33.8 C
Jakarta
24 April 2024, 15:51 PM WIB

Mih! Kasus Kekerasan Anak di Buleleng Mendominasi

SINGARAJA – Kasus kekerasan terhadap anak di Buleleng masih mendominasi. Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2KBP3A) Buleleng mencatat, lebih dari separo kasus kekerasan melibatkan anak. Baik itu sebagai korban maupun sebagai pelaku.

Mengacu data Dinas P2KBP3A Buleleng, pada tahun 2021 tercatat ada 72 laporan kekerasan perempuan dan anak. Dari puluhan kasus tersebut, sebanyak 50 laporan diantaranya terkait dengan kasus pelecehan dan kekerasan terhadap anak. Selebihnya merupakan kasus penganiayaan dan penelantaran istri.

Sementara pada tahun 2022, hingga Juni 2022 tercatat ada 30 laporan kekerasan perempuan dan anak. Dari puluhan laporan itu, 27 laporan terkait dengan perbuatan cabul, persetubuhan, serta pengancaman anak. Hanya ada 7 kasus yang terkait dengan penganiayaan istri.

Kepala Dinas P2KBP3A Buleleng, Nyoman Riang Pustaka mengakui kasus kekerasan yang terkait anak cukup mendominasi. Ia mengaku telah mengatur strategi untuk menekan kasus tersebut.

Riang berpendapat untuk menekan kasus kekerasan pada anak pihaknya harus melakukan langkah pencegahan. Upaya itu tak bisa dilakukan secara instan. Ia berencana membentuk konselor sebaya sebagai langkah pencegahan. Konselor itu dibentuk pada jenjang Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas. “Semakin dini kita melakukan langkah pencegahan, maka akan semakin efektif. Mungkin jangka pendek dalam waktu 1-3 tahun tidak kelihatan hasilnya. Tapi dalam jangka panjang, kalau sudah tertanam dalam benak mereka, maka kasus kekerasan itu bisa ditekan,” kata Riang.

Tak hanya itu, ia juga berencana masuk ke desa-desa melalui wadah karang taruna serta sekaa truna. Ia yakin pendekatan melalui komunitas akan memberi dampak yang lebih besar. “Saat ini kecenderungannya memang saat ada kasus, baru kami masuk. Tapi kami akan ubah strategi ke upaya pencegahan dan pendampingan. Supaya kasusnya tidak tambah besar dari tahun ke tahun,” tutup Riang. (eps)

SINGARAJA – Kasus kekerasan terhadap anak di Buleleng masih mendominasi. Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2KBP3A) Buleleng mencatat, lebih dari separo kasus kekerasan melibatkan anak. Baik itu sebagai korban maupun sebagai pelaku.

Mengacu data Dinas P2KBP3A Buleleng, pada tahun 2021 tercatat ada 72 laporan kekerasan perempuan dan anak. Dari puluhan kasus tersebut, sebanyak 50 laporan diantaranya terkait dengan kasus pelecehan dan kekerasan terhadap anak. Selebihnya merupakan kasus penganiayaan dan penelantaran istri.

Sementara pada tahun 2022, hingga Juni 2022 tercatat ada 30 laporan kekerasan perempuan dan anak. Dari puluhan laporan itu, 27 laporan terkait dengan perbuatan cabul, persetubuhan, serta pengancaman anak. Hanya ada 7 kasus yang terkait dengan penganiayaan istri.

Kepala Dinas P2KBP3A Buleleng, Nyoman Riang Pustaka mengakui kasus kekerasan yang terkait anak cukup mendominasi. Ia mengaku telah mengatur strategi untuk menekan kasus tersebut.

Riang berpendapat untuk menekan kasus kekerasan pada anak pihaknya harus melakukan langkah pencegahan. Upaya itu tak bisa dilakukan secara instan. Ia berencana membentuk konselor sebaya sebagai langkah pencegahan. Konselor itu dibentuk pada jenjang Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas. “Semakin dini kita melakukan langkah pencegahan, maka akan semakin efektif. Mungkin jangka pendek dalam waktu 1-3 tahun tidak kelihatan hasilnya. Tapi dalam jangka panjang, kalau sudah tertanam dalam benak mereka, maka kasus kekerasan itu bisa ditekan,” kata Riang.

Tak hanya itu, ia juga berencana masuk ke desa-desa melalui wadah karang taruna serta sekaa truna. Ia yakin pendekatan melalui komunitas akan memberi dampak yang lebih besar. “Saat ini kecenderungannya memang saat ada kasus, baru kami masuk. Tapi kami akan ubah strategi ke upaya pencegahan dan pendampingan. Supaya kasusnya tidak tambah besar dari tahun ke tahun,” tutup Riang. (eps)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/