Warning: Undefined variable $reporternya in /var/www/devwpradar/wp-content/themes/Newspaper/functions.php on line 229
27.3 C
Jakarta
21 Juli 2024, 4:57 AM WIB

Gegara PMK, Harga Godel di Buleleng Anjlok

SINGARAJA  Isu penyakit mulut dan kuku (PMK) mulai memengaruhi para peternak. Saat ini para peternak dibuat gelisah karena harga pedet atau godel tengah anjlok. Spekulan diduga memanfaatkan isu tersebut untuk menekan harga godel di tingkat peternak.

 

Saat ini PMK disebut telah muncul di Desa Lokapaksa, Kecamatan Seririt, dan Desa Pejarakan, Kecamatan Gerokgak. Namun Dinas Pertanian Buleleng belum mengungkap berapa banyak sapi yang dinyatakan positif PMK.

 

Perbekel Pejarakan Made Astawa mengatakan, saat ini harga jual sapi di pasar hewan sebenarnya mencapai Rp 46 ribu hingga Rp 47 ribu per kilogram. Harga itu dinilai cukup stabil. Gejolak justru muncul pada harga godel atau anak sapi.

 

Astawa mengungkapkan, saat ini harga godel di tingkat peternak berkisar pada angka Rp 6-8 juta. Padahal godel usia 1-2 tahun bisa dijual seharga Rp 10-12 juta. Harga itu membuat peternak merugi.

 

“Spekulan banyak yang masuk, menekan harga jadi Rp 6-8 juta. Isu PMK ini dimanfaatkan untuk menekan harga di peternak. Padahal kondisi godel-nya sehat. Ini yang membuat peternak rugi. Kalau harga daging sebenarnya masih masuk,” kata Astawa.

 

Menurutnya ulah spekulan mempermainkan harga godel, sangat memengaruhi ekonomi peternak di Pejarakan. Terlebih hampir 90 persen warga di Desa Pejarakan memiliki ternak sapi maupun babi. Ia telah meminta agar peternak tidak melepas sapi mereka dengan harga murah.

 

Mencegah merosotnya harga, pihaknya terus mendata sapi-sapi milik peternak yang dalam kondisi sakit. Kini ada lebih dari 30 ekor sapi yang menunjukkan gejala sakit. Gejala itu muncul sekitar dua pekan terakhir, transaksi di Pasar Hewan Pejarakan ditutup. Gejala yang muncul berupa air liur berlebih, luka pada mulut dan lidah, serta nafsu makan ternak yang menurun.

 

“Kami sudah laporkan ke Dinas Pertanian. Apakah PMK atau tidak, kami belum tahu karena hasil uji sampel belum keluar. Kami sudah minta peternak menyemprot kandang dengan disinfektan secara berkala dan hewan yang sakit agar dipisahkan. Supaya tidak cepat menular,” kata Astawa.

 

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Buleleng I Made Sumiarta mengatakan, pihaknya terus berupaya mengendalikan sebaran PMK. Sumiarta mengatakan saat ini sebaran PMK tercatat terjadi di Desa Lokapaksa dan Desa Pejarakan.

 

Sebagai langkah antisipasi, pihaknya telah mendistribusikan 350 liter disinfektan kepada desa-desa yang memiliki kasus PMK. Selain itu Dinas Pertanian akan mendistribusikan 1.700 dosis vaksin pada peternak-peternak di desa kasus.

 

“Vaksin akan kami berikan secara bertahap mulai besok. Jadi nanti sapi yang sehat dalam radius 3-10 kilometer dari lokasi kasus, akan diberikan vaksin. Kami harap ini bisa mencegah penyebaran yang lebih luas,” kata Sumiarta. (eps)

SINGARAJA  Isu penyakit mulut dan kuku (PMK) mulai memengaruhi para peternak. Saat ini para peternak dibuat gelisah karena harga pedet atau godel tengah anjlok. Spekulan diduga memanfaatkan isu tersebut untuk menekan harga godel di tingkat peternak.

 

Saat ini PMK disebut telah muncul di Desa Lokapaksa, Kecamatan Seririt, dan Desa Pejarakan, Kecamatan Gerokgak. Namun Dinas Pertanian Buleleng belum mengungkap berapa banyak sapi yang dinyatakan positif PMK.

 

Perbekel Pejarakan Made Astawa mengatakan, saat ini harga jual sapi di pasar hewan sebenarnya mencapai Rp 46 ribu hingga Rp 47 ribu per kilogram. Harga itu dinilai cukup stabil. Gejolak justru muncul pada harga godel atau anak sapi.

 

Astawa mengungkapkan, saat ini harga godel di tingkat peternak berkisar pada angka Rp 6-8 juta. Padahal godel usia 1-2 tahun bisa dijual seharga Rp 10-12 juta. Harga itu membuat peternak merugi.

 

“Spekulan banyak yang masuk, menekan harga jadi Rp 6-8 juta. Isu PMK ini dimanfaatkan untuk menekan harga di peternak. Padahal kondisi godel-nya sehat. Ini yang membuat peternak rugi. Kalau harga daging sebenarnya masih masuk,” kata Astawa.

 

Menurutnya ulah spekulan mempermainkan harga godel, sangat memengaruhi ekonomi peternak di Pejarakan. Terlebih hampir 90 persen warga di Desa Pejarakan memiliki ternak sapi maupun babi. Ia telah meminta agar peternak tidak melepas sapi mereka dengan harga murah.

 

Mencegah merosotnya harga, pihaknya terus mendata sapi-sapi milik peternak yang dalam kondisi sakit. Kini ada lebih dari 30 ekor sapi yang menunjukkan gejala sakit. Gejala itu muncul sekitar dua pekan terakhir, transaksi di Pasar Hewan Pejarakan ditutup. Gejala yang muncul berupa air liur berlebih, luka pada mulut dan lidah, serta nafsu makan ternak yang menurun.

 

“Kami sudah laporkan ke Dinas Pertanian. Apakah PMK atau tidak, kami belum tahu karena hasil uji sampel belum keluar. Kami sudah minta peternak menyemprot kandang dengan disinfektan secara berkala dan hewan yang sakit agar dipisahkan. Supaya tidak cepat menular,” kata Astawa.

 

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Buleleng I Made Sumiarta mengatakan, pihaknya terus berupaya mengendalikan sebaran PMK. Sumiarta mengatakan saat ini sebaran PMK tercatat terjadi di Desa Lokapaksa dan Desa Pejarakan.

 

Sebagai langkah antisipasi, pihaknya telah mendistribusikan 350 liter disinfektan kepada desa-desa yang memiliki kasus PMK. Selain itu Dinas Pertanian akan mendistribusikan 1.700 dosis vaksin pada peternak-peternak di desa kasus.

 

“Vaksin akan kami berikan secara bertahap mulai besok. Jadi nanti sapi yang sehat dalam radius 3-10 kilometer dari lokasi kasus, akan diberikan vaksin. Kami harap ini bisa mencegah penyebaran yang lebih luas,” kata Sumiarta. (eps)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/