25.8 C
Jakarta
25 Mei 2024, 11:46 AM WIB

Uniknya Menara Bambu di Desa Tembok, Buleleng : Andalan Buka Blank Spot dengan Ongkos Murah

Desa Tembok di Kecamatan Tejakula, Buleleng, mendirikan sebuah menara bambu. Menara itu diharapkan mengatasi kesenjangan akses sinyal internet di desa tersebut.

MENARA yang terbuat dari bambu itu menjulang tinggi. Ketinggiannya mencapai 20 meter. Menara tersebut didirikan di Bale Banjar Dinas Sembung, Desa Tembok. Lokasi itu sengaja dipilih karena Banjar Dinas Sembung merupakan salah satu wilayah dengan akses internet yang terbilang buruk.

Desa Tembok memiliki enam banjar dinas. Yakni Banjar Dinas Tembok, Ngis, Bulakan, Yeh Bau, Dapdap Tebel, dan Sembung. Saat ini di beberapa wilayah Banjar Dinas Sembung dan Ngis, akses internet merupakan kemewahan tersendiri bagi warga.

Salah seorang warga Sembung, I Ketut Gerhana mengakui hal tersebut. Pria yang bekerja sebagai pemandu wisata itu, telah mencoba berbagai jenis layanan selular. Namun tak ada sinyal yang memadai.

“Untuk telepon dan SMS bagus. Tapi untuk internet itu luar biasa. Harus cari tempat dulu biar dapat sinyal,” kata Gerhana.

Hal itu sangat memengaruhi pekerjaannya. Sebab ia acap kali menerima pesanan melalui layanan pesan singkat yang menggunakan internet. Entah itu WhatsApp (WA), Telegram, maupun Messenger. “Kalau ada internet kan lebih gampang. Karena komunikasi dengan orang luar (negeri) kan pakai internet. Jarang sekali lewat SMS,” ceritanya.

Pihak desa akhirnya berinisiatif memperluas akses internet. Caranya mendirikan menara telekomunikasi dari bambu. Material bambu dipilih karena biaya jauh lebih murah dengan daya tahan relatif panjang.

Menara itu diyakini mampu bertahan hingga 10 tahun. Pembangunan menara itu didukung sejumlah pihak, seperti Common Room, Institut Teknologi Bandung, dan Kedutaan Besar Inggris.

Teknisnya pemerintah desa berlangganan akses internet dengan kecepatan 100 Mbps. Akses utama dipasang di kantor desa. Sebanyak 20 Mbps diantaranya ditembakkan ke Banjar Dinas Sembung.

Di sana pemerintah desa mendirikan sebuah menara telekomunikasi dari bambu. Di menara itu terdapat sejumlah alat. Baik itu untuk menangkap sinyal maupun untuk memancarkan kembali akses internet ke wilayah sekitar.

Perbekel Tembok Dewa Komang Yudi mengungkapkan, kendala utama digitalisasi di desanya adalah ketersediaan infrastruktur dan jaringan internet. Dampaknya terjadi kesenjangan akses antara masyarakat pedesaan.

Di desa tersebut, masyarakat mudah saja memiliki gadget. “Tapi tidak semua bisa mengakses internet, karena tidak mampu beli paket data. Ada juga yang memang tidak terlayani jaringan internet. Makanya kami coba memperluas jaringan dan akses dulu,” kata Dewa Yudi.

Menurutnya untuk pembangunan menara tersebut menelan biaya relatif murah. Hanya Rp 15 juta saja. Mulai dari pengadaan bambu, ongkos pekerjaan, pembuatan pondasi, serta pembelian perangkat jaringan. Sementara untuk biaya langganan internet juga hanya sekitar Rp 15 juta setahun.

