap wilayah di Indonesia memiliki kearifan lokal nya masing-masing. Dan kearifan lokal lah yang membuat seluruh wilayah itu berbeda.

Bagi Bali yang sangat kental dengan kearifan lokalnya hendaknya berupaya mempertahankan tanpa terdisrupsi oleh zaman.

Dan generasi Z yang saat ini hidup di masa too much information, membutuhkan guidance bagaimana harus tetap mengemban budaya sebagai salah satu kearifan lokal, tanpa harus memaksa mereka keluar dari koridor generasi yang mereka emban.

Pemerintah sebagai fasilitator diharapkan mampu menjadi jembatan penghubung supaya kearifan lokal Bali tidak akan pernah luntur dan terdistraksi zaman.

Langkah-langkah seperti membuat pergelaran seni virtual, menambah konten media sosial budaya, tentu dibutuhkan oleh generasi Z sebagai panduan dalam upaya tetap mempertahankan kearifan lokal Bali.

Dengan begitu, seiring dengan maju dan berkembanganya generasi Z diikuti dengan berkembangnya kearifan lokal Bali secara tidak langsung akan membentuk perbaikan citra pariwisata Bali yang lebih baik. (*)

 

 

Ida Ayu Made Adnyani, SE

Fungsional Statistisi pada Badan Pusat Statistik Kabupaten Badung

DOMINASI generasi Z di Indonesia memberikan dampak yang cukup unik. Menurut Data Badan Pusat Statistik, dari jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2020 yang tercatat sebesar

270,20 juta jiwa, 27,94 persennya adalah generasi Z (penduduk yang lahir pada tahun 1997 hingga 2012) dan 25,87 persennya adalah milenial (penduduk yang lahir pada tahun 1981 hingga 1996).

Fakta tersebut menyiratkan bahwa kekuatan bangsa Indonesia dari sisi produktivitas dirasa sangat baik.

Kelompok usia produktif dipandang sebagai keuntungan sebuah negara, sebagai upaya meningkatkan produktivitas.

Tak heran jika banyak startup company bak menjamur, dan mampu membawa Indonesia lepas dari daftar negara berkembang.

Generasi Z merupakan sebuah generasi yang berkembang atau bertumbuh ditengah paparan internet, media sosial, dan teknologi.

Generasi ini dipandang sebagai generasi hiperkognitif, yang berarti berpikir sangat cepat. Anekdot “sandang, pangan, papan, dan colokan” yang sebelumnya menjadi kebutuhan pokok para milenial agaknya perlu untuk diperbaharui.

Pasalnya, tidak hanya cukup dengan colokan. Namun, disini yang paling utama adalah jaringan internet.

Generasi Z adalah generasi yang membutuhkan banyak informasi dan pembentukan jati diri. Tak heran jika kemampuan berbocara generasi ini tidak perlu diragukan.

Munculnya fenomena profesi easymoney seperti influencer, youtuber, menjadi penanda uniknya generasi ini. Apabila generasi ini di-maintenance dengan maksimal, Indonesia tentu bisa menjadi negara kuat.

Bagaimana dengan Bali? Berdasar data Badan Pusat Statistik, 26,10 persen dari penduduk Bali adalah generasi Z, 23,20 persen nya adalah generasi milenial.

Bali tengah menikmati bonus demografi, yang ditandai dengan mendominasinya kelompok usia produktif atau sekitar 70,96 persen nya adalah kelompok usia produktif.

Dalam sebuah report yang dikeluarkan oleh McKinsey & Company yang berjudul “True Gen: Generation Z and its implication for companies” menyatakan bahwa

generasi Z merupakan generasi yang bebas berekspresi dan memiliki perilaku yang unik diantaranya yakni kurang menyukai indentitas, komunaholik, fasih dalam berbicara, serta sangat realistis.

Kurang menyukai identitas berarti tidak suka mendefinisikan dirinya dalam satu bentuk, komunaholik berarti sangat menyukai kehidupan berkelompok yang saling terkoneksi.

Bahasa awamnya adalah punya banyak teman, pembicara berarti memiliki banyak wawasan sehingga fasih dalam menyampaikan pendapatnya, realistis yakni mampu mengungkap kebenaran di balik semua hal.

Tak pelak bahwa ada sisi negatif dan positif yang dapat diambil dari fenomena Gen Z yang terjadi belakangan ini. Segala sesuatu selalu dikaitkan dengan sebuah kata viral.

Beberapa kali media dihiasi dengan pemberitaan viral, bahkan sesekali sempat menjadi trending topic di salah satu flatform media sosial.

