Warning: Undefined variable $reporternya in /var/www/devwpradar/wp-content/themes/Newspaper/functions.php on line 229
28.2 C
Jakarta
23 Juli 2024, 2:17 AM WIB

Melihat Konsep Pertanian Perkotaan di Lahan Sempit Setelah Harga BBM Naik (3-bersambung)

Sayuran Diolah Jadi Makanan Siap Saji, Kelompok Wanita Tani: Sudah Ada Pelanggan Tetap

DI Tabanan ada Kelompok Wanita Tani (KWT) Kota Pala, Desa Dauh Peken, yang telah memulai urban farming. Urban farming dengan hidroponik ini menggunakan halaman dan teras tembok kantor desa.

Juliadi/Maulana Sandijaya

Gracia Andriana, 39, selaku pendamping KWT Kota Pala, Desa Dauh Peken, Tabanan menyebut sejatinya pertanian urban farming ini mulai dikembangkan 2021 saat pandemi Covid-19. Namun, untuk kelompok KWT sendiri yang beranggotakan para ibu rumah tangga ini berdiri sejak beberapa tahun silam.

KWT Kota Pala memilih sistem hidroponik untuk menerapkan urban farming. Alasannya selain karena kondisi lahan pertanian di perkotaan yang sempit, juga ingin mengedukasi serta memberdayakan masyarakat desa setempat.

“Jadi, bukan hasil yang kami utamakan, tapi bagaimana masyarakat teredukasi agar mereka bisa mengembangkan urban farming skala rumah tangga,” ujarnya Andriana, Jumat (9/9).

Tanaman yang ditanam ada bayam, sayuran pokcoy, sawi, wortel, tomat, dan jenis lainnya. Tanaman sehat ini secara kontinyu setiap seminggu sekali dapat dipanen. KWT kembali berinovasi dengan dengan mengolah tanaman sehat tersebut menjadi makanan siap saji. “Kita olah jadi makanan siap saji, seperti cheese stick, jus dan lainnya,” ungkapnya.

Pengolahan makanan sehat dan siap saji ini pun diterima baik oleh masyarakat dan pihak desa. Bahkan, sudah memiliki pelanggan tetap, salah satunya di Posyandu desa.

Peneraban urban farming secara konsisten ini membawa KWT Kota Pala memenangi kategori KWT terbaik dan mandiri tingkat nasional. Mereka menerima bantuan dari program CSR salah satu bank BUMN.

Dampak positif lainnya yaitu pemerintah desa memberikan bantuan sekaligus memercayakan lahan seluas 1 are untuk pengembangan urban farming.

Adriana menambahkan, pengembangan urban farming tidak semata berjalan mulus. Berbagai kendala mereka hadapi. Di antaranya cara merawat tanaman dan konsistensi. “Karena bertani juga bisa menimbulkan kejenuhan bagi para ibu rumah tangga. Ini yang perlu dijaga, sehingga bisa bertahan lama,” tandasnya. (*)

 

DI Tabanan ada Kelompok Wanita Tani (KWT) Kota Pala, Desa Dauh Peken, yang telah memulai urban farming. Urban farming dengan hidroponik ini menggunakan halaman dan teras tembok kantor desa.

Juliadi/Maulana Sandijaya

Gracia Andriana, 39, selaku pendamping KWT Kota Pala, Desa Dauh Peken, Tabanan menyebut sejatinya pertanian urban farming ini mulai dikembangkan 2021 saat pandemi Covid-19. Namun, untuk kelompok KWT sendiri yang beranggotakan para ibu rumah tangga ini berdiri sejak beberapa tahun silam.

KWT Kota Pala memilih sistem hidroponik untuk menerapkan urban farming. Alasannya selain karena kondisi lahan pertanian di perkotaan yang sempit, juga ingin mengedukasi serta memberdayakan masyarakat desa setempat.

“Jadi, bukan hasil yang kami utamakan, tapi bagaimana masyarakat teredukasi agar mereka bisa mengembangkan urban farming skala rumah tangga,” ujarnya Andriana, Jumat (9/9).

Tanaman yang ditanam ada bayam, sayuran pokcoy, sawi, wortel, tomat, dan jenis lainnya. Tanaman sehat ini secara kontinyu setiap seminggu sekali dapat dipanen. KWT kembali berinovasi dengan dengan mengolah tanaman sehat tersebut menjadi makanan siap saji. “Kita olah jadi makanan siap saji, seperti cheese stick, jus dan lainnya,” ungkapnya.

Pengolahan makanan sehat dan siap saji ini pun diterima baik oleh masyarakat dan pihak desa. Bahkan, sudah memiliki pelanggan tetap, salah satunya di Posyandu desa.

Peneraban urban farming secara konsisten ini membawa KWT Kota Pala memenangi kategori KWT terbaik dan mandiri tingkat nasional. Mereka menerima bantuan dari program CSR salah satu bank BUMN.

Dampak positif lainnya yaitu pemerintah desa memberikan bantuan sekaligus memercayakan lahan seluas 1 are untuk pengembangan urban farming.

Adriana menambahkan, pengembangan urban farming tidak semata berjalan mulus. Berbagai kendala mereka hadapi. Di antaranya cara merawat tanaman dan konsistensi. “Karena bertani juga bisa menimbulkan kejenuhan bagi para ibu rumah tangga. Ini yang perlu dijaga, sehingga bisa bertahan lama,” tandasnya. (*)

 

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/