“Kami harap upaya ini bisa memperluas akses masyarakat terhadap internet. Karena kami punya visi melakukan percepatan layanan publik melalui layanan digital. Selain itu kalau ada internet kan perekonomian masyarakat bisa terdorong, minimal mereka bisa promosi barang dagangan lewat internet,” ujarnya. [eka prasetia/radar bali]

 

 

Desa Tembok di Kecamatan Tejakula, Buleleng, mendirikan sebuah menara bambu. Menara itu diharapkan mengatasi kesenjangan akses sinyal internet di desa tersebut.

MENARA yang terbuat dari bambu itu menjulang tinggi. Ketinggiannya mencapai 20 meter. Menara tersebut didirikan di Bale Banjar Dinas Sembung, Desa Tembok. Lokasi itu sengaja dipilih karena Banjar Dinas Sembung merupakan salah satu wilayah dengan akses internet yang terbilang buruk.

Desa Tembok memiliki enam banjar dinas. Yakni Banjar Dinas Tembok, Ngis, Bulakan, Yeh Bau, Dapdap Tebel, dan Sembung. Saat ini di beberapa wilayah Banjar Dinas Sembung dan Ngis, akses internet merupakan kemewahan tersendiri bagi warga.

Salah seorang warga Sembung, I Ketut Gerhana mengakui hal tersebut. Pria yang bekerja sebagai pemandu wisata itu, telah mencoba berbagai jenis layanan selular. Namun tak ada sinyal yang memadai.

“Untuk telepon dan SMS bagus. Tapi untuk internet itu luar biasa. Harus cari tempat dulu biar dapat sinyal,” kata Gerhana.

Hal itu sangat memengaruhi pekerjaannya. Sebab ia acap kali menerima pesanan melalui layanan pesan singkat yang menggunakan internet. Entah itu WhatsApp (WA), Telegram, maupun Messenger. “Kalau ada internet kan lebih gampang. Karena komunikasi dengan orang luar (negeri) kan pakai internet. Jarang sekali lewat SMS,” ceritanya.

Pihak desa akhirnya berinisiatif memperluas akses internet. Caranya mendirikan menara telekomunikasi dari bambu. Material bambu dipilih karena biaya jauh lebih murah dengan daya tahan relatif panjang.

Menara itu diyakini mampu bertahan hingga 10 tahun. Pembangunan menara itu didukung sejumlah pihak, seperti Common Room, Institut Teknologi Bandung, dan Kedutaan Besar Inggris.

Teknisnya pemerintah desa berlangganan akses internet dengan kecepatan 100 Mbps. Akses utama dipasang di kantor desa. Sebanyak 20 Mbps diantaranya ditembakkan ke Banjar Dinas Sembung.

Di sana pemerintah desa mendirikan sebuah menara telekomunikasi dari bambu. Di menara itu terdapat sejumlah alat. Baik itu untuk menangkap sinyal maupun untuk memancarkan kembali akses internet ke wilayah sekitar.

Perbekel Tembok Dewa Komang Yudi mengungkapkan, kendala utama digitalisasi di desanya adalah ketersediaan infrastruktur dan jaringan internet. Dampaknya terjadi kesenjangan akses antara masyarakat pedesaan.

Di desa tersebut, masyarakat mudah saja memiliki gadget. “Tapi tidak semua bisa mengakses internet, karena tidak mampu beli paket data. Ada juga yang memang tidak terlayani jaringan internet. Makanya kami coba memperluas jaringan dan akses dulu,” kata Dewa Yudi.

Menurutnya untuk pembangunan menara tersebut menelan biaya relatif murah. Hanya Rp 15 juta saja. Mulai dari pengadaan bambu, ongkos pekerjaan, pembuatan pondasi, serta pembelian perangkat jaringan. Sementara untuk biaya langganan internet juga hanya sekitar Rp 15 juta setahun.

“Kami harap upaya ini bisa memperluas akses masyarakat terhadap internet. Karena kami punya visi melakukan percepatan layanan publik melalui layanan digital. Selain itu kalau ada internet kan perekonomian masyarakat bisa terdorong, minimal mereka bisa promosi barang dagangan lewat internet,” ujarnya. [eka prasetia/radar bali]

 

 

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/