Salah satu oknum wisman yang membuat thread mengenai cara masuk dengan mudah ke Bali di masa pandemi dan bagaimana perbandingan biaya hidup di negara asalnya dan di Bali.

Menyikapi sikap wisman yang seperti itu tidak hanya dengan kepala dingin, namun keputusan untuk mendeportasinya menjadi pilihan yang tepat.

Efek jera yang ditimbulkan sedikit-tidaknya memberikan contoh pada wisatawan asing lainnya agar tidak mengulangi perbuatannya.

Namun, tak banyak juga yang jera. Pelanggaran prokes oleh wisman yang ada di Bali tengah menjadi sorotan di masa pandemi ini.

Tapi, langkah pemerintah daerah yang gencar melaksanakan sidak prokes menjadi langkah kuratif dalam menekan laju bertambahnya penyebaran Covid-19.

Bagaimana dengan citra pariwisata Bali? Pemberitaan mengenai buruknya perilaku oknum wisman tersebut tentu berdampak.

Disinilah peran dari masyarakat Bali itu sendiri dalam membranding kembali pariwisata kita ini.

Mengingat ditengah masa pandemi yang belum juga surut, ditengah keterpurukan pariwisata Bali yang senyatanya bahwa capaian kunjungan Wisman ke Bali di tahun 2020

menjadi yang terendah sepanjang 15 tahun terakhir (dari 6,28 juta kunjungan di tahun 2019 menjadi hanya 1,05 juta kunjungan di tahun 2020),

bahkan lebih buruk dari kinerja pariwisata saat bom Bali II (kala itu jumlah kunjungan wisman tercatat 1,39 Juta kunjungan di tahun 2005), upaya perbaikan pariwisata harus terus dilakukan.

Mengutip salah satu ucapan seorang akademisi muda saat bertemu langsung dengan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Bapak Sandiaga Uno,

yang kala itu berucap bahwa kunci pariwisata adalah kearifan lokal, dan masing-masing daerah memiliki kearifan lokal.

Dan disitulah peran pemerintah sebagai fasilitator. Eksekutornya? Tentu masyarakat Bali sendiri.

Masyarakat dengan kearifan lokal, budaya, dimana, saat ini masyarakat Bali yang didominasi oleh generasi Z tentu memiliki caranya tersendiri dalam membantu memperindah citra pariwisata Bali.

Generasi Z adalah generasi yang sangat mementingkan media sosial, dan proses rebranding ada di pada media tersebut.

Banyaknya fenomena Gen Z yang semakin viral seperti, membuat video mejejaitan, video tentang budaya, prosesi keagamaan,

memanfaatkan aplikasi berbasis musik untuk menciptakan konten, tentu hal ini akan bisa dikonsumsi oleh masyarakat di seluruh dunia.

Namun, tak sedikit juga perilaku Gen Z atau milenial yang diluar batas norma, dan alih-alih menjadi panutan malah takutnya membawa ke keterpurukan.

Tantangan kedepan bagi pariwisata Bali yakni mengikuti zaman tanpa membunuh kearifan lokal.

Berbicara kearifan lokal, tentu tidak lepas dari apa yang diwariskan secara turun temurun, dan memiliki ciri-ciri tertentu.

Kearifan lokal yang sanggup bertahan dengan adanya budaya luar, mampu mengakomodasi budaya luar, berkemampuan mengendalikan.

Pada dasarnya setiap wilayah di Indonesia memiliki kearifan lokal nya masing-masing. Dan kearifan lokal lah yang membuat seluruh wilayah itu berbeda.

Bagi Bali yang sangat kental dengan kearifan lokalnya hendaknya berupaya mempertahankan tanpa terdisrupsi oleh zaman.

Dan generasi Z yang saat ini hidup di masa too much information, membutuhkan guidance bagaimana harus tetap mengemban budaya sebagai salah satu kearifan lokal, tanpa harus memaksa mereka keluar dari koridor generasi yang mereka emban.

Pemerintah sebagai fasilitator diharapkan mampu menjadi jembatan penghubung supaya kearifan lokal Bali tidak akan pernah luntur dan terdistraksi zaman.

Langkah-langkah seperti membuat pergelaran seni virtual, menambah konten media sosial budaya, tentu dibutuhkan oleh generasi Z sebagai panduan dalam upaya tetap mempertahankan kearifan lokal Bali.

Dengan begitu, seiring dengan maju dan berkembanganya generasi Z diikuti dengan berkembangnya kearifan lokal Bali secara tidak langsung akan membentuk perbaikan citra pariwisata Bali yang lebih baik. (*)

 

 

Ida Ayu Made Adnyani, SE

Fungsional Statistisi pada Badan Pusat Statistik Kabupaten Badung

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/